
"Maaf, saya permisi sebentar." Abbas menunjukkan ponselnya memberi isyarat kepada Darren dan Rio kalau dia akan mengangkat telepon.
"Silakan." Darren memepersilakan Abbas untuk beranjak dari tempat duduknya.
Pamitnya Abbas dari obrolan membuat kesempatan untuk Darren. Ia ingin bertanya kepada Rio, apa hubungannya Abbas dengan wanita yang ada di wallpaper yang ada di laptop milik Abbas.
Dengan basa basi Dareen meminta Rio mengirimkan salinan copy-an berkas agar di kirim melalui email miliknya. Sebagai simpanan bukti agar ia bisa membawa berkas tersebut tanpa harus membawa berkas aslinya.
"Oh, ya bisa Pak Darren. Sebentar saya ada salinannya di laptop Pak Abbas," ucap Rio meraih laptop dan memperlihatkan salinan berkas kepada Darren.
Rio membuka salinan berkas yang berada di laptop Abbas. kemudian memperlihatkan nya kepada Darren. Setelah itu, semua berkas ia kirim ke alamat email milik pengacara muda itu.
"Semua berkas sudah terkirim. Pak Darren bisa cek email masuk dari saya," ucap Rio sambil memperlihatkan bukti pesan terkirimnya.
"Ya, terima kasih. Tunggu!" cegah Darren saat Rio hendak menarik laptop yang mengarah kepada Darren.
"Kenapa, Pak Darren? apa ada yang kurang?"
"Tidak, tapi saya sepertinya kenal dengan wanita yang ada di foto itu," tutur Darren sambil menelisik layar laptop milik Abbas.
"Oh, dia pacar... Bukan, deh! Calon istri... Bukan juga! Apa ya yang lebih pantas?" Rio terlihat bingung.
Darren mengerutkan alis mendengar ucapan Rio yang tidak bisa menjelaskan apa yang ingin Darren ketahui.
"Maaf, saya juga bingung menjelaskannya. Mereka saling mencintai tapi tidak sedang ada hubungan pacaran. Pak Abbas sudah mengucapkan khitbah pada gadis itu, tapi belum di jawab. Makanya Pak Abbas ke Surabaya secara mendadak, ia ingin berbicara dengan kedua orang tua gadis itu. Tapi yang saya dengar orang tua Anna sedang ada masalah," ucap Rio menjelaskan.
Darren yang bisa menangkap penjelasan dari Rio mencerna setiap ucapannya. Darren menyimpulkan kalau Anna mempunyai perasaan kepada Abbas. Dan ucapan Anna yang meminta waktu kepadanya agar menunda lamaran , itu adalah cara Anna agar mengakhiri masalahnya dengan Abbas.
Kini, Darren tahu kalau hati Anna sudah ada yang memiliki. Egois kah jika Darren menginginkan Anna untuk menjadi istrinya.
Sampai ia menunda pengajuan CV ta'aruf miliknya.
Darren sempat mengajukan CV ta'aruf kepada guru ngaji nya di pesantren. Karena memang Darren tidak ingin salah dalam memilih pasangan. Tapi ketika Om Reno sahabat dari Abi nya meminta perjodohanya dengan Anna. Pikirannya berubah. Darren memang menyukai Anna dari kecil. Sayangnya Darren hanya bisa memendam perasaannya. Karena Darren sangatlah tidak mungkin untuk melanjutkan perasaannya karena perbedaan keyakinan antara mereka.
Ketika tahu Anna berpindah keyakinan dari Om Reno, ada rasa syukur dalam hati Darren. Ia akan terus melangitkan nama Anna dalam doanya, jika memang mereka berjodoh. Yang maha Kuasa pasti akan memberi jalan.
"Apa Pak Darren mengenal gadis ini?" tanya Rio.
__ADS_1
"Ya, saya kenal dia. Begitu juga keluarganya." akunya. Darren menjawabnya dengan jujur.
"Wah, Pak Abbas bisa meminta bantuan kepada Anda kalau begitu?" tanya Rio.
"Bantuan apa?" Darren balik bertanya.
"Nanti saya bicarakan dengan Pak Abbas dulu."
Di ruangan lain. Abbas menerima panggilan dari Bu Lidia.
"Assalamu'alaikum, Bu." sapa Abbas kepada Bu Lidia di seberang telepon.
"Waalaikumsalam, Bang." jawab Bu Lidia. "Bang, kamu sudah bertemu Anna?" Bu Lidia langsung bertanya setelah menjawab salam.
"Belum bisa, Abbas masih ada janji temu sama pengacara yang mengurus surat-surat tanah dan surat ijin mendirikan bangunan."
