
Anna terkekeh mendengar penuturan suaminya. Abbas menceritakan kejadian di minimarket tadi kepada Anna.
Tidak lupa Abbas juga menjelaskan soal kewajiban seorang istri saat
Saat ini Abbas sedang tiduran di paha Anna, mereka masih betah bersantai di tempat tidur rasanya malas untuk beranjak dari tempat peraduan yang menghangatkan itu.
Abbas makin menelungkupkan wajahnya di perut Anna.
“Abang, geli,ih!” Anna meliukkan tubuhnya karena merasa geli karena Abbas terus menciumi perutnya. “Perutku, masih sakit loh, Bang!”
Ucapan Anna berhasil membuat Abbas bangun dari tidurannya.
“Apa sakit banget, Dek?” tanya Abbas khawatir.
Anna tersenyum melihat raut wajahnya suaminya yang begitu mengkhawatirkannya.
“Ini hal biasa yang dirasakan wanita, Abang! Nanti juga hilang sendiri.” Anna menangkup wajah Abbas dengan kedua tanganya.
“Abang lucu kalau lagi khawatir begini!” lanjut Anna sambil menekan kedua pipi Abbas sampai bibirnya mengerucut.
Anna makin terkekeh melihatnya.
Abbas langsung menerkam Anna hingga tubuh istrinya itu berada di bawah kukungannya.
“Abang!” pekik Anna, ia takut kalau berasa di posisi seperti ini. Suaminya bisa terangsang kembali.
Anna menahan tubuh Abbas agar tidak terlalu dekat dengannya.
“Kenapa? Kamu takut?”
Anna menggelengkan kepala. Matanya sampai tidak bisa berkedip. Berada diposisi ini, membuat Anna ingin merasakan sentuhan nikmat yang ia rasakan kemarin malam. Ia harus menelan ludah saat mengingat itu, tingkahnya pun tertangkap oleh Abbas.
“Kamu tahu persentuhan dengan istri yang sedang haid di perbolehkan tapi di luar bagian antara pusat dan lutut.”
Anna terlihat serius mendengarkan ucapan Abbas.
“Akan menjadi pahala jika istri tetap bisa memuaskan suami.”
“Bagaimana caranya, Bang?” tanya Anna polos.
Abbas tersenyum mendengar pertanyaan Anna. Istrinya benar-benar polos dan masih harus banyak ia bimbing termasuk hal seperti ini.
“Hadis riwayat Aisyah ra, Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah memerintahkan untuk memakai izaar (kain bawahan menutupi bagian tubuh dari pusar ke bawah), kemudian beliau menggaulinya (tanpa senggama), (Shahih Muslim No.440)” ucap Abbas. Jadi seorang istri pun bisa membantu suami untuk menuntaskan hasratnya di luar inti sebenarnya.”
Anna semakin tidak mengerti dengan perkataan Abbas. Ia mengernyitkan keningnya.
Melihat reaksi Anna, Abbas tahu betul kebingungan yang di alaminya. Sepertinya Anna perlu di ajarkan dengan praktek bukan teori.
__ADS_1
Perlahan Abbas mendekatkan wajahnya Anna perlahan memejamkan mata.
Permainan lintas bibir kembali terjadi kali ini Abbas bermain sangat lembut, sehingga Anna begitu menikmatinya.
Abbas meraih jemari Anna dan menuntunnya ke arah inti tubuh Abbas agar bermain jari di sana.
Awalnya Anna terkejut dengan mata yang membulat karena sudah melihat bahkan merasakan kedahsyatan sesuatu yang ia pegang saat ini. Perlahan Anna rileks, melihat suaminya yang begitu mendamba Anna mencoba bermain jari. Pelajaran untuk Anna, cara memuaskan suami ketika ia sedang haid.
Kini Abas merasa puas tidak lagi bermain sendiri.
Meskipun palang merah terjadi tapi masih ada cara lain untuk menikmatinya. Tidak harus kepada inti. Abbas hanya ingin mereka saling meluapkan rasa cinta saja. Sebab Abbas sangat pandai mengendalikan diri dan tidak memaksakan kehendaknya.
