
"Kuli panggul dari mana, An. ganteng begitu?" Kia bertanya dengan suara pelan lalu menunjuk kearah Rayyan dengan dagunya.
Anna dan Maira saling menatap.
"Ha.. ha.. ha..." Mereka tertawa kompak mendengar pertanyaan Kia.
"Yah, di tanya malah pada ketawa." pangkas Kia.
Anna membisikkan sesuatu ke telinga Kia. Kia melotot, tangannya refleks menutup mulut dengan tangannya.
"Ups ... Sorry, duh gue engga enak ni, dengar enggak ya, dia?" Kia melirik Rayyan yang masih merebahkan tubuhnya di sofa." lu kenapa gak ngomong dari tadi, kalau dia sepupu lu?"
"Lah, kamu enggak nanya, udah santai aja dia kebal ko, enggak bakalan denger." seru Anna.
"Woi ... gue denger lu, pada ngomongin gue!" teriak Rayyan.
Kia makin tak enak hati kepada Rayyan. "Gue masuk, ah. Malu gue!"Kia membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar melewati Anna dan Maira berdiri di dekatnya.
"Enggak ikut ngumpul, Ki?" teriak Anna saat Kia hampir menutup pintu kamar.
Kia muncul dengan setengah kepalanya menyembul dari balik pintu "Enggak, ah. gue mau istirahat aja, sore kerja soal nya. Sorry ya, Mai!" ucap Kia seraya menutup pintu kamarnya.
Anna dan Maira mendekati Rayyan yang terlihat bersantai di sofa sedang menggulung lengan kemejanya lalu bersandar di sofa beralaskan kedua telapak tangan yang di satukan menyangga kepalanya. Maira duduk di sofa yang bersisian dengan Rayyan. sedangkan Anna membuka kamar kos nya lalu menyimpan file yang dari tadi di bawanya. Ia kembali ke ruang kumpul di mana Rayyan dan Maira saling diam tak bersuara.
Kantung belanjaan di letakkannya di atas meja. "Mai, aku ambil gelas dulu ya, tuh buat es kelapa." Anna menunjuk es kelapa yang di letakkan di atas meja oleh Maira. "Tenang sepupu aku jinak ko, gak bakalan terkam orang sembarangan." Anna melirik Rayyan yang betah dengan posisi nya bersandar berlalu melangkah ke arah dapur.
"Emang gue, singa apa? sembarangan aja lu, dek." Rayyan merubah posisinya menjadi duduk.
Rayyan bingung harus berbuat apa ketika di tinggal berdua dengan Maira. baru kali ini ia tidak berkutik di hadapan wanita. biasanya ia begitu percaya diri tanpa gengsi mendekati wanita. Rasa gugup ia singkirkan dalam bentaknya.
"Biasanya juga lancar, tanpa grogi. Kenapa sekarang gue mati kutu gini," batinnya.
"Rayyan" ucapnya tanpa ada yang mempersilahkan nya berkenalan. Ia paksakan agar tak ada kecanggungan di antara mereka.
"Maira" balas Maira seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanpa membalas uluran perkenalan dari Rayyan.
"Oh .. sorry." Rayyan menarik kembali uluran tangannya. "Em ... Sorry juga tadi pagi udah nabrak kamu, di dalam kampus!"
"Enggak pa-pa, Mas. Aku yang meminta maaf sama Mas. tadi pagi tanpa ijin, coklat yang hendak Mas beli, aku ambil." ucap Maira sambil menunduk tanpa berani menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
Rayyan menyunggingkan senyum mendengar penuturan Maira. "Bukan masalah besar, santai saja. toh itu juga bukan buat ku, tuh Anna yang memintaku membawakannya." Rayyan menunjuk Anna yang kembali dari dapur setelah mengambil dua gelas dan Air mineral botol untuk Rayyan.
"Apaan si, Mas. baru Dateng udah di sangkut pautkan." Anna memberikan air mineral botol kepada Abbas lalu duduk lesehan di depan meja menuangkan es kelapa yang di bungkus kedalam dua gelas besar.
"Emang benar 'kan. tadi lu yang minta cokelat Toblersix? seru Rayyan seraya membuka tutup air mineral lalu meneguk hingga habis setengah botol.
"Oh, jadi yang ngembat cokelat Mas Rayyan itu, Maira." Anna melirik Maira meminta penjelasan lalu mengaduk-aduk es kelapa miliknya.
Maira mengangguk kemudian Anna terkekeh di buatnya.
"Ko, malah ketawa, An?" tanya Maira heran.
Anna mengambil kantong yang tadi di berikan Rayyan saat menunggu Maira.
