
"Aku akan mengutarakan niatku terlebih dulu pada Mamanya. Kalau saja bisnis ku tadi bisa di tunda, Aku akan mengantarkan Anna dan meminta restu kepada Papa nya saat ini!" batin Abbas saat menatap Anna.
Pandangan pria tampan itu beralih pada Mama Ami yang tengah menatap dirinya.
"Ada yang mau Saya ucapkan sana Tante. Sebenarnya saya ingin berbicara langsung pada Papa nya Anna dan juga Tante," ucap Abbas serius. Saya meminta restu untuk mendekati putri Tante, dengan niat saya ingin mengkhitbah nya terlebih dulu." ungkap Abbas membuat Anna membulatkan matanya terkejut. Ia gadis itu terkejut untuk kedua kalinya karena Abbas berani mengutarakan niatnya langsung di hadapan sang Mama.
Begitu juga dengan Tante Melly, Wanita berkerudung syar'i itu pun tidak menyangka dengan keseriusan Abbas kepada Anna.
Mama Ami pernah menanyakan sosok Abbas kepadanya tempo hari setelah satu Anna resmi menjadi seorang muslim. Ia lantas tersenyum dengan pengakuan Abbas, menurutnya sikap Abbas yang berani meminta ijin kepada orang tua wanita sebelum mendekatinya itu adalah tipikal pria yang bertanggung jawab.
Mama Ami bingung hendak menjawab apa. Satu sisi ia senang dengan kesungguhan Abbas, tapi di sisi lain. Mama Ami belum mengenal betul siapa Abbas. Anna juga tidak banyak bercerita kepadanya.
"Tante berterima kasih dengan keberanian Nak Abbas. Tante tidak bisa memberi jawaban tentang khitbahmu terhadap putriku." Mama Ami memandang Anna. Kemudian kembali berkata," Karena Anna lah yang berhak menjawab nya. Tante akan merestui apapun jawaban yang akan di berikan Anna. Tapi ... bukankah Nak Abbas sempat mendengar permasalahan kami orang tua Anna. Tante takut itu akan jadi penyesalan untuk kalian nanti," ujar Mama Ami. Ia takut kalau suatu saat nanti akan jadi penyesalan untuk Abbas.
"InsyaAllah, tidak Tan," balas Abbas.
Panggilan dari pengeras suara yang mengumumkan kepada penumpang rute Jakarta- Surabaya harus segera memasuki ruang boarding gate telah berkumandang membuat obrolan mereka harus terhenti.
"Tante tunggu keseriusan ucapanmu di Surabaya, Nak Abbas. Papanya Anna pasti ingin mendengar langsung darimu! maaf jika kita tidak bisa banyak bicara di sini. Tante sangat menghargai niat baik dan ketulusanmu untuk Anna. Tante senang Anna mendapat lelaki bertanggung jawab sepertimu. Kami permisi dulu, sampai jumpa lagi!" Mama Ami menepuk pelan pundak pemuda yang saat ini berhadapan dengannya itu.
"Ayo, An!" ajak Mama Ami yang mendapat anggukan pelan dari putrinya itu.
"Hati-hati, Tante!" ucapnya melepas kepergian Mama Ami dan Tante Melly.
Mama Ami mengangguk pelan sedangkan Tante Melly menunduk sopan lalu menangkupkan tangan di depan dada untuk berpamitan pada Abbas. "Mari, Nak Abbas."
"Ya, Tan!"
Mama Ami dan Tante Melly berjalan mendahului Anna karena mereka masih harus melawati boarding gate untuk tahapan terakhir menaiki pesawat.
Sebelum Anna memasuki pintu keberangkatan. Gadis itu menatap Abbas sejenak, hendak berpamitan pada pria tampan itu.
"Anna, pamit, Bang! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Tunggu, An!" Abbas menahan Anna.
"Kenapa, Bang?"
Pemuda tampan yang berani meminta restu kepada Mama Ami itu, mengangkat tangannya lalu melepas cincin yang melingkar di jari kelingkingnya itu. Selama dua puluh tahun, cincin itu tersemat di sana. Satu-satunya barang peninggalan mendiang ibunya.
"Kemarikan tanganmu," titah Abbas kepada Anna. lekas gadis itu mengangkat tangannya, menengadahkan telapak tangannya kemudian Abbas meraih tangan itu lalu menaruh benda kecil yang ia lepas tadi dari jemarinya.
__ADS_1
Anna menarik tangannya kembali. "Apa ini, Bang?" tanya Anna bingung.
"Itu adalah cincin peninggalan ibuku, selama ini benda itu tak pernah terlepas dari jemari ini." Abbas meraba jari kelingkingnya, Anna memperhatikan itu.
"Kenapa Abang berikan sama Anna?" tanya Anna penasaran.
