Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 67


__ADS_3

Perjalanan yang butuh waktu kurang lebih lima jam itu membuat Rara lelah dan mengantuk, di pertengahan jalan Reno memberhentikan mobil nya di masjid.


"Ara, bangun sayang," Reno mengecup seluruh wajah Ara-nya, perempuan itu hanya mengeliat dan menyingkirkan wajah Reno yang membuatnya risih.


"Ra, sholat dulu yuk," Reno menepuk pelan pipi Rara yang semakin terlihat chubby, dan tidak hanya pipi itu yang terlihat bertambah chubby. Bagaimana tidak bertambah, setiap menit Reno menyuruhnya makan, dan menyuruhnya bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting. Lihat saja hasilnya, aset bagian depan milik Ara-nya dan bongkahan bagian belakang cukup membuat Reno kadang tidak bisa menahan diri.


"Hhmm," Rara mencoba membuka netranya, dan seketika terlonjak kaget karena wajahnya dan wajah Reno begitu dekat sehingga membuat dirinya seketika duduk dan mengelus dadanya, "bikin kaget saja," gerutu Rara yang langsung di sambut dengan senyum Reno.


"Sholat dulu, yuk," ajak Reno, ya sekarang mereka lebih sering beribadah berdua jika bersama, kata Oma agar kelak bisa mengajari anak dan cucunya tentang agama.


Jika tidak pasti keduanya terkadang lupa, dan perlu saling mengingatkan lewat chat atau panggilan video call atau lewat suara.


"Sudah sampai?" Rara memandang sekitar, terasa asing baginya. Bagaimana tidak terasa asing, sejak berusia kurang lebih delapan tahun dirinya hanya bersekolah dan membantu bundanya mencari uang. Sampai sekarang pun hanya uang yang dia pikirkan.


"Belum, kita istirahat dulu. Habis itu cari makan siang dan kamu minum vitamin nya, oke?" Reno mengusap pipi Rara dan berbalik membuka pintu lalu keluar.


"Cari apa?" Rara yang baru saja keluar melihat Reno sedang mencari sesuatu, yang di tanya memutar kepala dan melempar senyum membuat Rara memutar bola malas.


"Tadi aku lupa bawa sandal," jawab Reno pada akhirnya, kening Rara mengkerut, "buat apa cari dan bawa sandal," tanya Rara polos.


"Aku tuh risih kalau wudhu nggak pakai sandal," ungkapnya, Rara mengangguk paham.


"Itu ada sandal buat wudhu," tunjuk Rara pada sandal yang berada di depan tempat wudhu. Reno mendesah pelan, Ara-nya tidak mengerti, dia tidak suka berbagi. Harus khusus dia yang memakai sandal itu, entah kenapa dia seperti itu dari dulu.


Senyum Reno merekah saat netra ambernya melihat ada toko kelontong tidak jauh dari masjid tersebut, "kamu tunggu di sini dulu apa masuk lagi aja, ya," pesan Reno, Rara mengangguk dan memilih menunggu di dalam mobil. Reno melangkah menuju toko kelontong itu dan membeli sandal untuknya juga untuk Ara-nya, juga jajanan serta mineral.

__ADS_1


Sedang Rara yang sedang menunggu di dalam mobil, membuka buka laci mobil, mencari sesuatu yang menarik mungkin.


Saat netranya melihat dompet Reno yang tergeletak di atas kemudi, Rara penasaran ingin melihat apa yang tersimpan di dalam sana.


"Apa sih isi dompet dari Om om kaya dia?" gumamnya penasaran, saat pertama membuka Rara melihat foto pemuda berusia sekitar 21 tahun dan seorang gadis berusia sekitar enam atau tujuh tahun sedang memeluk boneka, wajah si gadis kecil itu tidak terlihat karena terhalang oleh boneka yang besar itu.


"Berikan boneka itu, kamu itu nggak pantes dapet barang mahal dan bagus," ucap seorang gadis kecil sambil menarik paksa boneka itu dan suara itu yang tiba tiba terngiang di telinganya, "dan kamu harus menjauhi kak Eno, dia pacarku!" kata gadis kecil itu lagi. Nyuutt nyuutt, tiba tiba kepala Rara berdenyut.


"Ra?" Reno segera masuk begitu melihat Ara-nya meringis, "kamu kenapa?" tanya Reno cemas.


"Sakittt," rintihnya, tangan Rara memegang kepalanya masih menggenggam foto yang dia temukan. Reno menyentak nafas kasar lalu memberikan roti yang untung tadi dia beli juga air mineral jika Ara-nya merasa lapar.


"Makan roti ini dulu, habis itu minum vitaminmu" titah Reno seraya menyodorkan obat vitamin milik Rara.


"Kak, kakak kenapa? Lapar? ini makan kue jualan aku dulu?" bayangan itu tiba tiba datang membuat kepala Rara semakin berdenyut.


