Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 122


__ADS_3

Sesampainya di Rumah sakit dan setelah Reno memarkirkan kendaraan roda empatnya, Ayah Andri segera berlari dan dengan posisi panik ia berteriak teriak, "dokter, suster, cepat tolong anak saya!!!" Reno hanya mengikuti arah langkah kaki calon ayah mertuanya melangkah sambil membopong tubuh Ara.


Mendengar teriakan ayah Andri, dua orang perawat berlarian sambil mendorong brangkar menuju mereka. Reno segera merebahkan tubuh Ara di brangkar tersebut, dan kedua perawat itu mendorong nya ke ruangan.


"Yah, Reno urus pendaftaran dulu, ayah ikut ke ruangan Ara dulu," ucap Reno sambil mengusap lengan calon ayah mertuanya, Ayah Andri mengangguk, lelaki itu kemudian berlalu mengikuti dua perawat tadi. Sedang Reno ke arah tempat pendaftaran, di sana Reno melakukan registrasi.


"Mbak Ara nya kok sering kambuh sih Mas?" tanya seorang perawat yang sering melihat dan mencatat saat Reno mendaftarkan Ara, perawat ini juga sering membantu dokter memeriksa Ara.


Perawat itu segera menutup mulut begitu temannya menyikut dirinya, seolah menyuruh temannya itu agar diam.


"Maaf Mas Reno, temen saya agak lancang," ucap temannya sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, Reno hanya mengangguk dengan wajah datar. Reno paham maksud perawat yang bertanya itu adalah baik, karena itu menunjukkan kepedulian mereka.


Reno segera melangkah meninggalkan tempat pendaftaran dan tungkainya melangkah menuju kamar Ara, dalam hati ia memohon yang terbaik untuk Ara.


Sedang di ruangan tempat Ara di rawat, Ayah Andri menatap nanar keadaan putrinya. Lelaki itu juga berharap agar Ara bisa sembuh dan menerima dirinya seperti yang Reno katakan, di sana ada pendeteksi detak jantung yang belum terpasang karena kata dokter belum diperlukan, sedang di tangannya terpasang infus.


Padahal baru beberapa hari yang lalu infus itu sudah lepas, kini harus terpasang lagi. Ayah Andri mendesah frustasi, jika dulu dirinya tidak kecelakaan maka istrinya tidak akan menikah dengan Pak Gito, dan keadaan kedua putrinya tidak akan mengenaskan seperti ini.


"Yah," Reno menepuk pelan pundak Ayah Andri, lelaki itu menoleh dan berusaha tersenyum.


"Ingat, besok ayah akan operasi wajah, jadi ayah jangan tegang dan jangan banyak pikiran," Reno mengingatkan, kemarin setelah Ara keluar dari rumah sakit, Reno sudah menemui sahabat Anton yang seorang dokter ahli bedah, awalnya Reno ragu karena merasa takut jika itu akan gagal.

__ADS_1


Anton pun meyakinkan Reno, walau temannya itu mengambil jurusan ahli bedah tapi sebelum itu ia pernah membantu ayahnya yang juga seorang dokter dalam mengoperasi wajah, dan itu berhasil.


Reno pun bertanya terlebih dahulu pada Ayah Andri yang saat itu juga menemani Reno, dan keputusan final Ayah Andri setuju, agar misinya untuk balas dendam dan hidup bersama putrinya segera tercapai. Teman Anton menjadwalkan Ayah Andri akan operasi hari Minggu, selain dia tidak ada jadwal. Semua peralatan dan obat yang ia butuhkan akan tiba hari Jumat lebih tepatnya kemarin.


Ayah Andri mengangguk, "bagaimana jika dia bangun dan saya belum kembali?" tanya Ayah Andri cemas, "ayah tak usah khawatir, Reno akan menjaga Ara sampai ayah selesai," ujar Reno, Ayah Andri mengangguk sambil menepuk pundak Reno, "terima kasih kau begitu mencintai dan menjadikan Ara wanita paling beruntung," ucap Ayah Andri.


"Reno yang beruntung mendapatkan Ara, Yah," keduanya lalu tersenyum karena menurut mereka berdua, sama sama beruntung. Reno mendapatkan cinta Ara setelah perjuaangan bertahun tahun lamanya. Sedang Ara beruntung karena di cintai begitu dalam oleh Reno hingga lelaki itu rela melakukan apapun agar Ara bahagia.


"Kak, maafkan aku yang ceroboh," Tante Rina yang baru masuk segera menghambur dan memeluk kaki Ayah Andri, Reno dan Ayah Andri benar benar terkejut dengan tindakan Tante Rina.


