Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Lebih Cepat Lebih Baik


__ADS_3

“E-eh Papa! Kenapa?”


“Kamu masih bilang kenapa? Setelah mengacuhkan tanggung jawab kamu di perusahaan!” Om Anwar meraih kembali map yang ia letakkan di atas meja kemudian melempar asal ke wajah Rayyan.


“Bersikaplah dewasa dan bertanggung jawab! Tidak meninggalkan pekerjaan sesuka hati!” omel Om Anwar seraya menatap marah kepada Rayyan.


Rayyan menggaruk lehernya yang tidak gatal. Tante Melly menatap putranya lalu memberi kode dengan matanya agar Rayyan duduk ketika mendengar papanya berbicara.


“An, sebaiknya ajak suamimu ke atas!” titah Tante Melly pada Anna.


Meskipun Abbas sudah menjadi bagian dari keluarga mereka tapi rasanya tidak enak mempertontonkan omelan suaminya kepada Rayyan di depannya.


Anna mengangguk paham.


“Abang sebaiknya istirahat dulu!” ajak Anna dan Abbas pun menyetujuinya.


Ia juga merasa canggung berada di sana.


Setelah berada di kamar Anna sedikit menghindari Abbas. Tapi dengan cepat Abbas meraih tangan istrinya.


“Kamu menghindariku?”


Anna tertunduk tak berani menatap suaminya.


“Lihat abang, Dek!” Abbas menyentuh dagu Anna, memaksa wanita itu agar menatapnya.


“Kamu menderita dengan keadaan ini?” tanya Abbas dengan tatapan penuh selidik.


Anna hanya terdiam. “Aku sedang berusaha ikhlas!” balasnya dengan suara berat yang tertahan.


Ingin menangis tapi rasanya lelah. Percuma terus menangisi keputusan yang ia buat sendiri. Sekarang ini hanya ikhlas menjalani dan ikhlas menerima, itulah yang harus Anna siapkan.


Abbas lekas menarik Anna dalam pelukannya. Suami istri itu saling menguatkan. “Terima kasih sudah menjadi istri yang mau belajar banyak hal termasuk ikhlas untuk di madu karena tidak semua wanita bisa melakukannya,” ucap Abbas di sela pelukannya. Berulang kali kecupan ia daratkan di pucuk kepala istrinya.


“Aku terjebak dalam keputusanku sendiri, ternyata untuk ikhlas itu begitu sulit, tapi aku harus kuat!” balas Anna sedih, wanita itu makin mengeratkan pelukannya.


“Kita akhiri saja semua ini! Abang pikir, akan lebih berat karena ada dua orang yang terluka jika kita meneruskan semua ini. Abang akan membicarakan ini baik-baik dengan Riska!” ucap Abbas.


Tak ada jawaban dari Anna. Wanita itu tak ingin melepaskan tangan yang melingkar di pinggang suaminya.


Di ruang tamu


Om Anwar melemparkan berkas yang tadi dibawanya ke hadapan Rayyan.


“Tanda tangan!” titah Om Anwar dengan tegas.


Tanpa banyak bicara Rayyan lekas menandatangani berkas tersebut.


“Bagaimana kamu bisa memimpin perusahaan jika cara kerjamu seperti ini. Sering pulang lebih cepat dan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai di kantor.” Om Anwar menginterogasi Rayyan. Sebab hampir satu bulan ini putranya itu pulang kerja lebih cepat dan sering meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Demi apa, demi Maira. Wanita yang sedang ia dekati.

__ADS_1


Menyadari kesalahannya, Rayyan hanya diam. “Maaf, Pah! Rayyan janji akan lebih baik lagi,” Sahutnya lesu. Ketika ia teringat dengan pendekatan yang ia lakukan dengan Maira tidak berjalan mulus. Gadis pujaan hatinya itu akan menjadi milik orang lain. Kecewa itu yang terlanjur Rayyan rasakan.


“Papa bosan dengan janji kamu!” Sela Om Anwar.


“Mah, ambil semua kartu kredit milik dia. Kunci mobil juga!”


“Maksud Papa, apa? Kenapa harus mengambil semua fasilitasku?” Rayyan tidak Terima dengan perintah papanya. “Bagaimana kegiatanku jika aku tidak ada mobil?”


“Motor di garasi ada ‘kan? pakai itu! Atau kamu pulang pergi naik angkutan umum saja, bukankan itu yang selama ini kamu lakukan?” Om Anwar menatap Rayyan dengan kecewa dan kesal.


Ia ingin Rayyan belajar dari yang sudah pernah ia lakukan.


Kartu kredit yang memudahkannya untuk belanja apapun akan dibekukan. Om Anwar ingin melihat kesungguhan Rayyan saat tidak ada fasilitas yang biasa ia pakai.


Obrolan Om Anwar pun berakhir sebab Beliau harus segera membersihkan diri setelah seharian beraktivitas.


“Ingat kamu harus belajar dari pengalamanmu. Tidak ada kartu kredit untuk memanjakan para gadis gadismu itu!”


Rayyan langsung mendongak ia tidak menyangka Papanya tahu semua soal para wanita itu.


“Bersikaplah dewasa dengan merubah kebiasaanmu, Rayyan! Mulai saat ini berusahalah sendiri. Waktunya kamu memikirkan masa depanmu! Tidak hanya bersenang-senang dengan para wanita dengan menghabiskan penghasilan yang tidak seberapa dari hasil kerjamu. Buktikan kepada papa kamu mampu sukses tanpa ada papa di belakangmu!” Om Anwar mengakhiri ucapannya kemudian berdiri lalu melangkah ke kelarnya hendak membersihkan diri


Rayyan hanya bisa tertunduk dengan semua keputusan papanya.


