Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 79


__ADS_3

Pagi harinya selesai Ara memasak yang di bantu mbak Siti juga tengah menghidangkan sarapan pagi, "pagi, Yah," sapa Ara begitu melihat sang ayah menghempaskan bobotnya di kursi kayu di depan meja makan.


"Hmm, pagi juga, Ra," balas Pak Gito terdengar malas, "adik kamu kok belum nongol?" Pak Gito berpura pura mencari Ria.


Tangan Ara mengepal menahan emosi, jika tidak mengingat misi untuk membongkar kedok jahat ayah sambungnya, sungguh Ara malas berbicara dengan pria di hadapannya.


"Kurang tahu juga, Yah. Bentar, Ara kekamarnya Ria dulu," Ara berpamitan akan ke kamar Ria, padahal dia sudah tahu keberadaan adiknya. Akan tetapi demi menyempurnakan aktingnya, Ara harus kekamar adiknya bukan.


"Kamu asli mana?" Pak Gito bertanya asal mbak Siti, "saya asli Solo, Pak. Merantau kesini baru beberapa bulan, dan kebetulan ada teman kost yang lama ngasih tahu ada lowongan di tempat mbak Rara eh mbak Ara," jawab mbak Siti seraya meralat ucapannya.


"Tunggu, kenapa kamu memanggil Rara dengan sebutan Ara?" mbak Siti sudah tahu jika dia akan di tanya tanya seperti ini.


"Kan saya sering denger pacar mbak Ara atau Rara manggil dengan nama Ara, ya saya ikut saja," sahut mbak Siti, benar sih tuan mudanya Reno memanggil Ara dengan panggilan Ara, namun kemarin di dalam mobil Reno juga menjelaskan jika Ara nya juga di kenal dengan nama Rara.


"Owh, jadi sebelum kerja di rumah makan Rara, kamu kerja di mana?" cecar pak Gito, "di pabrik Pak," jawab mbak Siti.


"Kok berhenti?" lagi Pak Gito mencecar mbak Siti dengan pertanyaan yang sudah mereka siapkan jawabannya.


"Karena ada pengurangan karyawan, Pak. Trus saya kena PHK deh," dusta mbak Siti, dengan di bumbui ekpresi nyengir kuda.


"Kenapa kamu nggak cari lowongan di tempat lain?" kesal sebenarnya mbak Siti di tanya terus, "kan tadi saya sudah bilang, teman kost saya memberi tahu kalau tempat mbak Ara butuh karyawan. Nah saya melamar, ternyata yang lama mau di pindah sebagian ke luar kota, yang kata teman teman saya baru saja buka restonya," mbak Siti mengatakan apa yang Reno katakan di dalam mobil saat perjalanan pulang ke rumah kekasih majikannya.


'Pak bos, anda benar benar harus memberi saya bonus besar karena berbohong pada orang tua,' gumam mbak Siti dalam hati, tidak salah oma Reno memilih mbak Siti untuk menjalankan misi ini. Dengan alasan nyawa Ara dalam bahaya maka dengan sigap sang oma memilih mbak Siti yang terkenal pandai berakting, lagi pula mbak Siti adalah kepercayaan omanya Reno.


Pak Gito mengangguk mengerti, "yah, kemarin saat Ara ke luar kota, Ria izin ayah gimana?" Ara yang baru muncul setelah berpura pura melihat kamar adiknya.

__ADS_1


"Dia cuma bilang mau keluar sama asisten pacar kamu, itu saja," jawab Pak Gito, Ara menangkap raut gugup saat sang ayah menjawab pertanyaan dari dirinya.


"Tapi di kamar dia nggak ada lho, Yah. Pakaian serta tasnya juga ada, cuma ponselnya yang dia bawa kayaknya," tutur Ara, tadi di kamar Ria, Ara mengirim pesan pada Reno. Bertanya apa saja yang harus dia lakukan, Reno kembali menjelaskan pada Ara apa saja yang harus wanita itu lakukan.


Bermodalkan nekat karena tidak pernah berbohong, membuat Ara tidak enak. Suara pintu utama di ketuk membuat Ara merasa lega karena rasa gugup yang mendera jika berbohong, beruntung Pak Gito tak terlalu memperhatikan mimik wajah Ara.


"Kak Fandi?" Ara bertanya heran karena pagi oagi begini pria itu sudah berada di rumahnya, "hai, Ra. Gimana kabar nya," Kak Fandi menyapa dan tersenyum hangat.