"Nih, buat kamu. Sengaja Aku minta beliin cokelat sama Mas Rayyan. Aku hapal betul kalau kamu lagi nervous atau grogi pasti yang di cari cokelat itu. ini beli pakai duit kamu, 'kan Mai? jadi balik lagi deh sama yang beli." Anna menyodorkan satu cokelat Toblersix yang berada dalam kantung belanjaan nya.
Maira tersenyum mengingat kejadian tadi pagi.
Tak mengira jika lelaki berkemeja navy itu adalah Rayyan.
"Ternyata Dunia hanya selebar daun kelor. Jadi pasti kita bertemu lagi, udah kenalan malah ya" Rayyan menggoda Maira.
"Jangan di dengerin, Mai. Dia tuh raja gombal. jangan terhasut sama rayuannya. Mana ada Dunia hanya selebar daun kelor, yang ada itu Dunia tak selebar daun kelor. jadi Dunia itu lebar" Anna menegaskan.
Maira makin di buat salah tingkah karena gombalan Rayyan.
"Mas, udah pulang deh sana. Geli Anna denger Mas gombalin Maira. Cepetan bangun. Anna berdiri seraya menarik Rayyan agar cepat pergi dari kosan nya.
"Dek. tega banget si. ngusir, nih?"
"Bukan ngusir, tadi Mas sendiri yang bilang bentar lagi masuk kantor. nanti Om Anwar marah loh, hayu ah!" Anna terus berusaha menyuruhnya berdiri.
"Iya ... iya, E-em.. Maira aku pamit dulu, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Rayyan seraya membungkukkan badan dihadapan Maira.
Maira pun lekas berdiri. "Terima kasih, Mas Rayyan sudah mengantar Maira dan Anna kemari. untuk cokelatnya yang lain juga, terima kasih." Maira membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Sama-sama. Dek, Anter gue kedepan!" Rayyan melingkarkan tangannya di leher Anna. menariknya agar mau mengantarkannya ke depan teras.
"Ih .. jangan di tarik gini, Mas. Sakit tahu!" Protes Anna. "Tunggu bentar ya, Mai."
__ADS_1
Maira mengangguk pelan.
Rayyan melepas jeratan tangannya di leher Anna. Mereka berjalan pelan menuju teras. Rayyan menanyakan soal Maira melalui sepupunya itu.
"Dek, deketin Mas sama Maira dong."
Anna Mendelik menatap Rayyan seraya. menunjukan jari telunjuk yang di goyangkan. " No .. No ... Berat Mas, enggak ada kriteria Maira sedikitpun yang nempel sama Mas Rayyan.
"Emang lu tau, tipe cowok idaman Maira seperti apa atau dia udh punya cowok, Dek?" tanya Rayyan penasaran.
Anna mengangkat bahu," Dia tak pernah bercerita soal perasaan. Maira sangat tertutup tentang perasaan. tapi setahu Anna dia punya lelaki yang dia suka, Entah siapa lelaki itu, dia tidak pernah bercerita." jelas Anna.
"Kayaknya gue jatuh cinta pada pandangan pertama, dek. Ni jantung nggak bisa di ajak kerja sama kalau lihat dia senyum. bawaannya itu dag Dig duh terus, subhanallah cantiknya." Rayyan sudah terjerat pesona Maira.
Meski pede tingkat tinggi kadang menyebalkan, sebenarnya Rayyan adalah Lelaki baik, dia juga lulusan pesantren. Entah mengapa, Rayyan jadi Playboy sekarang ini . Tetapi Anna terus memberi Rayyan semangat.
"Kalau mau dekat sama Maira, ubah tuh sikap playboy nya Mas, Anna dukung deh, tapi awas kalau sampai mainin sahabat Anna. nih" Anna menunjukan tangan yang di kepal nya ke hadapan Rayyan.
"Bener ya dek, bantuin gue!"
"Eits ... males ah, bukan bantuin tapi mendukung. Usaha sendiri lah!" elak Anna.
"Ah. Enggak bisa di ajak kerja sama lu, Dek. Dah, ah. gue pamit.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam"
Rayyan masuk kedalam mobil.
Tinn.
Mobil Rayyan pun melaju meninggalkan Hakan kosan Anna.
Suara klakson mobil itu memberi kode kepada Anna bahwa si pemilik mobil pamit untuk pergi lalu Anna membalas dengan melambaikan tangannya.
Tinggalkan jejak
kasih like Komen tambah Favorit
__ADS_1
kasih dukungan juga hadiah atau vote untuk Author.
Terima kasih