
Hatinya begitu senang saat mendengar orang yang sedari tadi mengganggu hati dan pikirannya telah menghubunginya.
Sesampainya di kamar Anna langsung meraih ponsel yang ia letakkan dia tas nakas.
Matanya melongo melihat puluhan panggilan dari suaminya.
Segera Anna memencet tombol hijau saat nama Zawji ku muncul di layar ponsel.
Tak butuh waktu lama panggilan tersambung.
“Assalamu’alaikum, Bang!” Sapa Anna dari seberang telepon.
“Waalaikumsalam, Dek! Ke mana saja kenapa baru diangkat teleponnya?” tanya Abbas basa basi memulai obrolannya.
“Kayaknya gak usah aku kasih tau, Mama pasti sudah bilang 'kan?” celetuk Anna.
Kekehan kecil Abbas terdengar oleh Anna.
“Maaf, Dek! Tadi pas kamu telepon, Abang lagi di rumah sakit untuk menandatangani pertanggung jawaban atas semua biaya operasi Riska, ponsel Abang di silent. Setelah itu, Abang harus ke rumahnya. Sebab Abang dengar Riska tidak mau di operasi. Sehingga jadwal operasi harus diundur satu bulan lagi. Pihak rumah sakit tidak bisa menunggu lama karena jika terlewat lagi donor mata yang sudah disiapkan akan dilimpahkan kepada orang lain.” Abbas menjelaskan dengan rinci hingga suara suaminya itu terdengar lesu.
“Apa yang membuat Riska tidak mah di operasi?” tanya Anna membuat Abbas terdiam.
Tidak mungkin ia menceritakan keinginan Riska kepada istrinya itu.
“Bang!” panggil Anna ketika tidak ada balasan dari seberang telepon.
“Itu bukan hal penting. Bagaimana pengembalian semua berkas-berkas hak milik Papa, apa sudah selesai?” Abbas bertanya balik mengalihkan pertanyaan Anna yang belum sempat di jawab olehnya.
“Sudah selesai! Abang gak mau jemput aku di sini?” Anna merajuk.
__ADS_1
“Alhamdulillah... Syukurlah kalau sudah selesai. Kapan kamu mau Abang jemput?” Abbas malah bertanya balik.
“Abang... Aku loh yang tanya. Kapan Abang mau jemput aku? Atau Abang memang maunya kita tinggal berjauhan?”
“Berpisah satu minggu saja rasanya tak terbendung apalagi harus tinggal berjauhan. Jangan siksa batin Abang, Dek! Besok Abang akan ke Surabaya. Abang gak kuat kalau kangen sama kamu ujung-ujungnya bermain solo,” Celetuk Abbas dan langsung mendapat hujatan dari Anna.
“Abang ... Ih, mesum deh!”
Abbas terbahak sendiri. Anna di seberang telepon hanya bisa tersenyum mendengar kemesuman suaminya. Ia semakin mengenal Abbas. Suaminya itu ternyata lebih banyak bicara saat bersama dirinya. Sangat berbeda dengan sebelum mereka menikah. Dan di hadapan orang lain pun Abbas bersikap dingin dan singkat berbicara.
Anna tersenyum sendiri mengingatnya.
“Anna kangen sama Abang!” ucap Anna pelan tapi terdengar begitu jelas dari seberang telepon.
“Abang lebih kangen dari kamu, Dek!”
Keduanya pun saling bercerita banyak tentang keseharian mereka tadi. Sambungan telepon puntuk beralih ke video call. Abbas semakin rindu dengan istrinya itu. Apalagi saat melihat wajahnya. Bibir merah mudah yang terus menjadi candunya saat ini seakan memanggil untuk disentuh, tapi sayang semua hanya bisa dilihat tanpa bisa diraba dan dirasakan membuat Abbas semakin tersiksa.
Anna sengaja mengganjal ponsel dengan bantal agar ia bisa mengobrol sambil tiduran.
“Hoaamm....” Anna terus menguap saat mendengar Abbas bicara. Seperti sedang dinyanyikan lagu pengantar tidur oleh suaminya. Tak terasa perlahan mata berbulu lentik itu mulai memejamkan mata.
Abbas tersenyum melihatnya. Satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hati Abbas. Bersama Anna hatinya selalu merasa bahagia dan lepas.
Panggilan pelan dari Abbas pun tidak mengusik tidurnya. Itu berarti Anna sudah lelap tertidur.
“Tunggu, Abang, Dek! Abnag akan segera ke sana!” Ababa lekas mematikan sambungan teleponnya.
Ia tidak sadar Rio yang dari tadi menunggunya sampai tertidur kembali di sofa.
__ADS_1
“Bangun... Rio!” Abbas membangunkan asistennya pelan.
“Sudah selesai bos kangen-kangenannya. Sekarang tanda tangan dulu ini, tinggal beberapa berkas lagi!” titah Rio pada bosnya. Dasar asisten kurang asem.
“Ok. Tapi kamu siapkan penerbangan malam ini juga ke Surabaya!” Abbas langsung memerintah Rio dengan keinginan.
Rio sontak membulatkan mata mendengar keinginan Bosnya itu.
Ia kira kangen-kangenan sudah selesai ternyata malah makin berlanjut dan harus di tuntaskan. Tak peduli dengan jarak selagi pesawat masih ada yang beroperasi. Abbas akan tenang meski waktu sudah menunjukkan malam hari.
Segera Rio memesan tiket pesawat malam itu juga dan hanya satu penerbangan malam ini.
“Bos hanya ada satu penerbangan lagi ke Surabaya, dan waktunya tinggal setengah jam lagi!” ucap Rio sontak membuat Abbas menoleh ke arahnya.
Gerakan cepat dari Abbas yang langsung menutup berkas di tangannya.
“Tanda tangan ini di jalan saja. Pesanan tiket hanya untukku, kamu lanjutkan pekerjaanku untuk besok. Cepat bergegas, kita ke bandara sekarang juga!” titah Abbas tanpa ingin di bantah.
Abbas melangkah cepat mengambil kunci mobil. Rio langsung memesankan tiket pesawat untuk Abbas meski waktu tinggal sebentar lagi, Rio mengikuti gerakan cepat bosnya.
Sudah dipastikan malam ini Rio akan bersitegang di dalam mobil sebab Abbas pasti akan melajukan mobilnya dengan cepat mengejar waktu keberangkatan yang tersisa.
Sungguh rasa rindu tak bisa ia tampung lagi.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung...