Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 8


__ADS_3

"Baik, Om. Eh, Mas," Rara mengangguk mengerti, "anak pintar," kata Reno yang kemudian mengusap ujung kepala Rara.


'Kenapa orang seganteng dan sekaya om ini belum menikah? Apa dia lebih cinta uang dan pekerjaan dari pada wanita?' monolog batin Rara berbicara.


"Jangan menatap saya seperti itu! Nanti kamu jatuh cinta lho," Rara langsung memalingkan wajahnya dan tidak lagi menatap Reno, malu sudah di pergoki memandang wajah tampan pria di sampingnya.


"Saya tahu, saya tampan. Tapi saya juga bukan homo, hanya belum mau berkomitmen saja sama perempuan," Reno berbicara panjang lebar menceritakan tentang keadaan dirinya.


'Narsis,' Rara hanya mencibir dalam hati, tidak berani mengatakan langsung, bisa gagal perjanjian itu dan bisa bahaya jika perjanjian itu gagal. Sang ayah tidak akan bisa di operasi dan hutangnya akan semakin menumpuk. Sekarang dia harus berfikir untuk fokus mencari uang untuk kesembuhan ayahnya.


Tidak terasa mobil yang di tumpangi Reno dan Rara sampai di apartemen milik Reno, setelah si supir ke lantai di mana lantai Reno berada, dia menghentikan mobil. Dan Reno serta Rara keluar menuju pintu masuk, di sana ada petugas yang sedang berjaga. Di apartemen yang Reno tempati ini setiap lantai memiliki ruang parkir, jadi tidak perlu susah-susah antri menunggu lift untuk naik maupun turun.


"Selamat malam Tuan Reno," sapa sang petugas sambil membungkukkan badan, Reno hanya mengangguk dan tersenyum. Sebelum Reno jauh melangkah sang petugas jaga memanggil dirinya.

__ADS_1


"Tuan Reno," Reno dan Rara menoleh lalu memutar tubuh mereka, petugas penjaga yang di nametag nya tertulis Agus itu berjalan dan sedikit berlari.


"Maaf, tadi penjaga rumah anda pergi, mau ada acara katanya," Reno mengernyit heran, tidak biasanya dia begini.


"Tadi sudah menghubungi Tuan Reno tapi tidak di angkat, juga sudah mengirim pesan katanya," penjaga yang bernama Agus itu menambahkan.


Reno segera mengambil telepon genggam yang dia letakkan di kantong jas, di lihat di sana banyak panggilan dan beberapa pesan dari penjaga rumahnya. Reno mendengus kesal, jika seperti ini bagaimana gadis yang dia bawa ini berdandan? Reno berkacak pinggang, kakinya yang panjang berjalan kesana kemari.


"Om eh mas ada masalah?" tanya Rara hati-hati, Reno menghentikan langkahnya tepat di hadapan Rara.


"Bisa, saya setiap hari memakai pelembab wajah, bedak dan lipgros," jawab Rara polos, Reno menengok kearah penjaga itu.


"Istri kamu bisa bantu saya?" sejenak penjaga yang bernama Agus itu berfikir lalu mengangguk, dengan langkahnya yang terkesan tergesa dia menyambar telepon genggam miliknya yang tadi dia letakkan di meja.

__ADS_1


Jemari Agus menari di layar ponsel itu, mencari kontak yang bernama 'my love', segera Agus menekan dan terdengar nada sambung, dan tidak lama terdengar suara merdu di seberang.


"Ya, Mas," sapa istri dari Agus, Agus melirik sekilas kearah Reno dan Rara.


"Mas baru butuh bantuan kamu, kamu bisa datang ke sini ngga?" tanya Agus pada istrinya.


"Sekarang?" tanya sang istri dan si Agus mengangguk, seakan istrinya bisa melihat tindakan konyolnya.


"Mas, sekarang aku kesana nya?" istrinya mengulang pertanyaan itu lagi.


"Iya, sekarang," suara Agus tampak kesal, "oke, aku kesana," dan sambungan itu terputus. Agus kembali menemui Reno dan Rara yang menunggu kepastian dari dirinya.


"Bisa tuan kata istri saya," kata si Agus, "dan sebentar lagi, paling lima menit kalau liftnya ngga antri sudah sampai," ucap Agus cengegesan yang membuat Rara memutar bola mata kesal.

__ADS_1


"Oke, kalau sampai suruh langsung ke kamar saya," titah Reno yang langsung di angguki oleh Agus.


"Siap, Tuan," jawab Agus dengan tangan di atas dahi membentuk hormat. Setelah itu Rara dan Reno pergi menuju kamar Reno.


__ADS_2