
"Maaf... Bu... Dek... Abang harus pergi dulu. Andai saja peninjauan ini bisa diwakilkan akan ku lakukan," ucap Abbas merasa tak enak hati baru saja Bu Lidia sampai sudah ia tinggal.
"Tidak pa-pa, Nak. Pergilah!" Balas Bu Lidia yang mengerti dengan pekerjaannya anak angkatnya itu.
Akhirnya Abbas pergi meninggalkan kedua wanita yang sangat berarti bagi hidupnya itu.
***
Kabar pernikahan Abbas yang di dengar oleh Pak Le Mahmud juga sampai di telinga Riska.
Gadis yang sebentar lagi menjalani operasi itu mendadak tidak menyetujui jadwal operasi yang sudah ditentukan oleh rumah sakit.
"Aku tetap tidak mau operasi, Yah?" tolak Riska kepada pak Irwan, ayahnya.
"Nak, kalau kamu menolak operasi kali ini, kapan lagi kita mendapatkan donor mata yang cocok untukmu." Pak Irwan mencoba membujuk Riska.
"Aku mau Abbas bertanggung jawab, Yah! Dia harus mengikuti amanah orang tuanya." balas Riska di sela kesedihannya.
__ADS_1
Pak Irwan menghela napas berat. Ia sudah memperkirakan ini. Riska putrinya telah jatuh cinta kepada Abbas. Meski gadis itu tidak bisa melihat wajah Abbas tapi perasaannya bisa mengetahui kalau Abbas adalah orang yang selama ini bertemu dengannya di rumah sakit. Perasannya semakin kuat saat Pak Irwan memberitahu dan menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Riska.
Setelah mengetahui bahwa Abbas adalah orang yang akan bertanggung jawab akan dirinya, Riska lebih bersemangat. Apalagi saat tahu Abbas masih sendiri, Riska selalu mencoba mendekati Abbas dengan alasan mengabarkan perkembangan pengobatannya.
Hubungan Abbas dan Anna memang tak ada yang mengetahui. Sebab menang mereka tak pernah menjalin hubungan. Anna dan Abbas ingin menjalani masa pacaran setelah menikah. Dan harapan mereka terkabul meski harus melewati berbagai rintangan terlebih dulu.
"Kamu sudah dengar kabarnya dari Pak le nya Abbas 'kan? Tidak mungkin dia mau menikahimu. Dia berjuang mendapatkan donor mata saja berarti dia menolakmu, Nak! Setelah bisa melihat nanti kamu akan lebih banyak melihat dan menemukan pria yang lebih baik dari Abbas. Abbas sudah bahagia dengan pilihannya." terang Pak Irawan memberi pengertian kepada Riska yang saat ini menyendiri di dalam kamarnya.
"Aku mau buat jadi yang kedua, Yah!"
"Astaghfirullahalazim... Istighfar, Nak! Kita tidak bisa memaksakan perasaan orang lain." Pak Irawan seakan kehabisan akal untuk membujuk Riska.
"Itu jika operasinya berhasil, jika tidak? Apakah aku masih bisa berharap Abbas akan bertanggung jawab atas perbuatan almarhum orang tuanya?" sela Riska membantah ucapan ayahnya.
"Kamu berdoa saja, jika memang Abbas memang jodohmu meskipun kamu dijadikan yang kedua." Pak Irwan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia meninggalkan Riska yang masih saja dengan pendiriannya. Ingin membatalkan operasi agar tetap dalam kebutaan dan berharap Abbas akan bertanggung jawab kepadanya.
Cinta sudah membuat Riska menjadi keras kepala. Ia belum merasakan dan mencoba melihat dunia ketika ia melihat nanti. Kebaikan Abbas dan perhatiannya saat gadis itu tidak bisa melihat membuat hati Riska hanya terpaut kepada Abbas.
__ADS_1
Aku memilih tidak bisa melihat tapi bisa memilikimu, Daripada ketika aku bisa melihat, aku akan kehilanganmu.
Riska terdiam seraya memainkan jemarinya. Hatinya bingung dan bersedih saat mendengar Abbas sudah bersanding dengan wanita pilihannya. Riska menjadi egois karena menginginkan Abbas. Pria yang selalu memperlakukan nya dengan baik dan selalu mendengarkan keinginan saat ia mengeluarkan keluh kesah dalam penglihatannya.
Semua Abbas lakukan bukan berarti ia suka dengan Riska. Abbas hanya ingin gadis itu bersemangat untuk sembuh dan bisa melihat dunia luar.
Cinta Abbas tetap utuh untuk Anna. Apalagi sekarang mereka telah bersatu. Tapi Abbas tidak tahu harus berbuat apa jika usahanya agar mengembalikan penglihatan Riska gagal. Ia harus tetap memenuhi ucapannya tempo hari. Tetap bertanggung jawab atas apa yang sudah menjadi perjanjian antara orang tua meraka.
Lalu bagaimana dengan Anna, apakah ia sanggup menerimanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca kelanjutan ceritanya ya..