Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Aset yang di jadikan jaminan


__ADS_3

Surabaya


"Apa sudah ada bukti untuk menyanggah tuduhan terhadapmu, Pah?" tanya Mama Ami seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja lalu duduk di hadapan meja kerja Papa Reno. Terlihat ekspresi dari Papa Reno yang serius dengan alis mengkerut sedang membolak-balik kan berkas, sorot matanya tajam, mengecek setiap detail berkas yang berada di tangannya.


Papa Reno menggeleng. "Belum ada. Sangat sulit untuk mendapatkan bukti-bukti. Padahal Papa yakin, selama proyek itu berjalan tak pernah mas mendapat berkas yang minta penandatanganan penambahan dana di setiap bulannya. Mas selalu membacanya setiap kali ada berkas yang harus di tanda tangani." Papa Reno menutup file yang sedari tadi di teliti nya. Ia menyerah karena bukti yang menyudutkannya begitu jelas terpampang di sana.


Terdapat beberapa tanda tangan miliknya di beberapa berkas yang mencatat persetujuan pengeluaran dana Milyaran Rupiah saat pembanguan gedung baru 40 lantai itu. Papa Reno pun tak mengerti kenapa bisa sampai seperti ini.


Pembangunan yang baru berjalan sekitar tiga bulan dan baru berdiri tidak lebih dari setengah proyek dari target yang di tentukan sudah mengalami kekacauan yang luar biasa.


Beberapa pekerja banyak yang mengeluhkan tentang pekerjaan yang tak sesuai keselamatan para pekerja dan bahan bangunan tak sesuai dengan kriteria bahan baku terbaik. Jam kerja yang terlalu di tekankan tidak sebanding dengan jam istirahat dan upah yang selalu telat saat waktu pembayaran.


Semua perintah untuk menerima para pekerja dan pemasok bahan bangunan di setujui atas petunjuk Papa Reno, dia adalah pelaksana proyek dan penanggung jawab.


"Besok anak kita masuk ke sidang akhir, tiga hari setelahnya lanjut ke wisuda! apa kita akan menghadiri acara itu? Anna sangat menanti kehadiran kita di sana, Pah!" tanya Mama Ami pelan takut membuat Papa Reno semakin kepikiran.


"Kamu pergilah dulu ke sana, nanti Mas menyusul. seberat apapun masalah kita, Anna harus mendapat kebahagiaan saat kelulusannya nanti" ucap Papa Reno sendu seraya memijat kening, merasa pusing harus berbuat apa. Di saat sulit seperti ini. Tapi kebahagiaan putrinya harus diutamakan terlebih dulu.


"Baiklah, apa tak masalah jika Mama pergi lebih dulu?"


Papa Reno mengangguk pelan. "Doakan saja, Papa bisa menyelesaikan Masalah ini." ucap Papa Reno, di raihnya secangkir kopi lalu di minum perlahan seakan meredakan rasa pusing karena hisapan kopi manis yang di buatkan Mama Ami.


Mereka berdua saling bertukar solusi di ruang kerja Papa Reno, sudah menjadi kebiasaan mereka memecahkan masalah bersama. saling berbagi dan saling memberi dukungan kepada pasangannya menjadi kebiasaan Papa Reno dan Mama Ami.


Waktu yang di berikan oleh perusahaan kepadanya tinggal beberapa hari lagi, Papa Reno di beri kelonggaran waktu untuk masalah ini.


Bukan tanpa sebab, Karena pengabdiannya kepada perusahaan sudah lebih dari dua puluh tahun dan kedekatannya dengan pemimpin perusahaan sudah tak di ragukan lagi.


Terlebih Pak Bagaskara sang pemimpin perusahaan itu adalah sahabat baik Papa Reno, jadi ia lebih kenal dan paham betul sepak terjang dan cara kerja yang di lakukan Papa Reno. Tidak mungkin beliau melakukan cara kotor untuk mendapat keuntungan sendiri. Karena banyak bukti yang mengarah kepadanya, Pak Bagaskara tak bisa melindunginya, banyak para direksi perusahaan yang menuntut Papa reno untuk bertanggung jawab atas kejadian ini.

__ADS_1


Pak Bagaskara hanya memberi waktu kepada Papa Reno untuk membuktikan nya dan harus menyertakan jaminan agar bisa mengganti kerugian yang ada, semua mengikuti prosedur perusahaan.


Pak Bagaskara tidak bisa mengambil keputusan sendiri dalam hal ini, rapat direksi yang di pimpinnya waktu itu memutuskan bahwa kasus yang di alami Papa Reno harus di lakukan tetap di jalankan.


Rumah mewah dan Aset yang dimiliki Papa Reno dan Mama Ami di jadikan jaminan oleh Papa Reno untuk mengganti kerugian perusahaan akibat kecerobohan yang tidak di lakukan nya.


Waktu terus berlalu, tak terasa pencarian solusi akan masalah yang di hadapi oleh pasangan yang sudah tak muda lagi itu berlalu selama beberapa jam.


