
Reno menatap gamang map yang ada di hadapannya, para detektif yang ia perintah kan mencari siapa Dita dan apa hubungannya dengan hilangnya sang putra sudah berkumpul jadi satu di dalam map tersebut.
"Tunggu apa lagi, buruan buka biar kita tahu siapa Dita itu dan di mana keberadaan putramu itu," Reno menatap kesal pada Anton, sebenarnya ia juga ingin segera membuka map tersebut.
Namun, hatinya takut kecewa dengan kenyataan. Reno mendesah gusar, akhirnya tangannya mendorong map itu kedepan Anton dan Mas Seno yang tengah duduk berhadapan dengan dirinya.
Kedua sahabatnya itu menautkan kedua alisnya bingung dengan maksud Reno.
"Kalian saja yang baca," seolah mengerti akan raut wajah yang keduanya yang penuh tanya, akhirnya Reno bersuara.
"Hufth," Anton membuang nafas lewat mulut, tangannya terulur mengambil map berwarna cokelat itu lalu membukanya.
Membacanya perlahan lahan hingga selesai, "gila," ucap Anton pertama kali setelah membaca laporan penelitian itu.
"Dita ternyata adik Pak Gito, alias tante nya Ria. Dan lebih anehnya Dita itu sahabat bundanya Ara dan Ria," Anton geleng-geleng heran. Sedang keduanya menyimak.
"Entah ada dendam apa, mantan pacar bundanya Ara di rebut oleh wanita yang bernama Dita tersebut. Dan akhirnya bundanya Ara menikah dengan Ayah Andri," Anton menjeda ucapannya, mengambil nafas lalu menghembuskan perlahan.
"Menurut penyelidikan di sini memang tante nya Ria alias si Dita yang menculik putra loe, tapi...." Anton kembali membaca laporan tersebut.
__ADS_1
"Saat putra loe di cari, dia tidak bersama perempuan penculik itu." Anton mengakhiri membaca laporan itu.
Reno mengusap wajahnya berkali-kali, "sedikit lagi kita menemukan putra kita, Sayang," lirih Reno. Kepalanya mendongak menatap langit-langit kantornya, bayang-bayang bertemu dan memeluk putranya yang hilang membuatnya semakin bersemangat untuk semakin gencar mengarahkan anak buah juga detektif.
"Oya, tante Denok pasti kenal Dita bukan?" Reno ingat dengan wanita yang terpaksa di nikahi Pak Gito tersebut.
"Bukannya tante Denok sudah pindah ke luar negeri dan sudah tak ada kabar lagi semenjak kepergian suaminya itu?" Mas Seno mengingatkan, bahu Reno lemas mendengarnya.
"Ya sudah, suruh mereka lebih gencar mencari putra loe." kata Mas Seno pada akhirnya.
"Loe ngerasa ngga sih, temen Rea yang bernama Rendra itu kaya mirip siapa? Perasaan gue tiba-tiba sayang gitu sama thu bocah, kaya gue sayang ke Rea," Anton mengeluarkan apa yang selama ini ia rasakan.
"Rendra? Teman baru Rea?" Mas Seno bertanya, masalah nya gadis yang ia anggap putri tersebut sangat sulit mempunyai teman. Rea mirip dengan Reno, selalu menilai orang untuk ia jadikan sahabat.
"Boleh deh, kapan-kapan suruh tuan putri ajak dia berkunjung ke rumah gue, lagian istri dan anak gue juga udah kangen ama si usil bin jahil itu," Mas Seno terkekeh di ujung kata, kedua sahabatnya pun ikut tertawa mendengar selorohan Mas Seno tersebut.
***
Rendra menarik tangan Rea ke dalam apartemen yang selama ini ia tempati, gadis itu berdecak kagum karena walau itu kamar lelaki sungguh terlihat rapi.
__ADS_1
"Duduk dulu, aku ambilin kotak obat dulu," Rendra mengajak Rea duduk di sofa di ruang tamu, apartemen Rendra hanya berlantai satu dan memiliki tiga kamar, dan satu kamar telah ia tempati.
Rea berdiri dan berjalan menyusuri ruangan tersebut saat Rendra masuk kedalam kamarnya untuk mengambil kotak obat, di samping ruang tamu ada dapur.
Rea masuk ke dapur tersebut dan memeriksa apa saja yang ada di sana, Rea kembali berdecak kagum karena penataannya yang bagus dan rapi.
Rea tersentak kaget saat ada tangan yang melingkar di perutnya, "kau suka?" tanya Rendra seperti berbisik, Rea mengangguk.
"Tinggallah di sini bersamaku, menikahlah denganku, Rea. Aku mencintaimu sedari kecil, aku mencintaimu sejak pertama bertemu," Rendra kembali berbisik sembari mengeratkan dekapannya.
Indera penciumananya mengendus leher Rea dan sesekali memberi kecupan ringan. Tangan Rea terulur kebelakang dan mengalung di leher Rendra, menikmati setiap kecupan yang lelaki itu berikan.
Rea merasa aneh, tubuhnya tidak bereaksi saat ini, berbeda saat Raditya yang melakukan ini. Tubuhnya pasti panas dingin, tapi biarlah, Rea ingin menikmati apa yang terjadi saat ini. Bukan calon suaminya telah mengizinkan ia melakukan apapun tapi masih dalam batas kewajaran.
Tangan Rendra terulur menyentuh leher jenjang Rea, jemarinya menyelip di antara telinga gadis itu. Menarik sedikit kepala Rea agar menoleh kearahnya.
Cup, Rendra mengecup singkat bibir Rea.
Gadis itu merintih karena tanpa sengaja Rendra menyenggol bibirnya yang terluka akibat tamparan yang di lakukan Sera.
__ADS_1
"Maaf," kata Rendra penuh rasa bersalah, kemudian lelaki membalik tubuh Rea menjadi berhadapan dengan dirinya.
"Kita obati lukamu dulu," Rendra menuntun Rea duduk di kursi makan dan mengambil kotak obat yang tadi ia taruh di atas meja tak jauh dari mereka berdiri.