Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kebenaran Yang Begitu Pedih


__ADS_3

"Satu Kantor dengan mas Rayyan dong?" celetuk Anna.


"Benarkah?" Bunda Ima menatap Rayyan dan mendapat anggukan oleh pemuda itu.


"Apa kalian tidak bertemu, padahal kan satu kantor. Maira di bagian administrasi di lantai empat." Bunda Ima menatap Rayyan.


"Tidak Tante, saya kan tidak tau kalau Maira kerja di sana!" balas Rayyan sambil berpikir. "Wah kalau berarti besok bisa nemuin dia di kantor. Asyik makin deket aja ni jodoh gue. Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah, semoga memang Maira jodoh hamba." batin Rayyan sambil tersenyum sendiri. Anna yang melihatnya langsung menyenggol pemuda itu untuk menyadarkannya.


"Mas, inget awas jangan macam-macam sama sahabat Anna, apalagi tau dia satu kantor sama Mas." bisik Anna dengan suara yang amat pelan agar Bunda Ima tidak mendengar karena Bunda Ima sedang menghubungi Abi Khaliq menanyakan keberadaanya.


Hampir dua jam suaminya itu menjemput Maira, biasanya jugaperjalanan Bogor - Jakarta hanya satu jam kurang, itu sangat cepat kalau lewat jalan tol jagorawi.


"Apaan sih, Dek. Nggak akan. tenang aja!" balas Rayyan dengan bisikkan juga.


Anna kembali menatap tajam Rayyan. gadis itu tidak mau Maira sahabatnya di sama ka dengan wanita yang selama ini dekat dengan Rayyan.


Kebanyakan mantan Rayyan berprofesi sebagai model dan menurut Anna mantan-mantannya Rayyan itu terlalu seksi dalam segi penampilan sangatlah jauh berbeda dengan Maira yang tertutup dan alim.


Kini setelah Bunda Ima kembali bergabung dengan Anna. Bergantian Rayyan yang mendapat telepon. Pemuda itu ijin keluar ruangan untuk mengangkat telepon.


"Maira terjebak macet di daerah cibubur. Tadi kata Abi, mereka tidak lewat jalan tol, mampir dulu beli kerak telor di sana. Jadi terjebak macet saat pulang. Maaf ya, jadi buat kamu menunggu," ujar Bunda Ima lalu mendaratkan bokongnya duduk di samping Anna sambil menepuk pundak Anna lembut.


"Gak pa-pa, Bunda. Lagian Anna ke sini juga kan kangen juga pengen ngobrol sama Bunda, bukan cuma mau ketemu sama Maira aja, kok!" Anna tersenyum kemudian memeluk Bunda Ima dari samping.


Sikap manja Anna tidak hanya kepada Mama nya dan Tante Melly. Tapi juga kepada Bunda Ima. Ia memang mempunyai sikap manja, ceria, berani dan mudah bergaul.


"Kamu ini... " Bunda Ima membalas pelukan dengan sayang. "dengar-dengar dari Maira sudah ada yang mau mengkhitbahnya nih," celetuk Bunda Ima membuat Anna mendongak menatapnya lalu perlahan melepaskan pelukannya.


"Itu dia Bunda, yang sedang Anna risaukan sekarang ini! Anna tidak bisa menerimanya. Ada hal yang sulit jika Anna menerima pria itu."


Bunda Ima mengerutkan alis. Ingin bertanya lebih jauh tapi ia tidak berani ikut campur. Hanya nasehat yang ia berikan kepada Anna.


"Bunda tidak akan bertanya alasannya kenapa, tapi Bunda harap keputusanmu yang terbaik, sudah di pikirkan bagaimana sisi baik dan buruk jika keputusan itu di buat." Anna mengangguk paham. Kemudian Bunda Ima kembali berkata. "Semoga semua keputusan bisa membawamu dalam kebaikan dan siapapun nanti jodohmu bisa mengajarkan dan membimbing Anna dalam agama yang belum lama kamu anut ini. Karena kamu masih harus banyak belajar, Sayang!"


