
Abbas segera menghubungi Tante Melly, menghubunginya bahwa Anna harus mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kondisi yang begitu lemah mengharuskannya menjalani rawat inap apalagi saat ini kondisi Anna yang sedang hamil muda.
Abbas meminta tolong pada wanita itu agar mau menemani Anna sebentar. Ia hendak pergi keluar mencari buah apel puji sesuai keinginan Anna.
“Tante akan segera ke sana, Bas! Di lantai berapa?” tanya Tante Melly pada Abbas dari seberang telepon.
“Lantai dua ruangan Ruby, Tante,” Jawab Abbas sambil melirik Anna yang tengah beristirahat. Senyumnya terus mengembang saat mendengar penjelasan dokter Rahma tadi.
Anugerah terindah setelah lelah dan batin tersiksa. Rumah tangga mereka akan lengkap dengan hadirnya seorang bayi. Kabar yang begitu menggembirakan untuk Abbas.
“Suami Tante masih ada yang di bicarakan dengan ayahnya Riska, Tante akan segera kesana!”
“Maaf sudah merepotkan, Tante. Anna minta di belikan sesuatu tapi aku khawatir tidak ada yang menemaninya. Ibu masih dalam masih dalam perjalanan kemari,” ujar Abbas.
“Jangan bicara seperti itu, ini sama sekali tidak merepotkan buatku, Tante justru sangat senang dengan berita ini. Apa kamu sudah memberitahu mertuamu?”
“Belum, Tan.”
“Ya sudah biar Tante yang memberitahu kabar bahagia ini kepada mereka.”
“Terima kasih, Tan!” lanjut Abbas.
Sambungan telepon pun terputus. Tante Melly kembali mendekati suaminya.
Saat ini Tante Melly dan Om Anwar masih berada di rumah sakit. Mereka masih membahas kelanjutan perawatan dan pengobatan Riska.
Om Anwar akan bertanggung jawab mengenai semua biaya perawatan dan pengobatan untuk Riska.
Awalnya ada penolakan dari Rio, karena saat ini dia telah menjadi suami gadis itu. Tapi, Om Anwar tetap akan bertanggung jawab. Rio pun hanya bisa mengikuti.
Dan keputusan yang di ambil oleh kedua belah pihak adalah sesuai yang Om Anwar ajukan. Semua biaya akan ditanggungnya.
Tante Melly juga memberitahu kabar kehamilan Anna pada Riska dan Rio.
Mereka ikut senang mendengarnya. Di balik semua masalah yang dilalui. Anna mendapatkan hadiah terindah dari buah kesabaran dan keikhlasannya. Pantas saja beberapa hari ini Anna merasakan ada perubahan pada dirinya.
Anna dan Abbas yang belum lama menjalani biduk rumah tangga masih belum mengerti soal ini. Jadi wajar saja jika Anna tidak tahu kalau selama beberapa hari ini yang ia alami adalah gejala awal kehamilan.
***
“Tante udah feeling banget kalau kamu hamil,” ujar Tante Melly sambil mengupaskan kulit buah apel puji untuk Anna kemudian memotongnya menjadi potongan kecil agar Anna lebih mudah untuk memakannya.
“Makasih, Tan! Maaf kalau Anna merepotkan Tante dan Om!” ujar Anna sambil perlahan memasukkan buah itu ke dalam mulutnya. Hanya beberapa potongan buah saja yang di makan Anna selebihnya potongan buah itu malah Abbas yang lahap memakannya.
Tante Melly tersenyum melihat Abbas yang duduk di sisi Anna.
“Kata Abbas akhir-akhir ini selera makanmu menurun?” tanya Tante Melly sambil mengupas buah apel yang ketiga.
__ADS_1
Anna hanya mengangguk pelan membalasnya.
Tante Melly pun tersenyum hangat. “Sabar, ya, Sayang! Kehamilan awal memang seperti itu. Tapi kamu sebagai calon ibu saat ini harus berusaha memberi asupan yang bagiku untuk calon bayi kalian. Tante paham masalah kemarin pasti menguras pikiran dan tenaga kamu. Sampai kalian tidak menyadari kehadiran buah hati kalian.” Tante Melly kembali memberikan potongan buah apel itu kepada Anna.
“Anna kenyang, Tan!” tolaknya halus.
“Kenyang apa, orang kamu makan baru beberapa potongan saja, yang menghabiskan suamimu!” sindir Tante Melly sontak membuat Abbas langsung menghentikan gerakan mengunyahnya.
Abbas menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa malu dengan sindiran Tante Melly.
“Mubazir, Tan. Kalau tidak di makan,” elak Abbas.
“Perhatian asupan makan istrimu, Bas! Paksa dia kalau susah makan. Kalau masih sesat bawa saja ke dokter biar di suntik!” ancam Tante Melly dan Abbas tersenyum sambil memandang Anna.
Ia ingat kejadian tadi. Istrinya terlihat ketakutan Saat Dokter Rahma akan melakukan USG kepadanya.
Anna hanya bisa mengerucutkan bibir.