"Mereka siapa? Anak kecil itu sering memarahi aku, huhuhuhu," Rara tiba tiba menangis mulutnya mengunyah roti yang Reno suapkan tadi. Reno meringis, pasti masa lalu nya mencoba kembali. Dan anak kecil yang selalu memarahi Ara-nya... Ingin sekali Reno memarahi balik gadis itu.


Rara mengunyah sambil menangis, setelah merasa cukup, Reno mengambil vitamin Rara dan memberikan nya, "minum dulu vitaminnya," Rara menurut dan itu membuat Reno tersenyum senang.


"Sudah baikan?" tanya Reno begitu melihat wajah Rara yang tadinya pucat kini berangsur membaik, "iya," jawab Rara sambil tersenyum kecil.


"Siapa yang ada di foto itu, dan boneka itu... Sepertinya aku tidak asing?" Rara menoleh dan bertanya seraya menunjuk foto yang tengah di pegang Reno.


"Ini?" Reno mengangkat foto itu kearah Rara,dan perempuan itu mengangguk.

__ADS_1


"Ini cinta pertamaku," jawab Reno yang membuat hati Rara tiba tiba berdenyut nyeri, "dan dia penyebab aku tidak mau menyukai wanita lain," imbuh Reno, Rara mengatupkan kedua bibirnya dan mengalihkan pandangan kearah luar. 'Apa kau cemburu, Sayang? Lihat, wajahmu memerah membuatku semakin ingin menggodamu,' Reno berkata dan tertawa dalam hati.


'Apa aku sudah mulai menyukai pria tua ini, mendengar dia mencintai wanita lain hatiku sakit,' gumam Rara dalam hati.


"Tapi kenapa kau kemarin melamarku, dan ingin menjadikan aku istrimu? Bagaimana bila dia datang lalu marah marah padaku?" Rara mencoba memberanikan diri bertanya dan menatap pria bermata amber yang juga tengah menatap dirinya.


"Sudah aku bilang 'kan, aku menikahimu karena aku mencintai kamu," kata Reno yang membuat Rara mendelik kesal, "kau bilang kau hanya mencintai gadis kecil itu?!" sungut Rara kesal.


'Tapi anak kecil itu kamu, Ara sayang,' kata yang hanya mampu Reno ucapkan dalam hati.


"Ya sudah, kita shalat dulu yuk." ajak Reno lagi, Rara mengangguk dan mereka keluar mobil setelah berganti sandal lalu menuju masjid.


"Aku imami ya?" Reno berdiri di depan Rara yang sedang memakai mukena, Rara mengangguk. Dan akhirnya ada beberapa orang yang ikut shalat karena tadi belum sholat. Selesai sholat, mereka berencana mencari makan siang. Rara menolak, nanti saja setelah bertemu orang yang mau mereka temui jawabnya. Mau tidak mau Reno menurut, asal Ara-nya senang dan bahagia apapun akan Reno berikan asal tidak meninggalkan dirinya.


Tidak terasa mereka sudah sampai di suatu desa, kening Rara mengernyit heran. Merasa tidak asing dengan desa ini, mobil Reno menuju tempat pemakaman umum dan itu semakin membuat Rara bingung.


"Katanya mau ketemu seseorang?" Rara menolehkan kepala kekanan dan kekiri, tidak ada siapapun kecuali makam makam yang tidak terawat. Reno menghentikan mobilnya dan mengajak Rara keluar. Reno berjalan sembari menggandeng tangan Ara-nya, hingga kakinya berhenti pada gundukan tanah yang sepertinya baru saja diperbaiki.


"Dia siapa??" Rara melepas tautan tangannya dengan tangan Reno dan berjongkok di depan makam sosok anak kecil itu, "Rara Safitri," Rara mengeja nama itu pelan, kemudian mendongak seperti meminta jawaban pada Reno.


"Dia cinta pertama kamu?" Reno menggeleng akan pertanyaan yang Ara-nya lontarkan, "kenapa namanya sama dengan namaku?" Rara kembali mendongak, Reno ikut berjongkok dan menarik Ara-nya kedalam pelukan hangatnya.


"Ingat baik baik, Ra," lagi Rara mengernyit bingung, "aku tidak mau punya saudari kembar seperti dia, Bun. Saudari yang selalu merebut apa pun yang aku suka, harusnya saat lahir dia tidak usah keluar, jadi bunda hanya melahirkan aku saja,"


"Kamu memang kakak kembar ku, tapi aku tidak akan mau mengakuinya sampai kapanpun!" suara anak kecil kembali bergema dan terngiang ditelinga Rara.

__ADS_1


"Katakan dia siapa, Mas?" airmata Rara sudah menetes membasahi pipinya yang chubby, Reno mendongak menghirup udara sebanyak banyaknya.


"Tapi berjanjilah akan baik baik saja setelah tahu semua," pinta Reno, Rara mendongak lalu mengangguk. Rara tersentak kaget kala ada memegang pundaknya, refleks perempuan itu menoleh menatap ada tangan keriput dipundaknya.


__ADS_2