
Panggilan dari Rio kepada Abbas menjadi tanda usainya obrolan seru antara mereka bertiga.
Abbas pamit keluar sebentar untuk menerima panggilan telepon.
“Om... Pah... Aku angkat telepon dulu!” Pamit Abbas dan mendapat anggukan dari mereka berdua.
Anna, Tante Melly dan Nama Ami juga asik mengobrol dengan bahasan yang berbeda.
Tak lama Abbas kembali, ia menghampiri Anna.
“Dek!” Panggil Abbas.
“Ada apa, Bang?” jawab Anna seraya berdiri mendekati Abbas.
“Abang harus pergi ke pembangunan kantor cabang, rekan bisnis yang dari Jakarta sudah datang.”
“Oh, ya sudah! Aku bantu siap-siap. Abang juga belum sarapan ‘kan?”
“Tidak perlu biar Abang sarapan di sana saja, sekarang masih kenyang!” ungkap Abbas.
“Ada apa, An... Bas?” tanya Mama Ami penasaran.
“Bang Abbas mau ke kantor dulu, Mah. Ada rekan bisnisnya datang dari Jakarta!”
“Oh, ya sudah. Bantu suamimu siap-siap!”
Selagi Anna berbicara dengan Mama Ami, Abbas pamit kepada Papa Reno dan Om Anwar. Mereka mengerti dengan kesibukan Abbas.
Di kamar Anna.
“Abang yakin gak mau sarapan dulu, aku bisa buatkan kok!” ucap Anna seraya memakaikan dasi kepada Abbas.
“Enggak usah, dek! Tapi biasanya kalau pagi sebelum berangkat ke kantor, Abang terbiasa sarapan!” Ucap Abbas seakan memberitahu kebiasaan Abbas jika di pagi hari.
“Tuh, ‘kan?” tangkas Anna. “Aku buatkan sarapan aja, ya?”
“Besok saja!”
__ADS_1
Akhirnya Anna menuruti ucapan suaminya. Kemudian mengantarkan sampai di depan teras rumah. Tak lupa mencium tangan sebelum Abbas pergi.
Anna masuk ke dalam rumah setelah melihat kendaraan suaminya tidak terlihat lagi dari pandangannya.
“Selamat siang, Pak Abbas!” sapa Galen sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Selamat siang juga, Pak Galen! Bagaimana kabar Anda?” balas Abbas dengan sopan dan ramah.
“Saya kira Anda tidak bisa datang untuk peninjauan kali ini dengan saya! Secara pengantin baru bawaannya itu tidak mau lepas sama pasangan,” ucap Galen menggoda Abbas.
“Saya harus profesional dalam bekerja, Pak Galen. Ada saatnya saya cuti untuk itu.”
Galen mengangguk. “Ternyata Anda disiplin dalam bekerja.” Tutur Galen.
Tak lama kedua pimpinan perusahaan itu bercengkerama. Selanjutnya Galen dan Abbas pergi ke gedung yang sesungguhnya dalam proses pembangunan itu.
Abbas di temani Rio dan beberapa orang yang dipercaya untuk mengawasi pembangunan. Sama halnya dengan Galen. Pria itu ditemani Aldo, asistennya yang setia menemaninya.
Aksara grup sangat berpengalaman dalam mendirikan bangunan tinggi pencakar langit. Sebab itulah Abbas mempercayakan pembangunan kantor cabangnya di Surabaya kepada Galen. Perusahaan yang sudah terkenal dengan kesuksesannya dalam membangun gedung pencakar langit yang kokoh dan kuat.
Banyak yang mereka bicarakan termasuk pernikahan dadakan yang Abbas lakukan.
“Sorry... Gue sempat mengira lo menikah karena digerebek atau MBA ( Married Bye Accident),” celetuk Galen dan mendapat kekehan renyah dari Abbas.
Di saat berdua seperti sekarang ini, nada bicara mereka Terdengar santai. Layaknya seorang teman, sangat berbeda ketika bersama para petinggi perusahaan yang lain. Pasti gaya bicara Galen akan berubah menjadi formal.
“Gue gak sebenar itu, Gal!” elak Abbas.
Obrolan terus berlanjut semenjak kerja sama pertama yang mereka lakukan. Abbas dan Galen menjalin pertemanan dengan baik.
Galen lebih dulu mengakhirinya obrolannya. Ia harus segera kembali ke Jakarta. Sebelum pulang pria itu harus pergi dulu ke tempat oleh-oleh sesuai permintaan saat istri, Aline yang meminta makanan dan oleh-oleh khas Surabaya.
“Apa perlu Gue antar?” Abbas menawarkan diri saat mereka berdua keluar dari kafe.
“Oh... No, nanti orang ngira kita belok jalan berdua!”
__ADS_1
Abbas lekas memukul bahu Galen dengan kepalan tangannya.
“Gue masih normal!”
Galen dan Abbas tertawa renyah
“Kapan kita ajak istri, agar mereka juga saling kenal?” tanya Galen saat mereka sampai di parkiran kafe.
“Kita atur jadwal untuk itu,” jawab Abbas.
Mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing.
Abbas kembali ke lokasi pembangunan menyelesaikan tugas yang harus Abbas selesaikan dalam beberapa hari ini. Sebab Abbas harus kembali ke Bogor. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama di sana.
Sedangkan Galen harus merasakan kerepotan berbelanja oleh-oleh. Sebab banyak yang Aline pesan. Daripada salah ketika sampai di Jakarta. Galen mencari jalan aman. Ia membeli semua jenis makanan dan beberapa jalanan yang di jajakan di tempat perbelanjaan oleh-oleh.
Aldo sampai menggelengkan kepala dengan kelakuan bos nya itu. Pasalnya mobil mereka tidak muat untuk oleh-oleh yang Galen beli. Sehingga Aldo harus menghubungi Rio, meminta tolong untuk mengirimkan oleh-oleh itu melalui jasa pengirimannya.
Aldo pulang ke Jakarta tanpa oleh-oleh karena semua pesanan Aline harus di kirim lewat jasa pengiriman. Tidak mungkin membawa barang sebanyak itu naik pesawat terbang. Jadi, Aldo mengirmnya lewat perjalanan darat.
Rio, asisten Abbas pun ikut menggelengkan kepala saat mendapat foto yang di kirim pekerjanya. Ia menyuruh beberapa kurirnya untuk mengambil barang-barang Galen di pusat perbelanjaan oleh-oleh dan meminta bukti barang yang ada di sana.
“Gila... Ini sih bukan beli oleh-oleh tapi mau buka toko di Jakarta. Satu mobil box aja kurang, harusnya satu kontener ini mah!” celetuk Rio setelah membuka gambar yang ada pada chat nya.
Abbas yang ada di samping Rio ikut penasaran. Ia pun melihat gambar yang ada di ponsel Rio. Sama seperti asistennya, Abbas pun ikut terkejut kemudian menggelengkan kepala dan tersenyum heran.
“Kalau pembeli oleh-oleh seperti dia semua. Pusat perbelanjaan itu bisa kaya mendadak.” Abbas menimpali.
Rio dan Abbas bersiap keluar dari area pembangunan. Abbas sudah tidak menginap di hotel lagi bersama Rio. Sedangkan asistennya itu masih tetap stay di sana sampai pekerjaan Abbas selesai.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung