Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 36


__ADS_3

Sekitar pukul 15.30 mbak Susi dan Rania bersiap untuk pulang, sedang Rara dan Fajar bersiap berganti shift.


"Mbak, ingat ya besok kamu masuk pagi atau libur," ucap Rara mengingatkan, mbak Susi mendengus sebal.


"Minggu besok aku nggak bisa lembur, Ra. Ada acara...." mbak Susi melotot kala tangan Rara berada di hadapannya, seakan meminta nya berhenti bicara.


"Stop bilang ada acara keluarga, mbak pikir saya nggak punya keluarga!" ketus Rara kesal.


"Tapi beneran Ra, aku ada acara," mbak Susi kekeh tidak bisa lembur karena Rara ingin mengambil libur.


"Ya sudah mending mbak keluar aja, biar di nafkahi suaminya. Kasihan temannya dijadikan korban dan di jadikan tumbal terus. Keluarga dijadikan alasan," cibir Rania yang terlihat juga kesal akan tingkah perempuan berkeluarga tersebut.


"Apa sih, ngga usah ikut campur ya!" mbak Susi berucap dengan nada tinggi, beruntung keadaan sepi.


"Rania bener mbak, jangan keluarga di jadikan alasan. Rara juga punya keluarga, tapi dia tidak pernah merepotkan kita bukan?" Fajar angkat bicara, kesal juga mungkin dengan kelakuan mbak Susi.

__ADS_1


"Ya sudah," jawab mbak Susi sambil melenggos, Rara tersenyum sambil mengedipkan satu matanya pertanda ucapan terima kasih.


"Ya sudah apa?" cecar Rara, mbak Susi cemberut, memajukan bibirnya yang memaki lipstik merah dan cetar membahana.


"Ya besok aku libur, Sabtunya aku masuk pagi. Tapi aku usahain ya, Ra. Kalau...."


"Owh tidak bisa, jatah masuk pagi ya masuk pagi, kecuali penawaran saya tadi!" sergah Rara memotong ucapan mbak Susi, pintu masuk memang sengaja Fajar beri tulisan istirahat. Jadi tidak takut jika ada pembeli masuk dan mendengar perdebatan mereka.


"Tapi kan, Ra...." lagi ucapan mbak Susi terpotong. "Kalau mbak Susi nggak tepat waktu, aku akan lapor ke Pak Jeky, biar mbak Susi dapet SP, jika perlu di KELUAR KAN," ancam Fajar dan menekankan kalimat di keluarkan.


"Terima kasih ya, Ran, Jar udah membela gue," ucap Rara tulus, Rania dan Fajar mengangguk dan mengulas senyum.


Fajar melangkah menuju pintu dan mengambil papan yang tertempel di kaca pintu masuk, beberapa saat para pembeli datang.


"Sudah istirahat nya mbak?" seorang ibu-ibu meletakkan barang belanjaannya di meja kasir dan Rara dengan sigap menscan barang tersebut.

__ADS_1


"Sudah ibu, maaf membuat menunggu," jawab Rara sopan, si ibu hanya mengangguk dan mengulas senyum memaklumi.


"98.000 ibu ada yang lain?" tanya Rara kepada ibu-ibu tersebut. Si ibu menyerahkan uang kertas berwarna merah, "kembaliannya buat mbak Rara aja ya," tolak ibu tersebut.


"Ngga papa 'kan ya cuma dua ribu perak," imbuh ibu itu sambil tertawa.


"Wah terima kasih, Bu. Lain kali kalau belanja sedikit saja, trus kembaliannya diberikan ke Rara, saya nggak nolak kok," canda Rara yang membuat si ibu tertawa.


"Mbak Rara ini lho, udah cantik, rajin, humoris. Sayang anak saya sudah menikah semua, kalau mau nungguin juga ngga papa.Saya masih ada anak cowok bungsu, mbak Rara mau?" Ibu-ibu itu mengedipkan satu matanya.


"Kerja di mana memang, Bu?" si ibu tertawa mendengar pertanyaan Rara.


"Bungsu saya masih kelas delapan mbak Rara, kalau mau nungguin saya bilangin. Ganteng lho anak saya," Rara tersenyum menanggapi lelucon ibu tersebut.


Maaf baru up, matanya sedikit pedes habis kena flu mata, ini aja masih pedes Padahal udah di kasih minum, eh othornya ngaco.

__ADS_1


Sehat selalu kawan, sayang kalian.


__ADS_2