“Mama dan Papamu akan terbang ke Jakarta besok pagi, An,” ucap Om Anwar yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan.
“Beneran, Mas?” Tante Melly meyakinkan.
Om Anwar mengangguk pelan.
“Mereka berangkat bersama keluarga Darren. Pemuda yang hampir menjadi suamimu itu akan bertemu dengan wanita yang akan berta'aruf dengannya.”
Om Anwar kembali mengangguk menjawab pertanyaan Anna.
“Calonnya siapa Om?” Anna kembali bertanya penasaran siapa wanita yang berhasil menarik perhatian Darren.
“Entahlah, yang Om tahu, wanita itu tinggal di daerah Bogor.”
Anna menatap suaminya. “Mas Darren sama Abi Bagas bisa tinggal di rumah kita, Bang! Dari Cibubur ke Bogor ‘kan tidak jauh,” usul Anna.
“Abang akan menghubungi Papa nanti, kamu tenang saja!” Abbas menyentuh pipi Anna kemudian mengusapnya pelan.
Anna membalas dengan senyuman. Wajahnya tidak sepucat tadi.
"Apa aku bisa pulang cepat, Bang!"
"Kamu belum sembuh betul, Dek!"
"Tapi Papa sama mama 'kan mau ke sini."
"Pulihkan dulu kondisimu, Nak! Ibu yang akan menyambut mereka nanti!" ucapan seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan membuat semua menatap kepadanya.
"Ibu!" Anna terlihat senang melihat kedatangan Bu Lidia.
__ADS_1
Menjelang magrib Tante Mely dan Om Anwar pamit pulang karena sudah ada Bu Lidia di sana, jadi Anna tidak sendiri.
Abbas akan kembali ke kantor setelah magrib. Ia akan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Tidak mungkin Abbas memerintah Rio yang baru saja menjadi pengantin dadakan hari ini.
“Kami pamit pulang, Bu!” ucap Tante Melly dan di sambut hangat oleh Bu Lidia padahal ibu dari Abbas baru belum lama sampai.
“Iya, Bu. Besok kami kesini lagi bersama kedatangan orang tua Anna.” tiap Om Anwar yang berjalan mendekati keponakannya. "Om, pulang dulu, ya! Jaga kesehatanmu!"
"Iya, Om. makasih. Maaf, Anna selalu merepotkan Om dan Tante."
"Sama-sama, Sayang! Jangan pikirkan itu. Mamamu benar-benar ingin bertemu denganmu! Masalah yang kamu hadapi kemarin mungkin terasa olehnya. Tadi mamamu menanyakan hal itu kepada Om."
"Mama memang sudah tahu, Om. Tapi Papa belum!" Anna langsung terdiam.
"Jangan sedihnya sekarang waktunya bahagia. Masalah kalian sudah terlewati saat ini lebih membahagiakan dengan kehamilan kamu," Tante Melly ikut nimbrung.
“Ya, mereka begitu senang mendengar kabar kehamilan Anna," sahut Om Anwar.
Bu Lidia tersenyum mendengarnya.
“Pasti, Mereka pasti senang sama sepertiku. Ini adalah cucu pertama dari kami.” Bu Lidia menatap Anna sambil mengelus pelan tangan wanita itu.
“Ya betul sekali, Bu! Kalau begitu kami tidak bisa berlama-lama lagi. Kami harus segera pulang,” pamit Tante Melly kepada Bu Lidia sambil mencium pipi kiri dan kanan wanita itu. Kemudian beralih menatap Anna.
“Tante sama Om, pulang dulu ya, An! Jaga kesehatan mu! Ingat ada cucu Tante di dalam perut kamu, jaga baik-baik! Ok!” Tante Melly memberi ultimatum.
Anna hanya bisa mengangguk sambil melirik ke arah Abbas, suaminya.
“Aku akan jaga dia, Tan! Tante tenang saja,” Abbas yang menjawab dengan yakin.
"Awas kalau kamu buat sesuatu yang buat keponakan Tante banyak berpikir," ancam Tante Melly pada Abbas sambil menunjuknya dengan jari telunjuk.
"Siap, Tan! Tidak akan pernah! Janji!" Abbas lekas berdiri tegak dan hormat pada Tante Melly. Melihat tingkah Abbas membuat semua yang ada di sana tersenyum.
bersambung.
Mampir ke cerita temanku yuk. ini blur bnya
Putri seorang gadis cantik, sangat pintar dan dari keluarga kaya raya di tambah mempunyai seorang tunangan yang sangat tampan dan juga kaya raya.
Orang mengira hidupnya sangat sempurna namun di balik itu semua ternyata Putri tidak bahagia karena sahabat baiknya mengkhianati dirinya dengan cara berselingkuh dengan tunangannya.
Rasa kecewa teramat sangat membuat Putri tidak percaya dengan yang namanya cinta dan membenci semua pria.
Adakah pria yang bisa mengobati luka hati Putri dan menjadikan Putri sebagai istrinya? Ikuti Yuk novelku yang ke - 31.
Mampir yak..
__ADS_1