
Abbas lekas berdiri. Ia merasa malu dengan apa yang ia lakukan.
"Nanti Abang bayar, Dek!" ucap Abbas kikuk.
Anna terkekeh kecil seraya menutup mulut dengan satu tangan yang satu lagi, karena satu tangan yang satu memegangi bunga mawar yang Abbas berikan kepadanya. Sikap Abbas yang terlihat malu menjadi hal lucu bagi Anna.
"Kamu meledek, Abang!"
Anna menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum geli.
"Bohong, matamu tidak bisa menutupinya."
"Abisnya Abang lucu," ujar Anna yang langsung terkejut karena Abbas meraih tangan Anna membuat tubuh gadis itu menabrak dada bidang Abbas.
"Abang!" pekik Anna dengan matanya yang membola.
"Wajah kamu bahkan lebih lucu saat terkejut seperti ini," celetuk Abbas membuat Anna tersipu malu kemudian tertunduk.
"Apaan sih, Bang!" Anna masih saja menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah Anna yang merina semerah tomat ditatap oleh Abbas.
Abbas meraih dagu wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Kini, kedua manik mata itu saling bertatapan. Saling menelisik satu sama lain. Seakan kedua mata itu saling berbicara. Hanya senyuman yang alaing berbalas.
Abbas memiringkan wajahnya perlahan. Naluri seorang Anna hingga gadis itu juga ikut memejamkan matanya seiring wajah Abbas yang semakin mendekatinya.
Sesuatu yang kenyal Anna rasakan, membasahi bibirnya yang disentuy oleh Abbas. Matanya Anna enggan terbuka.
Gigitan kecil pada bibirnya membuat Anna sedikit membuka mulutnya. Dengan sangat pelan dan penuh perasaan Abbas bermain dengan bibir manis istrinya. Hal pertama yang ia lakukan juga hal pertama yang Anna terima. Ciuman itu adalah pengalaman pertama untuk mereka berdua.
Meskipun masih kaku, tapi naluri seorang laki-laki menuntun Abbas untuk bermain dan menikmati permainan bibir dengan Anna.
Bunga yang Anna pegang pun terjatuh, Kedua tangan Anna memegang erat kemeja Abbas di bagian dadanya.
Abbas meraih tangan kanan Anna agar menyampirkan tangannya itu ke leher Abbas. Anna kembali melakukan hal yang sama dengan tangan kiri nya.
__ADS_1
Anna melepas tiba-tiba pagutannya. Napasnya tersengal karena kehabisan udara.
"Maaf...!"
Anna lekas mendongak setelah mengisi udara pada dadanya yang kosong.
"Kenapa Abang minta maaf?" tanya Anna heran.
"Maaf, jika Abang ingin melakukannya lagi, Bibir ini manis!" Abbas mengelus pelan bibir Anna yang sedikit bengkak akibat tarikan permainannya.
Anna tersenyum malu dengan penuturan Abbas.
Tanpa banyak bicara, Abbas menyambar bibir Anna lagi. Rasanya masih belum puas. Permainan keduanya kini semakin lincah dan memanas, Abbas meminta lebih dari ini. Tangannya kekarnya menyelinap ke balik baju kemeja yang Anna kenakan.
Lembut dan halus, itu yang Abbas rasakan pada kulit tubuh Anna.
Suara nada dering pada ponsel milik Abbas berdering di saku celananya. Tapi tidak membuat Abbas menghentikan kegiatannya.
Abbas malah terus memberikan lidahnya. Anna beberapa kali menepuk pundak suaminya itu. Agar ia menghentikan paguatan mereka. Karena Abbas masih tetap acuh, Anna sedikit mengigit bibir bawah Abas. Membuat suaminya itu, melepas tarikan bibirnya.
"Lagian Abang, ada telepon tapi tidak diangkat!" sahut Anna.
"Ck... Mengganggu saja!" decak Abbas seraya merogoh ponsel di kantung celananya.
"Ibu...," ucap Abbas pelan kepada Anna.
"Tuh 'kan, Anna bilang juga apa!" cebik Anna membuat Abbas tersenyum kepadanya.
"Habisnya bibir kamu membuat Abang candu!" goda Abbas pada Anna.
"Gombal banget." Anna meningalkan Abbas saat sambungan teleponnya tersambung dengan Bu Lidia.
Mungkin Bu Linda mengabarkan kalau Beliau sudah sampai di surabaya.
__ADS_1
Anna kembali dengan kegiatannya, merapikan dan membereskan beberpaa barang yang berserakan di ruang itu.
"Dek, Ibu sudah sampai Bandara. Kamu mau ikut Abang jemput ibu atau tunggu di sini, soalnya---" Abbas tidak melanjutkan ucapannya. Pria itu melirik waktu di pergelangan tangannya. "Setelah dari Bandara, Abang harus ke tempat pembangunan gedung. Apa kamu tidak masalah jika Abang tinggal sendirian di sini." tanya Abbas.
"Aku mau ikut Abang saja!" ucap Anna saat kembali mendekat kepada Abbas.
"Baiklah, tapi Abang minta maaf setelah menjemput ibu, Abang akan pergi dulu sebentar," ujar Abbas setelah itu mengajak Anna agar ikut dengannya.
Anna pun mengangguk pelan. "Tunggu, Anna ambil baju ganti dulu di atas."
***
"Assalamu'alaikum," sapa Anna kepada Bu Lidia saat mereka bertemu.
"Wa'alaikumussalam," jawab Bu Lidia langsung memeluk Anna erat. "Menantuku!" ujar Bu Lidia disela pelukannya.
Perlahan Bu Lidia meregangkan pelukannya.
Anna lekas meraih tangan Bu Lidia lalu menyalaminya. Abbas pun melakukan hal yang sama dengan Anna.
"Bu sebaiknya kita langsung ke hotel saja ya?"
"Hotel?" Bu Lidia terlihat sedikit bingung.
"Nanti Abbas ceritakan! Setelah ini Abbas ada peninjauan dulu, sebentar."
Beruntung Bu Lidia mengerti. Mereka pun segera menuju hotel yang sudah dipesan Abbas sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1
Baca kelanjutan ceritanya ya.