"Kamu tidak akan bertemu dia, Bang! Anna barusan dari sini," ucap Bu Lidia membuat Abbas mengerutkan keningnya. Seakan tidak percaya ucapan Bu Lidia.
"Yang benar, Bu!"
Abbas terdiam sesaat. Ia juga bingung harus bagaimana. Rencananya menyusul ke Surabaya supaya bertemu dengan Anna. Tapi orang yang di tuju malah tidak ada di tempat.
"Abbas akan tetap ingin bertemu papa nya Anna, Bu! Setidaknya untuk bersilaturahmi lebih dulu." Abbas mulai bimbang.
Apa dia harus mengkhitbah Anna tanpa kehadiran orang yang di maksud. Abbas jadi bingung sendiri.
"Bu, sudah dulu ya! Abbas sedang ada pertemuan. Nanti Abbas telepon balik."
"Iya, Bang! Jangan lupa kasih kabar ke Ibu, atau kamu hubungi Anna tanyakan keberadaannya." titah Bu Lidia dan mendapat anggukan dari Abbas meskipun Bu Lidia tidak melihat jawaban anggukan Abbas. "Hati-hati di sana, Bang! Jangan lupa solat dan meminta yang terbaik sama Sang Pencipta kehidupan kita. Pasrahkan semua kepada -Nya. Jangan sampai kita terlalu berambisi dengan keinginan kita hingga lupa Maha Pengatur Kehidupan." Bu Linda masih memberi nasihat.
"Iya, Bu. Terima kasih. Abbas tutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam,"
Ababs tertawa sendiri mendengar penuturan Bu Lidia. Kalau Anna berada di Bogor.
"Benar kata Rio, cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh." Abbas merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
Abbas ingin langsung menghubungi Anna. Tapi ia yakin, waktu yang di perlukan tidak cukup sedikit untuk berbincang dengannya. Karena seperti biasa saat melakukan sambungan telepon dengan Anna. Abbas menghabiskan beberapa jam. Berbicara panjang lebar, bercerita bahkan mengungkapkan kebiasaan buruk masing-masing.
Pria itu menunda untuk menghubungi Anna. Rasanya tidak enak hati pada tamu bisnisnya. "Pak Darren pasti menunggu." Abbas segera melangkahkan kakinya cepat menuju tempat Rio dan Dareen menunggunya.
"Maaf membuat Pak Darren menunggu lama. Saya tidak bisa membiarkan orang tua saya menunggu jawaban telepon dari saya," Abbas kembali duduk di tempatnya semula.
"Saya salut sama Pak Abbas, memuliakan orang tua sangatlah mulia dari apapun."
"Ya, karena berkat doa dari dia lah semua yang saya kerjakan menjadi berkah dan di mudahkan."
"Beruntung sekali, istri anda nantinya. Anda belum menikah 'kan Pak Abbas."
Abbas tersenyum lalu menggeleng pelan."InsyaAllah sebentar lagi, jika khitbah saya pada seorang wanita terima. Doakan saya Pak Darren agar cinta kami rasakn bisa menuju kehalalan dalam ridho- Nya." Abbas menatap Darren dengan penuh kepercayaan diri.
"Jangan terlalu berharap pada keinginan kita, Pak Abbas. Jangan terlalu berambisi. Belum tentu apa yang kita inginkan mendapat restu dan kemudahan oleh Sang Pemilik Hati dan Kehidupan."
Abbas langsung mengerutkan alisnya. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Darren.
"Maksud saya kita tidak bisa mendahului kehendak yang sudah ditetapkan oleh Allah. Saya doaka semoga apa yang Anda harapkan berjalan baik."
"Tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus melangitkannya dalam do'a. Saat hati ini hampir menyerah karena saya tau perasaan ini takkan berlanjut karena perbedaan kami. Tapi saya terus berharap dan melangitkan namanya dalam doa saya. Saat dia berhijrah, perasaan yang sama yang kami rasakan semakin tumbuh dan meyakinkan saya untuk segera menghalalkan nya karena saya tau keinginannya sama dengan harapan saya. Tapi jika Allah berkehendak lain, saya pun tidak bisa egois. Pasrah dan terus berdoa itu yang selalu Ibu sarankan kepada saya."
Darren mengangguk setuju. Ia semakin kagum dengan Abbas. Ternyata rival nya untuk mendapatkan Anna bukanlah orang sembarangan dalam ilmu agama.
"Apakah aku harus bersaing dengannya. Doa kita akan berperang di langit, Pak Abbas. Dan siapa yang akan menang nantinya." ucap Darren dalam hati.
Rio tak berkedip mendengarkan penuturan kedua orang yang saling berhadapan di depannya.
.
.
.
.
Baca terus kelanjutannya ya.
__ADS_1