Mereka sama-sama belajar hal baru dalam rumah tangganya. Tidak hanya soal ranjang tapi soal kejujuran dan keterbukaan. Seperti saat ini. Ponsel Abbas bergetar saat dia dan Anna melanjutkan permainan lidahnya. Awalnya Abbas abaikan tapi tepukan di bahu oleh Anna membuat mereka harus mengakhiri pergulatan lidahnya.
Abbas tersenyum saat menarik wajahnya. Ia melihat bibir Anna yang menjadi candu untuknya itu sedikit bengkak.
Anna pun merasakan kebas pada bibir bawahnya. Ia tertunduk malu. Sambil mengaitkan dua kancing bajunya yang terbuka akibat ulah Abbas.
“Biarkan saja terbuka!” ucap Abbas dan langsung pelototan dari Anna.
“Hahaha.”Abbas kemudian berdiri ia melangkah mendekati nakas di mana ponselnya berada.
“Assalamualaikum, ada apa, Io?” tanya Abbas pada asistennya.
“Waalaikumusalam, Bos. Sorry ganggu bulan madunya! Gue cuman mau bilang besok pagi adalah jadwal operasi Riska. Dan gadis itu minta ketemu sama lu, Bos!” balas Rio dari seberang telepon.
Abbas menarik napas panjang. Ia melirik sesaat kepada Anna. Hal ini belum sempat ia ceritakan kepada istrinya itu. Apalagi satu permintaan Riska yang begitu berat untuk Abbas.
“Saya masih di puncak Bogor! Mungkin akan saya usahakan untuk menemuinya dulu sebelum operasi. “Baik, bos. Gue bakal bilang itu sama dia!”
“Rio!” panggil Abbas sebelum ia menutup sambungan teleponnya.
“Terima kasih sudah mau kurepotkan,” ucap Abbas.
Rio terdiam mendengar ucapan Abbas. Bos dinginnya itu mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Rio, kamu mendengarku?” tegur Abbas.
“Iya, Bos! Gue syok dengar bos dingin ini mengucapkan kata terima kasih! Biasanya yang gue dengar itu, Saya tidak mau tahu kamu harus melakukan itu!” ungkap Rio kemudian langsung membungkam mulutnya sendiri. “Ops, sorry, Bos!”
“Kamu!” ucap Abbas dengan nada sedikit tinggi.
Tak lama terdengar sambungan telepon yang terputus. Abbas lekas melihat ponselnya.
“Dasar, anak buah tidak sopan!” gerutunya.
Abbas menarik napas berat setelah mendapat kabar yang mengejutkan untuknya.
__ADS_1
“Siapa, Bang?” tanya Anna yang berjalan mendekati Abbas.
“Rio.”
“Apa ada sesuatu yang penting?”
“Sedikit.” Abbas meletakkan ponsel ke tempat semula. Pria itu malah kembali melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Anna kemudian menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Abbas memeluk tubuh Anna begitu erat seakan takut Anna akan pergi darinya.
“Dek!” panggil Abbas di sela pelukannya.
“Hm,” jawab Anna.
Dari cara Abbas memeluk Anna, ia bisa merasakan sesuatu terjadi pada suaminya. “Ada apa, Bang?” Anna kembali bertanya.
Abba malah semakin memeluk erat istrinya.
“Abang pernah bilang sama kamu, Dek. Kalau cinta abang hanya buat kamu, dan hati ini, perasaan ini, jiwa dan raga abang hanya buat kamu seorang, tidak ada yang lain.”
Anna menajamkan pendengarannya kemudian mengerutkan alis setelahnya.
“Abang selalu mengatakan itu padaku.” Anna melepaskan pelukannya lebih dulu.
“Ada yang ingin abang sampaikan padaku?
.
.
.
.
Bersambung.
Abang... jujurlah sama Anna.
Jangan sampai Ana terluka karena sesuatu yang kamu tutupi.
Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.
kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.
Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.
Satu lagi. mampir ke karya baru otor tuk. seru juga kok ceritanya. Ramaikan komentar kalian di sana.
Pemilik Kehormatanku. Itu judulnya. Mampir ya.
__ADS_1
Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