
Rara tersenyum menanggapi pertanyaan wanita yang sedang memoles wajahnya, andai mbak Kamila tahu yang sebenarnya pasti dia akan kasihan padaku atau menganggap diriku murahan, gumam Rara dalam hati.
"Sebenarnya, mas Reno baik kok, Mbak. Cuma sama orang yang ngga dia kenal aja dia kaya gitu," Rara berusaha membela Reno, pria yang menjadikan dirinya pacar sewaan.
"Benar'kah? Wah berarti Tuan Reno itu beruntung," mbak Kamila berujar seraya tangannya meratakan pelembab di wajah Rara.
"Kamu ngga pernah perawatan ya? Kenapa? Kan pacar kamu kaya," mbak Kamila mencecar Rara dengan banyak pertanyaan.
"Dan tadi yang kamu pakai itu seragam minimarket bukan?" mbak Kamila akhirnya bertanya karena penasaran, bibir tipis Rara melengkung.
"Walau pacar saya kaya, saya ngga mau mbak di kira matre," Rara memejamkan mata saat mbak Kamila memberi kan bedak padat, "jangan tebal-tebal ya mbak," Rara mengingatkan. Rasanya aneh memakai bedak tebal, seperti donat di pakaikan gula menurut Rara.
"Iya," jawab mbak Kamila, "lagi pula kamu itu aslinya cantik dan tidak membosankan, asal rajin merawat wajah," mbak Kamila menambahkan pernyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
'Gimana mau perawatan, uang gue aja selalu habis buat berobat ayah dan makan kami bertiga,' Rara menjadi sendu, mbak Kamila mengambil lipstik berwarna pink, sangat cocok dengan kulit Rara yang aslinya berwarna putih.
"Sudah," kata mbak Kamila mantap, "ganti bajunya gih!" mbak Kamila memerintah dan masih meneliti apa yang kurang, bisa habis gaji suaminya jika Tuan Reno tidak puas lalh protes ke pemilik apartemen dan menyuruh mereka memecat suaminya.
Rara bergegas berdiri dan melangkah menuju kamar mandi tidak lupa membawa gaun yang telah Reno pesan untuk Rara. Rara berdecih pelan, "cih, kenapa gaunnya kurang bahan begini!" gerutu Rara setelah melihat gaun itu menempel di tubuhnya.
Rara segera keluar kamar mandi setelah menetralkan perasaan canggungnga, mbak Kamila bersiul seraya tangannya membentuk huruf 'o' saat melihat Rara.
Tubuhnya yang di kira krempeng ternyata padat saat memakai gaun ketat, dan yang mencetak asetnya bagian atas, lagi-lagi mbak Kamila bersiul lalu berdiri dan mengitari Rara.
"Kenapa lama sekali?" Reno tiba-tiba masuk dan membuka pintu, beruntung Rara sudah berganti pakaian, "maaf, Tuan," mbak Kamila merasa menyesal. Mata Reno tidak berkedip menatap penampilan Rara yang baru.
"Cantik," desis Reno pelan, dan beruntung tidak di dengar Rara.
__ADS_1
"Kurang rambut nya saja kok, Tuan," mbak Kamila mengambil catok rambut dan menuntun Rara duduk kembali di meja rias.
Mbak Kamila menancapkan kabel catok itu ke stop kontak, menunggu catok itu panas terlebih dahulu, sambil menunggu panas, mbak Kamila mengambil vitamjn rambut dan mengusap-usapkan di rambut Rara yang panjang dan terurai.
Reno berjalan menuju sofa, matanya tidak lepas dari gadis yang telah berubah penampilan.
Reno tersenyum saat mengingat tadi mengejek gadis itu kerempeng.
"Ceritakan tentang dirimu," Reno berkata seraya memyandarkan bahu kokohnya di sofa, mata elangnya terkunci pada satu obyek, Rara.
Rara bercerita tentang kesehariannya, tentang ayahnya dan tentang adik perempuan nya yanh sedang mencari kerja, Reno manggut-manggut mendengar cerita tentang gadis yang dia sewa, yang menbuat Reno salut adalah gadis ini jadi tulang punggung sejak kelas tiga SMP.
Karena setelah sang bunda meninggal, sang ayah kepikiran dan menjadi sakit-sakitan, dan Rara harus bekerja setelah pulang sekolah. Rara melihat mata mbak Kamila basah, apa dia menangis? Kenapa? Perasaan tadi tuan Reno atau pria tua itu tidak berkata kasar.
__ADS_1