Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Hati Yang Kecewa


__ADS_3

Abbas berencana bertemu dengan keluarga Anna sore ini. Meskipun ia tahu Anna tidak ada di sana. Ingin lebih mengenal keluarga sang pujaan hati.


Rio lupa dengan rencananya yang akan memberi tahu Abbas kalau Darren sempat menanyakan sesuatu tentang Anna karena melihat foto di wallpaper laptop Abbas.


Lantai empat didepan ruangan ester 2, Abbas berada saat ini. Membawa paper bag yang berisi buah tangan menjadi sesuatu yang Abbas bawa untuk menjenguk Papa Reno saat ini.


Abbas datang sendiri tanpa Rio. Asisten Abbas itu memilih pergi ke lokasi pembangunan kantor yang akan segera terealisasikan pembangunannya.


Benar ini ruangannya. Tante Ami ada di dalam tidak ya?


Abbas merasa ragu saat ingin masuk ke dalam ruangan rawat Papa Reno.


Di depan pintu Abbas mendengar suara dua orang laki-laki sedang berbicara. Salah satu suara itu, tidak asing bagi Abbas.


"Seperti suara Pak Darren," tebak Abbas. Dan benar saat ia melihat pada kaca kecil yang ada di tengah-tengah pintu.


"Apa dia kenal dengan Papanya Anna? Mereka terlihat begitu akrab." Abbas ragu masuk ke dalam ruang perawatan itu.


"A-Abbas..." Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Abbas berbalik badan.


"Tante Ami," balas Abbas kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalaminya.


"Apa kabar, Tan?" tanya Abbas sopan.


"Kabar Tante baik! Kamu ko bisa di sini?" Tanya Tante Ami balik.


"Saya Ada kerjaan di sini, Tan. Seminggu ke depan saya akan berada di Surabaya. Oh ya, ini ada sesuati untuk Om dan Tante!" Abbas menyodorkan papar bag yang ia bawa kepada Tante Ami.


"Tidak perlu repot-repot begini, Nak Abbas!" ucap Mama Ami sungkan. "Mari masuk, mau ketemu sama papanya Anna juga 'kan?"


Abbas terlihat ragu. "Tapi di dalam ada orang Tante!"


"Oh.. Dia, Darren. Putra dari sahabat Papanya Anna. Tidak apa, mari masuk!" ajak Mama Ami.


Abbas mengangguk pelan.


Mama Ami membuka pintu lalu mempersilakan Abbas masuk.


"Silakan... Nak Abbas." Mama Ami mempersilakan Abbas masuk.


Abbas dengan sopan menghampiri Papa Reno yang tersenyum kearahnya.


Mama Ami pun mendekati suaminya yang duduk bersandar di atas brankar. posisi brankar tersebut di sesuaikan oleh Darren.

__ADS_1


Semakin hari keadaan Papa Reno semakin membaik. Tapi tidak kecil kemungkinan kalau jantungnya akan tiba-tiba drop kembali. Karena itu orang di sekitarnya begitu berhati-hati menjaga perasaannya, takut kalau Papa Reno merasa terkejut dan berakibat fatal pada jantungnya.


Melihat seseorang yang baru ia lihat datang menjenguk, Papa Reno hendak bangun dari sandarannya. Hendak menyambut kedatangan Abbas.


"Hati-hati, Om!" Darren yang berada di dekat Papa Reno bergerak cepat membantunya.


"Siapa, Mah?" tanya Papa Reno pelan kepada Mama Ami yang sudah berada di sisinya.


"Ini, Nak Abbas. teman Anna di Bogor, Pah! Kebetulan dia sedang ada kerjaan di Surabaya. Jadi mampir ke sini, jenguk Papa!" balas Mama Ami pelan dan suara yang lembut.


"Oh... Halo, Nak A-Abbas. Salam kenal, maaf... Om tidak kenal siapa saja teman lelaki Anna, Om hanya kenak dengan sahabatnya, Maira... Benar 'kan Mah, namanya Maira?" tanya Papa Reno kepada Mama Ami.


Mama Ami tersenyum seraya mengangguk. Terlihat rasa khawatir di raut wajah Mama Ami. Mama dari Anna itu takut kalau Abbas akan berbicara soal khitbahnya kepada Anna. Beliau juga bingung harus memberi Abbas bagaimana dengan kondisi suaminya saat ini.


