
Reno mendengus kesal, "gue pulang ke apartemen gue, terserah kalau lu mau nginep sini," Rara dan Reno akhirnya meninggalkan Cila yang mematung mendengar jawaban spontan Reno.
Sesampainya di dekat mobil, Rara celingukan mencari seseorang dan tiba-tiba, "non," bibi Darmi menepuk dan memanggil Rara, membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Astaga, bibi!" Rara spontan ikut berteriak sesaat kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Diusap-usapnya jantung Rara yang hampir copot karena terkejut, sedang si bibi malah terkekeh melihat gadis yang menurutnya lucu.
"Ini pesanan, Non," kata bibi Darmi seraya mengangsurkan tas kain, Rara sejenak memincingkan mata mengingat sesuatu lalu tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Bi," ucap Rara sambil meraih tangan bibi Darmi dan menempelkan di keningnya.
"Ekhem, sudah belum? Sudah malam ini," Reno akhirnya bersuara, Rara dan bibi Darmi menoleh lalu mengulas senyum.
"Maaf, Tuan," bibi Darmi.
__ADS_1
"Maaf, om eh mas," Rara dan bibi Darmi berucap bersamaan, Reno tidak mengubris perkataan dua wanita beda usia itu, dia memilih masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin itu.
"Kalau ga masuk saya tinggal!" seru Reno yang membuat Rara gelagapan, "Rara pulang dulu ya, Bi. Kapan-kapan ngobrol lagi," Rara berpamitan pada bibi Darmi kemudian dia membuka pintu lalu masuk, dan melambaikan tangan saat mobil itu melesat keluar rumah megah itu.
"Mas, ini sudah selesai kan?" Reno melirik Rara sejenak lalu fokus kejalanan lagi.
"Mas," Rara memanggil Reno kembali, Reno memelankan laju mobilnya lalu menoleh kearah Rara, "iya hari ini selesai, kamu bisa istirahat," kata Reno dengan santai, Rara menarik nafas lega.
"Tapi jika saya butuh kamu lagi, kamu harus selalu standby, oke?" Rara melonggo mendengar kata-kata Reno barusan.
"Tenang saja sampai papa dan mama percaya kalau saya sudah laku, jadi mereka tidak perlu repot-repot ngejodohin saya," timpal Reno, Rara hanya bisa pasrah.
Bagaimana jika mama dan papa Reno tidak suka padanya terus masih saja menjodoh-jodohkan Reno dengan wanita-wanita yang berbeda.
__ADS_1
Menghadapi Cila saja sudah mengaduk emosi dan ketenangan jiwanya, 'aahhh kenapa harus gue,' hati Rara menjerit, tanpa sadar kakinya menendang bagian mobil depan.
'Ayah, semoga lekas sembuh ya. Rara rela banting tulang asal ayah sembuh,' doanya dalam hati.
Karena asyik berkhayal Rara tidak sadar dia sudah sampai di depan rumahnya, "mau di anter kerumah sakit sekarang atau besok?" Rara terlihat berfikir, jika besok kasihan yang menggantikan dia yang saat ini berjaga, dan ayahnya pasti tidak nyaman dengan orang baru.
Jika sekarang badannya lumayan capek karena tadi habis lembur mendadak dan besok masuk shift pagi.
"Tunggu sebentar, saya mau menyerahkan makanan ini ke adik saya dulu," Reno hanya mengangguk, itu berarti Rara ke rumah sakit malam ini.
Saat di depan pintu, Rara segera memasang kunci kelubangnya dan memutarnya, biasanya sang adik selalu mencabut kunci itu buat jaga-jaga jika Rara pulang mendadak.
Ruang tamu tampak sepi dan lampu agak redup, namun kamar sang adik masih terang, kaki Rara melangkah kekamar sang adik.
__ADS_1
Tok tok Tok tok, karena mendengar masih ada suara televisi menyala maka Rara mencoba membukanya. Namun yang dia lihat ternyata sang adik sedang tidur di kasur lantai dan televisi dalam keadaan menyala, Rara hanya bisa menghela nafas panjang.