Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Mencurahkan Rasa Rindu


__ADS_3

Anna merasa tidurnya malam ini terasa hangat. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada guling yang tadi ia peluk.


Entah mengapa di alam bawah sadarnya Anna merasa yang ia peluk adalah Abbas, suaminya.


“Abang, Anna kangen!” Anna mengigau dalam tidurnya.


Aroma maskulin yang sangat ia rindukan seakan berada di ujung hidung. Anna tersadar dari tidurnya. Tapi matanya masih terpejam, enggan kelopak mata itu untuk terbuka.


“Kenapa wangi tubuh Bang Abbas tercium banget?” gumam Anna masih dengan mata terpejam lalu ia menghirup aroma maskulin pelan dan dalam.


Perlahan kelopak mata itu terbuka. Penglihatannya masih belum sempurna tapi sosok wajah tampan dengan rahang tegas itu samar terlihat olehnya.


“Ya ampun, kenapa guling ini mirip banget sama wajah Bang Abbas.” Anna menyipitkan matanya untuk mempertegas penglihatannya. “Ah... Mungkin karena aku terlalu rindu sama Abang!” Anna tersenyum sendiri kemudian kembali memejamkan matanya.


Anna memilih tidur kembali sembari mengeratkan pelukannya.


‘Kenapa guling ini rasanya berbeda ya?’


Batin Anna. Ia merasa ada yang berbeda. Tubuhnya serasa ada yang memeluk sontak membuat Anna langsung membuka mata. Ia takut ada orang lain masuk ke dalam kamarnya.


“Abang!” pekik Anna sambil membulatkan mata.


Wajah tampan dengan rahang tegas itu melemparkan senyumnya kepada Anna yang terkejut dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba.


“Sejak kapan Bang Abbas ada di sini? Bukannya ada di Jakarta?” tanya Anna sembari melihat waktu pada jam yang menempel di dinding kamarnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.


“Sejak kamu mengigau kangen sama Abang!” Abbas mengerlingkan matanya ke arah Anna.

__ADS_1


“Berarti Bang Abbas dengar ocehan aku tadi?”


Abbas mengangguk pelan sambil tersenyum menggoda Anna.


“Kangen banget ya sama Abang?”


“Enggak!” elak Anna membuang pandangan ke lain arah.


“Beneran gak kangen?” goda Abbas membuat wajah Anna merona karena malu dan mendapat celengan kepala dari Annam. “Kalau gak kangen, mending Abang balik lagi ke Jakarta. Padahal setelah kamu tertidur sambil video call tadi, Abang susah payah ngejar waktu penerbangan. Agar segera sampai sini dengan cepat.” Abbas hendak berdiri tapi dengan cepat Anna menarik Abbas dalam pelukannya.


“Abang.... Ih, jangan tanya gitu, Anna ‘kan malu! Anna tuh kangen banget sama Abang!” Anna makin mengeratkan pelukan kemudian menyembunyikan wajah meronanya di dada bidang Abbas.


Abbas tersenyum melihat tingkah malu Anna. Ia pun menyambutnya dengan pelukan erat dan hangat. Melampiaskan rasa rindu yang seminggu ini mereka rasakan.


“Kamu tahu dek, Abang bisa menahan rasa sakit, sesakit apapun luka yang dirasakan. Tapi Abang tidak bisa menahan rasa rindu ini, Abang gak sanggup jika harus berpisah lama dengan kamu, Dek!” ucap Abbas disela pelukannya.


Anna mendongak menatap Abbas. Pria yang saat ini ada di hadapannya itu selalu mampu membuat hati Anna menghangat di setiap ucapannya.


Seulas senyum Anna berikan. Membuat Abbas tidak bisa lagi menahan rasa rindu yang sudah menggelora ketika melihat istrinya itu.


Abbas menarik kedua tangan Anna di atas kepala istrinya, menguncinya dengan tangannya sendiri. Abbas langsung menyambar bibir yang sedari tadi mengganggu hati dan pikirannya.


Bahkan Abbas rela berlomba dengan waktu saat menuju bandara agar ia tepat waktu sampai di sana.


Malam ini perjuangan Abbas yang melelahkan berujung manis. Kerinduan yang seminggu ini ia tahan dapat terobati.


Abbas bermain kendali atas istrinya. Sentuhan yang Abbas berikan mampu membawa mereka berdua terbang ke nirwana kenikmatan. Terus bermain nikmat dalam mencurahkan rasa rindu. Hingga pelepasan nikmat dirasakan oleh keduanya.


Abbas mengusap kening Anna yang dipenuhi keringat akibat olahraga malamnya bersama Abbas. Tak lupa ciuman hangat Abbas daratkan usai pertempuran mereka. Anna tertidur kembali dalam pelukan hangat Abbas melewati sisa malam untuk menyambut esok pagi yang indah.

__ADS_1


Pagi ini Bik Imah juga merasa terkejut dengan kehadiran Abbas di halaman belakang. Tapi tidak dengan Pak Joko, sebab beliau ‘lah yang membukakan pintu gerbang untuk Abbas.


“Loh, Kapan Den Abbas datang? Perasaan semalam belum ada!” ucap Bik Imah yang terlihat bingung.


“Saya sampai tengah malam, Bik! Pak Joko tahu, kok!” jawab Abbas sopan.


“Pantesan Neng Anna nggak ikut jama'ah di muslim tadi subuh Ternyata ada Den Abbas,” ujar Bik Imah.


Tak lama Anna datang dari arah dapur dengan sebuah nampan yang berisi secangkir kopi susu di dalamnya.


“Ini kopi buat Abang, Anna kembali ke dapur dulu ya, mau buatin Abang sarapan!”


Abbas mengangguk pelan.


Saat Anna melangkah masuk ke dalam rumah ia berpapasaan dengan Papa Reno.


Anna memberi tahu kalau Abbas datang tadi malam agar Papa Reno tidak terlalu terkejut. Setelah iti Anna kembali ke dapur untuk membuat sarapan.


Papa Reno berjalan pelan ke arah Abbas. Keduanya berbincang santai pagi ini. Abbas pun dengan pelan dan hati-hati mengajak Papa Reno dan Mama Ami untuk ke Jakarta sebab rencana resepsi pernikahannya dengan Anna sudah selesai di persiapkan tinggal menunggu kedatangan Anna dan keluarga saja.


“Apa tidak merepotkan keluargamu, Nak! Tanya Papa Reno kepada Abbas.


“Ini sudah kewajibanku, Pah! Aku ingin memberikan pesta kepada Anna.


Papa Reno mengangguk pelan. Ia juga mengharapkan itu. Anna adalah anak satu-sarunya. Papa Reno ingin melihat Anna jadi ratu sehari, seperti ucapannya dulu.


.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya...😘😘😘


__ADS_2