Mama Ami masih sulit mengikhlaskan jika rumah yang selama ini di tempati dan mempunyai banyak kenangan untuknya harus di jadikan jaminan kepada perusahaan. Beberapa aset pribadi pun ikut dijaminkan nya, itu pun tak bisa menutupi semua kekurangannya. Hanya butik yang baru di didirikan Mama Ami tak ikut menjadi jaminan.


"Jadi hanya butik yang tak di masukan ke dalam jaminan itu, Mas." tanya Mama Ami saat Papa Reno melihat daftar aset yang di jadikan jaminan.


"Iya, butik itu baru berdiri beberapa bulan ini, jadi nilai jualnya masih rendah untuk kita jual." Papa Reno menjelaskan seraya berdiri menghampiri Mama Ami yang terlihat sedih memikirkan semua masalah ini dirangkulnya tubuh Mama Ami dari belakang dan di usapnya pelan pipi mulus yang mulai menua itu.


"Siapa yang begitu tega berbuat ini kepada kamu Pah? menuduh mu sampai sejauh ini." Mama Ami memejamkan matanya saat tangan kekar itu menyentuh pipinya memberikan ketenangan pada hati dan pikiran yang sedang sedih. Tak terasa butiran air mata jatuh membasahi pipi.


Papa Reno bisa merasakan betapa sedihnya istirnya menghadapi masalah yang menimpanya. Ia hanya meyakinkan dan berkata jujur kepadanya bukan dia yang melakukan semua ini.


"Kenapa Pak Bagaskara tidak mencabut tuntutan perusahan nya, Pah?Beliau kan pemimpin di sana. pastinya, semua keputusan berasal dari tangannya 'kan?" tanya Mama Ami, beliau melepas tangan yang masih menempel di pipi nya, ia mendongak ke arah Papa Reno yang berada di belakangnya.


"hah" helaan nafas itu terdengar lirih. Papa Reno duduk di bangku berhadapan dengan Mama Ami seraya memegang kedua tangannya.


"Tidak bisa semudah itu, Mah? Papa sudah bilang itu keputusan semua direksi perusahaan tidak bisa di rubah lagi. kita terima saja kita pasrahkan semua pada sang pemilik kehidupan. Jika kita berkata jujur dan tak salah dalam bertindak, yakinlah kebenaran akan menang meski kita harus berkorban terlebih dulu. Kita harus bersabar" Papa Reno menenangkan Mama Ami.


Mama Ami memejamkan matanya seraya mengangguk pelan. Mencoba menenangkan diri dan berpasrah. Mengingat perkataan suaminya itu sama persis dengan nasihat yang di berikan Om Anwar waktu itu.


Mama Ami menggenggam erat tangan kedua tangan yang menyentuhnya.


"Aku akan selalu mendampingi kamu, Pah! apapun yang terjadi. kita sama-sama hadapi ini." Mama Ami memberi semangat kepada Papa Reno.

__ADS_1


"Terima kasih, Mah. Kamu dan Anna adalah penyemangat ku. Percayalah, Papa tidak pernah melakukan hal sekotor itu. kepercayaan mu sudah menjadi penguat untuk Papa dalam menghadapi masalah ini. Sekarang istirahat lah! besok Parmin yang akan mengantarmu ke Bogor. Papa akan menyusul kali sebelum hari wisuda itu tiba." Papa reno mengangkat tangan Mama Ami yang di genggamnya lalu memberi kecupan di sana.


"Sekarang kita istirahat dulu, sudah malam, Papa juga harus ke kantor Darren. Dia bilang ada celah untuk mencari tahu kelicikan seseorang di perusahan ayahnya." Papa Reno merangkul Mama Ami untuk berdiri mengajaknya pindah ke Kamar untuk beristirahat.


"Darren sudah mendapatkan bukti, Pah?" tanya Mama Ami penasaran.


"Belum, ini hanya salah satu cara agar kita bisa mendapatkan bukti-bukti yang bisa membantu Papa."


"Semoga bisa ketemu siapa dalang dari semua ini ya, Pah!" Mama Ami melangkah bersama Papa Reno meninggalkan ruang kerjanya.


"Aamiin, semoga saja! Darren anak yang baik dan bertanggung jawab terlihat sangat tulus dalam membantu Papa. Dia juga sangat taat kepada agamanya sama seperti ayahnya Pak Bagaskara" ucap Papa Reno saat mereka berdua berjalan menuju kamar untuk beristirahat.


.


.


.


.


**


Hayoo ada yang penasaran enggak siapa itu Darren?


Mohon maaf beberapa hari ini tak bisa rutin up.


Terima kasih untuk kalian yang masih bertahan di karya ini.


dukung karyaku dan ikuti terus kisahnya ya.

__ADS_1


like komen dan kasih rating bintang.


Salam hangat dari ku "Mayya_zha**"


__ADS_2