Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 19


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, Rara berlari keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa. Karena banyak berbicara dengan adiknya, Rara lupa jika Reno sedang menunggu untuk mengantar dirinya kerumah sakit.


"Maaf, Om agak lama," sesal Rara yang sudah duduk manis di bangku penumpang di samping Reno, "kamu pikir saya pengangguran yang akan setia menunggu kamu," hardik Reno dengan nada kesal.


"Maaf," Rara mengulang permintaan maafnya, tanpa banyak bicara, Reno menyalakan mesin mobil itu dan melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.


"Om," Rara mencoba mencairkan suasana canggung tersebut, Reno tidak menoleh namun mendengarkan.


"Boleh tidak gaun yang saya pakai tadi buat saya, kalau mau potong gaji dari perjanjian ini saya ikhlas," ucap Rara hati-hati, 'apapun akan aku lakukan, agar ayah dan Ria bahagia,' gumam Rara dalam hati.


"Terserah, kalau mau kamu buang juga tidak masalah," Rara melonggo sekaligus senang dengan jawaban Reno tersebut.


"Turun!" Rara melihat sekitar, ternyata sudah sampai di halaman rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Saat Rara sedang melepas seltbelt yang dia pakai, Reno merogoh dompet miliknya.

__ADS_1


"Tunggu!" seru Reno saat Rara membuka pintu dan hendak keluar, Rara memutar tubuhnya dan menatap mata tajam di hadapannya.


"Ini buat jaga-jaga kalau ayah kamu butuh makanan luar," Reno menyodorkan beberapa lembaran uang merah kepada Rara, namun oleh Rara dia tolak.


"Tidak, terima kasih. Ayah masih sakit jadi harus makan masakan rumah sakit," alibi Rara, padahal kemarin sang ayah mengatakan ingin sekali makan bubur ayam yang berada di depan minimarket tempat Rara bekerja.


Dulu sebelum ayahnya di rawat, jika Rara gajian maka dia akan membawakan bubur itu untuk ayah, Ria dan dirinya. Tidak apa makan enak sekali-sekali, pikir Rara kala itu.


Walau Rara bukan wanita ahli ibadah tapi dia percaya jika memuliakan sang ayah kelak dia akan mendapatkan balasan yang lebih baik, apalagi hanya ayahnya yang dia miliki sekarang.


"Ya sudah ini buat Kami makan, atau kamu kasih keadik kamu. Intinya anggap ini bonus karena sudah menangani gadis manja itu dengan baik," Reno berujar seraya masih menyodorkan lembaran uang merah itu.


Rara tersenyum kecil, lalu menerima uang tersebut dengan penuh rasa terima kasih. Kebetulan ini pertengahan bulan dan uangnya sudah menipis, setidaknya bisalah uang ini dia pergunakan untuk makan dan tranportasi saat bekerja.

__ADS_1


"Terima kasih, Om," refleks Rara meraih dan mencium punggung tangan Reno, dengan agak kasar Reno mendorong kepala Rara agar menjauh dari tangannya.


"Hehehe, maaf om khilaf," tandas Rara malah nyingir kuda.


"Kamu ada nomer telepon?" Rara tidak jadi keluar, padahal tadi sudah menurunkan satu kakinya, Rara mengangguk.


"Buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu saya butuh sesuatu," Rara ber'oh' saja mendengar perkataan Reno. Segera Rara mengeluarkan ponselnya dan melirik kearah Reno, dengan maksud jika Reno menyebutkan nomernya biar Rara tinggal mengetik.


Reno menengadahkan tangannya, Rara bingung, dasar Rara lemot memang. Walau dalam pelajaran dia pandai dan sering mendapat rangking tiga besar tapi dalam memahami seseorang dia lemah. Yang dia pikir hanya kebahagiaan ayah dan adiknya, Ria.


"Biar saya ngetik sendiri nomer saya," ketus Reno tidak sabar, Rara bergerak cepat menyerahkan ponselnya dan beberapa menit kemudian ponselnya kembali padanya.


Ternyata tadi Reno mencoba menghubungi nomernya sendiri, di ponsel Rara tertulis nama "MAS RENO GANTENG" ingin sekali Rara menjitak dan memukul kepala pria ini, sembarangan kasih nama pada ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2