
Lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi menandakan kegiatan di dalam ruangan itu sedang berlangsung.
Rio duduk di bangku besi dengan mengatup kedua tangan yang menyangga dahinya sambil memejamkan mata.
Berharap kondisi seorang wanita di dalam sana terselamatkan.
“Maafkan saya! Saya benar-benar kehilangan kendali!” ujar seorang wanita muda mendekati Rio. “Gadis itu tidak melihat lampu hijau di sana. Seharusnya dia tidak menyeberang saat itu!” Lanjutnya.
Rio lekas mendongak menatapnya. “Riska tidak bisa melihat! Dia seorang tunanetra!” Rio menjelaskan.
“Ya Allah! Kenapa dia berjalan seorang diri, itu sangat berbahaya!” ujar wanita itu sambil ikut duduk di samping Rio.
“Saya Risma, saya akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tapi tolong jangan laporkan saya ke polisi kita bicarakan ini baik-baik secara kekeluargaan!” pinta Risma sambil menatap Rio penuh harap.
Sebab ia tidak mau berurusan dengan polisi.
“Anda bicarakan saja dengan keluarganya, nanti! Saya hanya teman gadis itu.”
Risma menghela napas berat mendengar ucapan Rio. Ia berdoa dalam hati semoga keluarga gadis itu yang ia tabrak mau diajak berdamai dengannya.
***
Seminggu telah berlalu, Riska masih belum juga sadar.
Setelah pertemuan keluarga di rumah sakit saat kejadian sore itu. Akhirnya keputusan Damai di sepakati oleh keluarga Risma dan Riska.
Tante Melly tidak menyangka jika gadis yang ditabrak putrinya adalah wanita yang akan dinikahi Abbas seperti apa yang Anna ceritakan kepadanya.
Bu Ratmi yang masih berada di dalam ruangan menemani putrinya. Sedangkan Anna, Abbas, Tante Melly, Om Anwar dan Pak Irwan sedang berada di cafe rumah sakit yang letaknya berada di lantai dasar.
Pak Irwan meminta semuanya berkumpul. Ada yang ingin beliau sampaikan baik kepada Abbas maupun kepada Risma orang yang sudah menabrak Riska. RI yang baru saja datang karena panggilan dari Abbas lekas mendekati bosnya.
“Tolong gantikan Bu Ratmi sebentar, agar dia bisa ikut dalam keputusan yang akan di ambil sekarang ini!” bisiknya pada Rio dan mendapat anggukan dari asistennya itu.
“Siap, Pak!” Rio pun berlalu dari kumpulan orang-orang itu.
Pak Irwan menarikan napas panjang kemudian berkata. “Saya minta Abbas segera menikah Riska usai Riska sadar dari komanya!” ucap Pak Irwan sambil tertunduk menahan tangis.
“Seperti yang sudah saya dan istri saya janjikan kepada keluarga Pak Irwan. Saya siap kapan pun,” balas Abbas kemudian menoleh ke arah Anna yang ada di sampingnya. Tangan Abbas meraih tangan Anna dari bawah meja. Menautkan jemari mereka. Seakan memberi kekuatan pada istrinya.
__ADS_1
Abbas tahu meskipun Anna ikhlas dan siap, tapi hatinya sedang berusaha menerimanya.
Pak Irwan dan Om Anwar mengangguk mendengar ucapan Abbas.
“Apa kamu mengijinkannya?” tanya Pak Irwan sambil menatap Anna menunjukkan pertanyaan itu kepadanya.
“Saya mengijinkannya, Pak! Bapak tidak perlu khawatir saya tidak akan mencegah atau menghalangi tanggung jawab suami saya kepada putri bapak!” Anna berbicara santai tapi tegas.
“Syukurlah! Saya tidak mau Riska kembali bersedih. Akhir-akhir ini dia terlihat murung. Ia merasa bersalah jika terus melanjutkan amanah ini sebenarnya Riska ingin mengakhirinya. Ia sudah ikhlas menerima keadaan yang terjadi padanya. Saya tidak yakin jika dia masih semangat hidup kalau dia tahu kakinya tidak bisa bergerak akibat kecelakaan itu!” Pak Irwan berbicara dengan nada pilu dan sedih. Ucapannya bergetar saat mengatakan itu.
“Maksud bapak, Apa?” tanya Tante Melly penasaran.
“Dokter bilang kemungkinan Riska tidak bisa berjalan. meskipun hanya sementara tapi itu akan berlangsung lama. Sebab tulang kaki kanan retak dan dengkul sebelah kiri mengalami cedera parah akibat benturan keras itu.” Pak Irwan menjelaskan dengan sedih.
Ia tidak menyangka putrinya akan kembali mengalami hal yang begitu berat untuknya.
“Dulu, akibat kecelakaan waktu kecil Riska menjadi buta, sekarang akibat kecelakaan yang terulang lagi, putriku tidak bisa berjalan. Apa salah saya pada Sang Pencipta sehingga Dia memberikan ujian seberat ini untuk kami!”
Semua yang berada di sana begitu pilu mendengar ucapan Pak Irwan. Tidak musibah yang dialami Riska begitu berat.
