
Rara mendengus sebal, diremasnya ponsel yang sedang dia genggam. Kakinya melangkah dengan lebar keluar dari ruangan tempat para karyawan beristirahat dan menyimpan barang-barang mereka.
Kedua netra Rara menyisir tempat kasir, hanya ada Rania di sana, lagi Rara mendengus sebal. Saat akan kembali ke meja kasir Rara menemukan seseorang yang sedang dia cari, setengah berlari Rara menghampiri orang tersebut, lalu menariknya agak menjauh dari meja kasir.
"Maksud loe apa ngaku-ngaku jadi calon suami gue?" ketus Rara, sedang pemuda itu menggaruk kepala bingung.
"Kita ini teman, Jar. Aku ngga mau ada hubungan lebih dari itu," tutur Rara mulai melunak. Fajar, orang yang mengirim makanan dan mengatakan calon suaminya Rara tersenyum.
"Ra, gue thu sayang sama elu. Sejak pertama bertemu gue udah naksir elu," Fajar meraih tangan Rara namun segera di tepisnya.
Rara memilih mengalihkan pandangan kedepan, hatinya bersorak kala Fajar, pemuda yang dia taksir juga memiliki rasa padanya. Akan tetapi dia terjebak, terjebak dengan perjodohan yang ayah dan para sahabatnya lakukan, terjebak pada pria yang menyewanya menjadikan dirinya kekasih.
Fajar adalah orang pertama di minimarket tempat dia bekerja yang dengan sabar mengajarinya berbagai macam hal, karena terbiasa dia jadi sedikit tergantung kala itu. Rara mendesah bimbang.
__ADS_1
"Ra, gue serius sayang sama elu. Mau ya jadi pasangan gue, gue janji ini hanya kita yang tahu. Rania, mbak Susi dan yang lainnya belum saatnnya tahu. Please Ra, terima gue," Fajar berkata lirih dengan nada memohon, takut Rania mendengar dan mengolok-olok hubungan itu.
"Entahlah," jawab Rara yang langsung meninggalkan Fajar dan membiarkan memandang dirinya.
"Dari mana saja kok lama? Untung sepi, kalau rame bisa berabe," cerosos Rania begitu Rara sudah kembali di sampingnya, di meja kasir. Rara hanya tersenyum dan menggeleng, bingung ingin mengatakan alasan apa yang harus dia sampaikan karena terlalu lama meninggalkan meja kasir.
Kedua netra Rara melirik makanan yang Fajar kirim, hatinya menghangat kala tahu ternyata Fajar hapal apa yang dia sukai dan dia sering makan. Tangannya yang mungil terulur mengambil makanan tersebut, lalu membukanya.
"Eh gue masih penasaran siapa sih yang ngirim makanan enak ini?" tanya Rania, tangannya mencomot kembali makanan itu.
"Calon suami Rara," tiba-tiba Fajar datang dan menjawab pertanyaan Rania, kedua netra Rania menyipit heran, "kok loe tahu?" Rara menjadi salah tingkah.
"Lha bukannya tadi pak ojol ngomong kaya gitu? loe nggak denger? Gue aja yang di situ denger." ucap Fajar seperti bernada mengejek, Rara hanya menunduk mendengarkan obrolan kedua orang itu. Ponselnya bergetar, nama MAS RENO GANTENG terpampang di sana.
__ADS_1
(Maaf, sepertinya saya tidak bisa menemani ayah kamu lusa. Saya ada meeting ke luar kota selama beberapa hari, mungkin Sabtu atau Minggu baru bisa bertemu.)
Rara tersenyum dalam hati, entah angin segar apa yang tengah berhembus kearahnya. Tadi mbak Susi meminta dirinya lembur atau masuk pagi waktu ayahnya operasi, jadi tidak mungkin bisa menemani ayahnya full.
Lalu tadi, Fajar menyatakan perasaan cintanya. Bisa saja dia mengajak Fajar bertemu ayahnya, tapi dia sudah berjanji dan sudah meminta om Reno menemui ayahnya sebagai kekasihnya. Rara bimbang, ingin sekali dia berteriak melepas gundah di hatinya.
"Ra, kenapa malah melamun?" Rara terlonjak saat Rania menepuk pundak kanannya.
"Hah?" tanyanya bingung.
Hish Rara kok banyak yang suka sih, pilih siapa hayo sekarang.
Sehat terus kawan, terima kasih masih mau membaca karya recehku.
__ADS_1