"Karena kamu istimewa bagiku, sebelum kamu memberikan jawaban atas khitbahku, Aku belum berani memakaikannya pada jemarimu. Saat ini Aku hanya ingin kamu menyimpannya sebagai bukti kalau Abang benar serius sama kamu, Dek! Abang janji akan menyusulmu ke Surabaya," ucap Abbas meyakinkan gadis berhijab itu
Anna mengangguk pelan dengan wajah yang merona karena tersanjung dengan ucapan pria yang memang sudah lama menguasai hatinya itu.
"Adek tunggu, Abang di Surabaya." balas Anna dengan wajah merona membuat Abbas tersenyum sumringah.
"Ya, Abang janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan di sini agar segera menyusul dan menghalalkanmu." lagi-lagi hati akan di buat melayang terbang karna ucapan Abbas.
"Hati-hati, kabari Abang kalau kamu sudah sampai. Semoga kesehatan Papamu juga cepat membaik! Kamu harus jadi penguat dalam masalah mereka. Abang yakin kamu bisa."
"Terima kasih, Bang. Anna pamit." Anna membungkukkan sedikit badannya kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Abbas yang masih setia melepas kepergiannya. Sampai di depan pintu keberangkatan, Anna menengok lagi kebelakang menatap Abbas yang masih berdiri di tempatnya.
Senyuman perpisahan Anna berikan untuk pria pemilik hatinya itu.
Di balik kesedihan Anna ada kebahagiaan yang ia terima. Gadis berkerudung pashmina itu melangkah sambil mendekap jemari yang mengepal cincin di dalamnya. Ia akan menyimpan baik-baik pemberian Abbas itu. Anna juga akan menunggu janji Abbas untuk menyusulnya.
*
*
*
"Bi Imah, apa kabar?" sapa Anna seraya meraih tangan pembantu itu lalu menyalaminya.
"Kabar baik, Non! Alhamdulillah Non Anna makin cantik, semoga makin istiqomah dengan agama dan hijabnya ya, Non!" ujar Bi Imah yang memandang kagum sosok gadis yang dulu ia rawat kini telah berpindah keyakinan, penampilannya pun makin cantik dengan balutan hijab dan pakaian tertutup.
"InsyaAllah, Bi! doakan Anna menjadi muslimah yang baik."
"Amin, Bibi doakan, Non!"
Bi Imah membantu membawa barang bawaan ke dalam rumah. Tak banyak barang-barang yang mereka bawa.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu, sudah malam." Mama Ami melirik Tante Melly dan Anna. "Mel, maaf ya sudah merepotkanmu," Mama Ami menatap Tante Melly.
"Jangan berbicara seperti itu, Mi! kita saudara jadi tak perlu sungkan. Malah Aku yang akan merepotkan mu beberapa hari ke depan dengan ikut tinggal di sini." Tante Melly sedikit tertawa.
__ADS_1
"Tan, Aku ke kamar dulu ya?" pamitnya pada Tante Melly. "Mama juga jangan lupa istirahat, besok pagi kita temui Papa sama-sama," ucap Anna membuat Bi Imah mematung mendengarnya.
Pasalnya Bi Imah tak pernah membocorkan perihal penangkapan Papa Reno kepada Mama Ami ataupun Anna. saat ini, Ia memilih diam jika Mama Ami tidak bertanya kepadanya.
Mama Ami tersenyum menanggapin penuturan Tante Melly.
"Tidak akan, kecuali kalau kamu minta aku mandikan dan pakaikan baju seperti Rayyan da Riska saat masih kecil kalau berlibur di sini!" balas Mama Ami.
"Kamu ada-ada aja, Mi! ih geli di mandiin kamu? masih mending di mandiin mas Anwar deh!" celetuk Tante Melly.
"Mel, mesum ih!" cibir Mama Ami.
Tante Melly tertawa renyah. "Aku istirahat dulu, ya, Mi!" ucapnya pada Mama Ami yang "Bi kamarnya sudah dibersihkan?" tanya Tante Melly dengan suara sedikit tinggi agar Bi Imah mendengarnya.
"Sudah, Bu!" sahut Bi Imah lalu membantu membawakan tas milik Tante Melly ke dalam kamarnya.
Dengan ikutnya Tante Melly bersama mereka ke Surabaya, bisa membuat Mama Ami dan Anna sedikit tertawa karena sikap Tante Melly kadang tak bisa di tebak hingga bisa menghilangkan sedikit kesedihan yang di rasa Mama dan anak itu.
.
.
.
.
.
**Sabar ya Mama Ami dan Anna badai pasti berlalu, meskipun semua berawal dari kesedihan percayalah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya.
Keimanan Anna akan semakin di uji sekarang ini, jadi tetep semangat ya Anna. 💪💪😘😘
Jangan lupa dukungan kalian untuk karya ini.
like komen dan vote nya..
bersambung>>>
Etis jangan lupa mampir ke Karya teman Author ni.
Jangan pernah iri dengan Rejeki jodoh yang di Terima orang lain, apalagi melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Seperti kisah di bawah ini. Coba baca deh**.
__ADS_1