“Pah ... Bagaimana jika Risma tahu akibatnya bisa separah ini! Dia pasti sangat sedih dan merasa bersalah!” ucap Tante Melly pelan kepada Om Anwar dengan wajah yang ikut bersedih.
Om Anwar tidak bisa membalas apapun. Beberapa hari ini Om Anwar melihat Risma yang biasanya cuek dan santai beberapa hari ini terlihat gelisah. Risma selalu mengutarakan ketakutan yang kepada mamanya. Sampai ia tidak mau mengendarai mobil sendiri. Rasa takut dan trauma sepertinya dialami oleh Risma.
Anna dan Abbas juga ikut bersedih mendengarnya.
“Oleh karena itu, saya minta agar Nak Abbas menikahi Riska segera!” pinta Pak Irwan.
“Suami saya akan melakukan itu! Pak Irwan jangan khawatir, saya bisa menjamin itu!” Anna yang membalas ucapan Pak Irwan kemudian menatap Abbas sambil menganggukkan kepala pelan pada suami tercintanya itu. Anna memejamkan mata setelah berbicara sangat terlihat wajah pucat dari dirinya. Sesekali ia memijat kening karena rasa pusing dan mual tiba-tiba saja ia rasakan.
Di ruang Perawatan.
Akibat semalaman tidak bisa tertidur karena pikiran yang terus berpusat pada gadis di hadapannya ini. Rio terlelap di sisi Riska.
Tangannya memegangi jemari Riska. Selama Riska belum sadarkan diri setiap kali pulang dari kantor Rio ‘lah yang ikut bergantian dengan orang tua Riska untuk berjaga. Awalnya Pak Irwan melarang tapi Rio beralasan bahwa ini perintah dari bosnya, Abbas. Sehingga Pak Irwan tidak bisa menolak padahal semua hanya ide Rio semata agar bisa tahu perkembangan Riska.
Abbas hanya memerintahkan kepadanya agar selalu memberi kabar jika Riska sudah sadar. Sebab beberapa hari ini kondisi Anna kurang baik. Anna menjadi lebih sensitif dan tidak mau di tinggal pergi oleh Abbas.
Bahkan saat kerja pun terkadang Anna ingin ikut bersama Abbas. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Jemari Riska bergerak seiring kelopak mata yang terbuka perlahan. Rio tidak tersadar dengan gerakan itu. Pria itu masih saja menutup matanya.
Riska beberapa kali mengerjapkan mata. Ada hal lain yang terjadi pada penglihatannya. Sehingga Ia langsung menarik tangan yang berada dalam genggaman Rio.
Mendapat gerakan cepat yang Riska lakukan Rio langsung tersadar dari tidurnya.
“Riska, kamu sadar?” Rio lekas berdiri dari duduknya.
Ingin membalas ucapan Rio tapi hal lain Riska rasakan sehingga membuat gadis itu kembali terkejut.
“Kakiku kenapa tidak bisa di gerakkan, Kak?” tanya Riska dengan surat tercekat ketakutan. Perasaan tidak enak dirasakan olehnya.
Riska menggelengkan kepada lemah. “Aku tidak mungkin lumpuh!” Riska mengutarakan isi pikirannya.
Ia sudah berpikir kalau dirinya lumpuh karena di bagian kedua kaki telah di balut medicrepe.
“Kakimu hanya mengalami retak dan patah saja. Pasti akan sembuh! Kamu tidak perlu khawatir!” Rio mencoba menenangkan Riska.
Melihat reaksi Riska yang menangis histeris. Rio lekas memencet tombol darurat. Tak lupa menghubungi Abbas memberitahunya bahwa saat ini Riska sudah sadarkan diri.
Abbas yang menerima kabar dari Rio langsung memberitahu semuanya. Kesepakatan sudah di ambil oleh Abbas dan Pak Irwan. Dan mengenai perawatan Riska kali sepenuhnya Om Anwar yang mengambil alih sebagai bentuk rasa tanggung jawab Risma.
Bu Ratmi dan Pak Irwan segera bergegas keluar dari cafe itu, tak sabar ingin segera mengetahui kondisi Riska usai tersadar dari masa kritisnya.
Di susul oleh Tante Melly dan Om Anwar. Sebelum beranjak Tante Melly mengingatkan Anna agar memeriksakan diri ke dokter selagi mereka berada di rumah sakit. Tante Melly merasa khawatir dengan raut wajah Anna yang terlihat pucat.
“Ingat ucapan Tante! Setelah diperiksa sebaiknya istirahat. Wajahmu terlihat pucat sekali, An!” ujar Tante Melly.
“Iya, Tan!” balas Anna sambil tersenyum kemudian ikut menyusul Bu Ratmi dan Pak Irwan yang sudah beranjak lebih dulu dari mereka.
Di bantu Abbas, suaminya. Anna menggandeng lengan kekar itu. Berjalan pelan menuju ruang perawatan Riska.
Sembari berjalan pelan Abbas mengajak Anna memeriksakan diri lebih dulu, tapi dia menolak. Anna ingin tahu kabar Riska lebih dulu. Meskipun kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi Anna tetap bersikeras untuk ke sana.
Bersambung
....
Semangat .... semangat.... Author lagi menyemangati diri sendiri biar gak males.... Aduh maafin kemarin bolong lagi...
__ADS_1