Wajah Anna berbinar senang. Beginilah jika berada dalam keluarga Maira. Ketenangan hati pasti di dapatnya. Nasehat bijak selalu ia dapatkan. Selain dari Tante dan Mamanya.


"Dek, Mas ada perlu dulu sebentar! Mas pergi dulu, ya? apa kamu mau nginap di sini?" tanya Rayyan saat kembali dari luar.


"Anna mau pulang, Mas. Gak enak sama Tante Melly. Kira-kira Mas Rayyan lama tidak?" Anna menyipitkan matanya. Sebentar Rayyan itu bisa jadi sampai berjam-jam, Anna tidak mau menunggu gak jelas.


"Sebentar, beneran!" ucap Rayyan seperti memastikan.

__ADS_1


Padahal dirinya juga belum yakin waktu yang ia gunakan sebentae atau lama karena yang menelponnya barusan adalah Wina. Wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu tahu keberadaan Rayyan di Bogor karena status WA nya yang menunjukan bahasa dirinya sedang ada di daerah sana. Wina langsung menghubungi Rayyan minta bertemu. Tak bisa membantah karena Wina terus saja mengiriminya chat akhirnya Rayyan memutuskan untuk bertemu di suatu tempat yang jaraknya tak jauh dari rumah Maira, agar Rayyan bisa cepat kembali ke sana.


Setelah Anna menyetujuinya, Rayyan pamit kepada Bunda Ima. Meninggalkan rumah sang pujaan hati demi bertemu mantan yang tinggal kenangan tapi bisa di ajak kangenan.


"Bun, Anna boleh nunggu Maira di kamar nya gak?" ijin Anna. Kamar termasuk daerah pribadi. Anna pasti di ijinkan masuk oleh si pemilik kamar tanpa harus ijin dulu, tapi rasanya tidak sopan kepada pemilik rumah.


"Boleh atuh, kenapa harus bilang dulu. Iya, di kamar saja biar bisa nunggu sambil tiduran."


Anna pun pamit ke kamar Maira. Kamar yang ada di lantai dua rumah tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucapnya saat memasuki kamar. Meskipun Anna tahu tak ada orang di dalam kamar tersebut tapi mengucapkan salam ketika tidak ada orang di dalam ruangan kosong akan memberikan keberkahan dan


perlindungan kepada orang yang mengucapkannya.


Anna meletakkan tasnya di atas tempt tidur.Ia duduk di tepi kasur. Di kamar ini Anna sering menghabiskan waktu bersama Maira kalau dia menginap di sana. Foto Anna dan Maira terpasang pada figura kecil yang di letakkan di atas nakas dekat lampu tidur. Saat itu Anna belum berhijab.


Belum ada foto berdua saat Anna sudah menjadi muslim dan merubah penampilannya.


Anna tersenyum melihat foto tersebut.


Di samping figura ada satu benda yang membuat Anna penasaran. Buku hitam tebal, mirip diary. ia tak pernah melihatnya selama ini. Di abaikan ya benda tersebut meskipun mata Anna kembali melirik benda tersebut.


Itu barang milik pribadi Maira, ia tidak mau menyentuh nya saat si pemilik benda tersebut tidak mengijinkan.


Brakk!!


Buku jatuh ke bawah bersamaan dengan keluarnya foto yang terselip di dalam buku tersebut.


Anna memicingkan matanya melihat gambar yang ada dalam foto tersebut. Ia seperti sangat mengenal wajah itu.


"Kok mirip Bang Abbas!" Anna berjongkok, meraih lembar foto yang jatuh itu.


"Benar ini Bang Abbas." Anna tersenyum melihat foto pria yang namanya ada dalam hati Anna. Tapi ia kembali memicingkan matanya melihat tanggal yang tertera di pojok bawah foto tersebut.


