Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 88


__ADS_3

Akhirnya Reno dan Mas Seno menemukan cara agar Pak Amar membatalkan pernikahan itu, di lihat dari proposal yang dia ajukan, mereka membutuhkan biaya untuk mengembangkan bisnis mereka.


Dan Reno meminta Mas Seno menentukan waktu pertemuan mereka, "terima kasih lor selalu ada buat gue," kata Reno sambil menepuk pelan pundak mas Seno pertanda dirinya bangga.


"Apapun buat loe, jika bukan karena elo, gue bukan apa apa sekarang," balas Mas Seno merendah, Reno hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya tersebut.


Reno sangat tahu, walau terbatas ekonomi, Mas Seno memiliki otak yang luas dan mencangkup banyak ilmu. Oleh karena itu dia tidak merasa sia sia meminta mama dan papa nya membiayai Mas Seno.


Dan Mas Seno ingin seperti Han di tokoh Tuan Muda Sagara, yang setia dan akan mengabdi pada tuannya. Pun Mas Seno, dia akan mengabdikan dirinya pada keluarga Reno, walau kelak sudah menikah, dia akan tetap mengabdi di sana.


"Apa Anton benar benar tertarik pada adik Ara?" Reno menatap Mas Seno dan meminta pendapat, Mas Seno mengingat ekpresi wajah dan perilaku Anton saat bertanya dan menceritakan tentang Ria.


Reno dan Mas Seno tahu, Anton adalah pria yang penuh dengan keingintahuan akan wanita yang sangat tinggi. Dia juga merasa cepat bosan pada para wanita itu.

__ADS_1


"Mungkin kita perlu mengerjai pria brengsek itu sedikit," Reno menyeringai setelah memikirkan rencana selanjutnya.


"Tapi hati hati jika sang kakak marah," Mas Seno mengingat kan, Reno hanya mengangguk.


"Jika mereka berjodoh, bukankah Ara juga harusnya senang. Pria yang sering memanggil dirinya anak kecil malah jatuh cinta pada perempuan yang umurnya di bawah Ara.


Mungkin itu bisa jadi bahan agar Anton diam dan tak mengejek Ara lagi," Reno berkata panjang lebar menceritakan rencana yang ada di benaknya, Mas Seno hanya mengangguk mengiyakan.


"Kapan kau akan melamar dia?" Reno bertanya setelah keheningan tercipta, Mas Seno yang sedang fokus ke laptop seketika menoleh dan menghentikan gerakan tangannya.


"Sepertinya dia cocok dengan Ara," Mas Seno mengangguk setuju, "Rara mu supel, tidak mungkin tidak ada yang menyayangi dirinya, pun Siti. Dia sudah menganggap Rara adiknya," seloroh Mas Seno kala mengingat ucapan mbak Siti yang dia lontarkan.


****

__ADS_1


Di tempat lain, "Ndra, gimana kabar kedua putri ku?" tanya seorang pria yang memiliki wajah sama dengan pria yang di tanya akan tetapi terdapat beberapa luka bakar di wajah juga tubuh pria yang kini tengah berbaring dengan keadaan tak berdaya tersebut.


"Dia baik baik saja, dia juga sehat. Dia memiliki pria yang bisa di andalkan untuk melindungi putri mu," jawab pria yang satu, yang bernama Indra.


"Huhuhu, aku akan membalaskan dendamku, gara gara pria serakah, tamak dan tak tak tahu diri itu aku harus terpisah dengan anak anak dan istri ku," pria itu meratapi nasibnya yang malang.


"Sudahlah, Ndri. Kami akan menjaga dan mengawasi putrimu," pria bernama Indra mencoba menghibur saudara kembar nya yang bernama Andri.


"Dan kita akan membalaskan dendammu setelah kau benar benar sembuh, kau sadar setelah bertahun tahun koma," wanita paruh baya yang langsung menimpali perkataan putranya, tadi begitu mendengar putranya yang lain sudah sadar, ia segera berlari menghampiri.


Mereka adalah Indra dan Andri, ayah kandung Ara dan Rara yang ternyata masih hidup namun dalam keadaan koma. Dan Andri saat sadar pertama kali menceritakan kecelakaan yang terjadi padanya ganjil dan ternyata benar, Indra menyelidiki ternyata ada campur tangan Pak Gito.


"Pasti kedua putri putri ku sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik kan, Bu, Ndra?" tanya Andri, ayah kandung Ara yang belum tahu jika salah satu putrinya telah tiada dan juga istri tercintanya telah menyusul putrinya.

__ADS_1


"Sembuh lah dulu, dan kita akan bertemu dengan putrimu," Indra menepuk pelan lengan Andri, dalam hati Andri selalu bertanya, kenapa Indra hanya menyebut putrimu, bukan putri putri mu, bukankah dia memiliki dua putri? Batin Andri bergejolak penuh tanya.


__ADS_2