"Bangunlah, Rin. Mungkin ini waktunya dan saatnya Ara harus tahu jika aku masih hidup," Ayah Andri memegang lengan Tante Rina dan membantunya untuk berdiri, "tidak, Kak. Ini semua salahku, bagaimana jika-" tangis Tante Rina semakin mengeras saat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ara.


"Ara tak akan kenapa napa, Te," Reno ikut bersuara dan berdoa di dalam ucapannya, "doakan saja dia sembuh dan kita bisa berkumpul bersama sama lagi," Ayah Andri menimpali ucapan Reno dan tangannya masih menarik Tante Rina agar berdiri.


"Bagaimana keadaan putrimu?" Om Indra mendekat dan bertanya pada kakak kembaran nya, walau bagaimana juga Ara adalah anak dari kakaknya. Om Indra memang berbeda, lelaki itu tidak biasa menunjukkan perasaannya, hanya datar dan dingin jika orang menilai, namun jika sudah mengenal dirinya, sebenarnya Om Indra adalah orang yang hangat.


"Doakan yang terbaik," sahut Ayah Andri, Om Indra hanya mengangguk mengamini walau dalam hati.


***


Kak Fandi selalu menatap ponselnya, ia bertekat menyuruh seseorang mengikuti Reno agar ia bisa tahu keberadaan Ara. Kak Fandi segera menggeser ikon berwarna hijau di ponselnya untuk menerima panggilan yang dari tadi sudah ia tunggu.

__ADS_1


"Bos, pria yang kau suruh aku mata matai membawa seorang wanita menaiki mobil, dan sekarang mereka berada di rumah sakit," suara seseorang di seberang mampu membuat tubuh Kak Fandi limbung.


Lagi? Ara nya kembali masuk kerumah sakit, sebenarnya sakit apa dia, apa sebegitu parah hingga harus berkali kali bahkan sering di rawat berhari hari di rumah sakit tersebut? Begitu banyak pertanyaan yang berkelebatan di kepala Kak Fandi.


"Bos," orang suruhan Kak Fandi memanggil karena tidak ada jawaban dari seberang, "iya, nanti uangnya aku transfer," ucap kak Fandi yang kemudian menghakhiri sambungan telepon itu dan segera menyambar kunci motornya untuk segera pergi menuju rumah sakit di mana wanita yang ia cintai di rawat.


"Rara, Kak Fandi mohon, bertahanlah. Kak Fandi akan lakukan apapun permintaan mu asal jangan tinggalkan Kak Fandi," gumamnya lirih, entahlah hatinya mengatakan jika Rara nya sedang tidak baik baik saja.


***


"Kak cepat nyetirnya!!" Ria memerintah Anton agar lebih cepat mengendarai mobilnya itu ke rumah sakit di mana kakaknya berada, tadi saat ia tengah bekerja sang Tante mengabari jika Ara kembali masuk rumah sakit. Dan dengan segera ia menelepon Anton dan menyuruh lelaki itu menjemput dan mengantarnya kerumah sakit, Anton sendiri yang sedang ada rapat satu jam lagi terpaksa harus ia batalkan demi menemani wanita yang telah mengisi sepenuh hatinya.


Toh yang butuh kerjasama adalah mereka, jadi ia tak akan rugi jika mereka tiba tiba membatalkan karena ia mengundur jadwal rapat yang telah sekertaris nya jadwalkan seminggu yang lalu.


"Sabar, Sayang. Kakakmu akan baik baik saja, dia itu wanita yang kuat," Anton mencoba menghibur, namun kata 'Sayang' yang terlontar dari mulut Anton membuat Ria kesal. Lelaki itu hampir memekik kala Ria mencubit pinggangnya.


Ria merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik saat Anton memegang tangannya yang telah mendaratkan cubitan di pinggangnya, detak jantungnya tiba tiba berubah lebih cepat.


"Apa sih!!" ketus Ria menutupi sikapnya yang salah tingkah dan mengalihkan perhatian agar degub jantungnya kembali normal.


Anton melirik kearah Ria, lelaki itu melihat pipi gadis itu merona, 'dia kenapa?' tanya Anton dalam hati. Walau sebenarnya Anton juga senang sudah berhasil menggenggam jemari Ria, walau harus merasakan sedikit kesakitan saat pinggangnya dicubit.

__ADS_1


Kini ia punya cara agar mereka bisa bersentuhan secara tidak langsung, jiwa playboynya mulai bekerja. Ria melirik Anton yang tengah tersenyum sembari menatap jalanan, entah apa yang tengah pria itu pikirkan.


__ADS_2