"Dua tahun yang lalu? Apa Maira mengenal Bang Abbas sudah lama?" pikir Anna. Ia membalikkan foto Abbas yang tersenyum, ada satu bait tulisan yang membuat Anna tercekat membeku.


'Kutemukan Cinta Dalam Tasbih, Abbas El Amin, pria yang mampu membuat diri ini berdosa karena selalu merindukannya. Berharap Sang Pemilik hati bisa menyampaikan Cinta sendiri ini.' ☺ ❤


Di ujung bait tersemat emoji senyum dan love.


Anna menutup mulutnya sendiri, membaca baitntulisan tangan Maira di sana. Jadi pria yang selama ini di tutupi identitasnya adalah Abbas. Mereka mempunyai perasaan yang sama kepada satu pria.

__ADS_1


Sesak, sedih, dan merasakan bersalah seakan menusuk relung hati Anna.


Gadis itu mulai penasaran dengan catatan yang jatuh terbuka itu. Sepertinya itu adalah catatan isi hati Maira. Karena setahu Anna, Maira jarang bercerita kepadanya masalah pribadi, apalagi mengenai perasaannya.


Anna mulai menyentuh buku harian itu. Ada rasa takut, karena ia belum mempunyai ijin dari si pemilik buku untuk membacanya. Tapi rasa penasaran untuk mengetahui lebih lanjut isi goresan tinta yang tercurah dalam kertas putih itu makin besar.


Anna mulai membaca selembar demi selembar curhatan Maira dalam buku hariannya.


Itu tertulis dun lalu berarti sebelum Anna dekat Maira.


Curahan hati yang tersirat kebahagiaan di tiap lembarnya. Semakin Anna membaca lebih banyak goresan , hatinya makin tercabik. Tidak banyak yang tertulis di sana. Karena Maira menulis isi hatinya setiap kalo usai bertemu Abbas di Masjid Az-zikra. Tempat yang menjadi pertemuan pertamanya dengan Abbas.


Awalnya Maira ikut dengan Bunda Ima ke pengajian bulanan itu, tapi seriring berjalannya waktu, Maira terbiasa sendiri menghadiri pengajian itu, karena Bunda Ima mulai di sibukkan dengan usahanya.


Bunda dari Maira hanya sempat ikut pengajian di sekitar komplek perumahannya setiap minggu saja.


Setiap awal bulan jadi rutinitas Maira pergi ke Sentul, Bogor. Sampai Ia kenal dengan Anna di kampus. Anna yang saat itu masih berbeda keyakinan dengan Maira selalu ikut dengan Maira ke acara keagamaan Islam. Keduanya merasa cocok untuk berteman, sampai pertemanan itu terus terjalin seperti saudara hingga detik ini.


"Berarti Maira sudah menyukai Bang Abbas dari dulu sebelum aku kenal sama Abang!" lirih Anna sedih.


Rasanya tak sanggup meneruskan bacaan curhatan hati sahabatnya itu.


"Kenapa kamu tidak berterus terang sama aku, Mai? berarti selama ini curhatanku tentang Bang Abbas membuat hatimu sakit." Anna mulai menyalahkan dirinya karena tidak pernah peka dan tidak tahu perasaan Maira.


Kebenaran yang begitu pedih yang ia rasakan malam ini.


Rasa bersalah makin bertambah, ingin bertemu Maira untuk mencurahkan keresahan tentang masalahnya, Anna malah mendapat hal yang makin menahan beban di hatinya semakin besar.


Rasa bersalah pada Maira dan Abbas. Anna diam sejenak Ia duduk di lantai kamar sambil memeluk lututnya yang di tekuk.


Ingat dengan kewajiban solat yang belum ia laksanakan. Anna bergegas untuk menjalankannya. Mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan akan setiap kejadian yang ia alami belakangan ini.


Sungguh sangat berat untuknya memilih. Keinginan Papanya, Perasaan cinta nya kepada Abbas, atau Sahabatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2