“Apa aku bisa tanpa itu semua?” tanya Rayyan pada diri sendiri.


Di rumah Riska.


Kesedihan di rasakan Riska setelah berbicara singkat dengan asisten Abbas itu sikap Riska semakin Murung dan sedih.


Batin Riska. Gadis itu merasakan perbedaan sikap Rio kepadanya.


Tiga jam sebelumnya


Riska itu begitu senang saat Ibunya memberitahu bahwa ada Rio di ruang tamu.


Ia segera keluar kamar dengan berjalan di bantu tongkatnya.


“Assalamualaikum, Kak Rio!” sapa Riska.


“Waalaikumussalam,” jawab Rio.


“Apa kabar, Kak? Sudah lama sekali kakak Rio tidak berkunjung ke sini? Sibuk ya?” tanya Riska yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa. Duduk berseberangan dengan Rio.


“Kabarku baik! Aku langsung berbicara pada intinya saja! Pak Abbas memintaku agar menanyakan keinginanmu. Kapan acara ijab kabul ingin kamu laksanakan? Pak Abbas ingin segera menyelesaikan amanah itu. Agar tidak semakin berlarut-larut,” ucap Rio tegas tanpa ada basa basi lagi.


Sikap asisten Rio itu berubah, tak ada gombalan dan candaan lagi darinya. Riska merasa canggung


Padahal biasanya gadis itu tak segan kepada Rio entah mengapa sikap Rio seakan membuat batasan antara mereka.


“Apa harus secepat ini?”

__ADS_1


“Bukan 'kah ini yang kamu inginkan. Bertanggung jawab atas kehidupanmu usai operasi,” balas Rio datar, nada bicaranya pun terdengar sopan tapi sedikit ketus.


“Ada dua hari yang ia berikan, tiga hari lagi setelah ini atau satu minggu ke depan!” Lanjutnya.


Riska terdiam begitu terkejut dengan apa yang diucapkan Rio.


“Apa kamu mendengarkan ucapan saya?” tanya Rio.


“Ya, saya dengar!" balas Riska yang kemudian kembali terdiam. "Kak," panggil Riska.


“Ada apa?”


“Aku boleh bertanya sesuatu?”


“Silakan!”


“Kenapa sikap Kak Rio jadi berubah jadi kaki begini kepadaku?”


Rio tersenyum masam tapi sayang sambil menatap wajah Risak. tapi sayang gadis di hadapannya ini tidak bisa melihatnya.


“Aku harus bersikap sopan dan menjaga jarak pada calon istri bosku!” jawab Rio.


“Tapi tidak perlu seperti itu, Kak! Bersikap biasa saja, aku ingin Kak Rio bersikap seperti biasanya,” pinta Riska.


“Tidak bisa! Sebab kamu akan menjadi istri dari bosku!” ungkap Rio. “Karena Pak Abbas menyerahkan saja kepadaku dan tiga hari lagi adalah waktu yang tepat untuk kalian menikah!”


Ucapan Rio berhasil membuat Riska menatapnya.


Bulu mata yang mengerjap indah. Riska tidak menyadari jika Rio sedang menatap dirinya.


“Secepat itu, Nak Rio?” tanya Pak Irwan yang baru saja datang dari luar kemudian ikut bergabung bersama mereka.


“Lebih cepat lebih baik, Pak! Bukankah niat baik harus segera dilaksanakan,” cap Rio dan mendapatkan anggukan dari Pak Irwan.


“Ya, memang lebih cepat lebih. Baik.” Sahut Pak Irwan. “Kamu siap 'kan, Ris?” tanya Pak Irwan kepada Riska yang diam tanpa bicara.


“Terserah ayah saja!” Riska sekali kehilangan semangatnya.


Rio kecewa sungguh merasa kecewa padahal Riska masih bisa memilih untuk tidak melanjutkan semua ini. Kalau sudah seperti ini, Rio sudah bertekad tidak ingin mendekati Riska lagi sebab gadis itu akan menjadi milik orang lain. Rasanya tidak pantas jika selalu dekat dengan Riska.


“Kamu ternyata masih bersikeras ingin bersama Pak Abbas! andai saja kamu tahu perasaan ku. Aku akan menerima semua kekurangan kamu, Ris! Hati ini telah jatuh cinta padamu. Tapi semua harus terkubur karena kamu terus meminta tanggung jawab Abbas kepadamu!”


Batin Rio patah hati.


Kemudian segera menghubungi Abbas. Dengan segala keputusan yang sudah di buat. Ada nada kecewa yang terdengar dari bisanya itu dari sambungan telepon. Tapi Abbas menyerahkan semua kepada Rio. Sampai waktu pernikahan tiba.


“Baiklah, bos! Saya hanya ingin memberitahu itu saja. Kalian akn menikah tiga hari lagi!” ucap Rio.


Rasanya juga sangat berat ketika berbicara itu kepada Abbas.


Rio harus rela mengubur perasaannya. Rasa yang tumbuh karena selalu bersama dengan Riska.

__ADS_1


Tanpa ia tahu gadis itu juga merasa sedih tapi ia belum menyadari apa yang sedang ia rasakan.


BERSAMBUNG


__ADS_2