Kedatangan Abbas begitu mendadak.


"Kenalkan Ini Darren, Nak Abbas!" Mama Ami memperkenalkan pria yang ada di samping Papa Reno.


Abbas dan Darren saling melempar senyum.


"Ternyata Surabaya sempit juga ya, Pak Darren." Abbas menatap Darren.


"Kalian saling kenal?" tanya Papa Reno penasaran.


"Dia adalah pengusaha muda sukses, Om! Dia akan membuka cabang perusahan pengiriman barang terkenal di sini," ungkap Darren membuka jati diri Abbas.


"Kalian bekerja sama?" tanya Papa Reno lagi.


"InsyaAllah, Om!" Abbas yang menjawab.


"Kamu kenal dengan putri Om sudah lama?" tanya Papa Reno kepada Abbas.


"Belum lama, Om. Baru setahun ini."


"Bagaimana anak itu di sana? Om takut putri Om, berbuat macam-macam di sana."


"Anna gadis yang baik. Om, tidak perlu khawatir. Kami sering bertemu di mesjid Az-Zikra sentul saat pengajian bulanan di sana. Dia juga anak yang supel dan pandai bergaul. Saya suka dengan cara dia berinteraksi dengan orang lain. Tidak membeda-bedakan status dan derajat seseorang."


Papa Reno tersenyum mendengar penuturan Abbas.


"Kamu dengar Darren, calon istrimu ada yang menyukai. makanya cepat cepat lamar dia. Sekarang kalian sudah satu agama. Om, tunggu kedatangan Abi mu!"


Deg

__ADS_1


Jantung Abbas seakan berhenti saat mendengar nama Anna di sebut sebagai calon istri Darren.


Darren pun sepertinya terkejut dengan ucapan Papa Reno yang mengungkapkan nya di hadapan Abbas.


"Calon istri?" tanya Abbas terbata.


Ia menatap Darren kalau berganti menatap Mama Ami.


Mama Ami hanya bisa tertunduk. Saat Abbas menatapnya, ingin rasanya memberi penjelasan, tapi ia tidak tahu harus bagaimana.


Darren tahu, reaksi yang di berikan Mama Ami.


"Darren..." panggil Papa Reno karena melihat Darren malah terdiam sambil memandangi Abbas dan Mama Ami.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau menerima perjodohan ini!"


"Nanti kita bicarakan lagi soal ini, Om! Om harus banyak istirahat. Bukankah Om Reno mau melihat Anna bahagia di hari pernikahannya?"


Papa Reno mengangguk pelan, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranya. Papa Reno sangat hapal betul dengan sikap istrinya. Sikap diam karena merasa bersalah terhadap sesuatu dengan tangan yang meremas ujung bajunya sendiri.


'Apa yang disembunyikan Ami dariku. Darren... Dia sepertinya tahu masalahnya. Dan siapa pemuda ini, kenapa tiba-tiba datang kemari!'


Papa Reno tiba-tiba memegangi dadanya yang terasa sesak.


Mama Ami sontak terkejut melihat Papa Reno. "Kenapa, Mas? Sebaiknya Mas istirahat, Tenangkan pikiran Mas."


"Nak Abbas tolong turunkan posisi sandarannya!" pinta Mama Ami kepada Abbas karena hanya dia yang paling dekat dengan brankar.


"Oh, ya, Tante. Abbas segera menurunkan sandaran itu."


"Cukup... Cukup...," ucap Papa Reno.


"Kalau begitu saya pamit pulang Tante! Om... lekas sembuh ya. Maaf sudah mengganggu waktu, Om." Abbas lekas meraih tangan yang masih terasa gemetar itu, kemudian menyalaminya dengan takzim berganti kepada Mama Ami.


"Pak Darren... Saya pulang dulu, Saya tunggu undangan resmi dari Anda dan Anna." ucap Abbas dengan senyum getir sambil menjabat tangan Abbas.


"Iya, Pak Abbas, pasti."


Akhirnya Abbas keluar dari ruangan itu dengan hati kecewa.


"Aku harus minta penjelasan dari Anna," gumam Abbas kemudian berjalan dengan hati yang malas kembali ke hotel dimana sedang menunggunya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2