"Baik," jawab Ara sambil mengangguk, dalam hati dirinya masih penasaran kenapa Kak Fandi sudah berada di sini.


"Boleh Kak Fandi masuk?" tanyanya masih sambil tersenyum, "eh, iya sampai lupa. Masuk, Kak." Ara membuka lebar pintu rumahnya dan menepi agar Kak Fandi bisa masuk.


"Om Gito ada?" tanyanya setelah menghempaskan bobotnya di kursi, Ara mengangguk sebagai jawaban.


"Ayah baru sarapan, Kak Fandi sudah sarapan? Ara baru selesai masak," sebenarnya tidak ada maksud untuk menawari Kak Fandi, akan tetapi rasa canggung karena mengatakan sang ayah sedang sarapan. Maka, mau tak mau Ara harus menawari Kak Fandi sarapan juga.


'Tapi si pria bucin itu suka dengan apa yang aku masak,' lanjut nya dalam hati, tanpa sadar Ara tersenyum mengingat Reno.


Keduanya akhirnya melangkah ke ruang makan, Kak Fandi sedikit terkejut karena ada orang asing ikut makan di sana.


"Dia karyawan baru di resto Ara, Kak," Ara berujar karena melihat wajah penasaran Kak Fandi.


"Ara?" Kak Fandi menoleh dan mengernyit bingung, Ara menggaruk keningnya.


"Ara itu ya mbak Rara, saya jadi manggil mbak Ara karena mas pacarnya mbak Ara manggil kaya gitu," mbak Siti menjelaskan, Kak Fandi mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Sini, sini nak Fandi. Ikut sarapan sini," Pak Gito melambaikan tangannya memanggil Kak Fandi yang masih berdiri, Kak Fandi mengangguk dan tersenyum pada Pak Gito. Kemudian tungkainya melangkah menuju meja makan dan menghempaskan bobotnya di kursi dekat Pak Gito duduk.


"Rara, tolong kamu ambilkan piring buat nak Fandi," titah Pak Gito, Ara mengangguk lalu mengambil piring dan meletakkan di depan Kak Fandi.


"Ambilkan nasi sama sayur juga lauknya lah, Ra," Ara melirik mbak Siti yang terlihat kesal melihat dan mendengar Ara di perintah seperti itu.


"Tidak usah, Ra. Biar Kak Fandi ambil sendiri," tolak Kak Fandi karena melihat Ara yang tidak juga segera melaksanakan perintah ayahnya. Ara mengangguk lalu duduk di dekat Kak Fandi.


Akhirnya mereka makam dalam diam, Ara bersikap cuek dan fokus pada makanan miliknya. Dalam otak dia berpikir, bagaimana caranya agar bisa membuat ayahnya mengatakan pria yang hampir melecehkan adiknya.


"Oya nak Fandi, tumben pagi pagi begini sudah sampai di sini?" tanya Pak Gito yang sudah menandaskan sarapannya, Kak Fandi yang di tanya melirik Ara melalui ekor matanya. Nampak wanita itu tengah sibuk dengan sarapan nya.


"Eehhm," Kak Fandi berdehem sejenak, "saya kesini mau menagih janji om Gito yang akan menikahkan saya dengan Rara jika Om Gito sudah sembuh," tutur Kak Fandi.


Uhuk uhuk, Ara segera meminum air putih yang berada di depannya. Ara terkejut dengan perkataan Kak Fandi.


"Kamu nggak papa, Ra?" tanya Kak Fandi terdengar khawatir, tangannya mengusap lembut punggung Ara, akan tetapi dengan halus Ara menyingkirkan tangan Kak Fandi.


"Aku nggak papa kok, Kak," sahut Ara begitu tenggorokannya sudah mendingan, Kak Fandi tersenyum lega.


"Oya, tadi kata Kak Fandi, ayah janji akan menikahkan kita jika ayah sudah sembuh?" Kak Fandi mengangguk, tangannya meraih tangan Ara dan menggenggam nya perlahan. Sungguh Ara tak nyaman dengan keadaan seperti ini, tanpa mereka tahu, mbak Siti mengirim pesan pada Reno yang isinya ada pria datang kesini dan menagih janji pada ayah Ara jika akan menikahkan mereka.


"Ra, mau ya kamu menikah dengan Kak Fandi?" ucap Kak Fandi terdengar memelas, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar langkah kaki berderap dengan cepat.


"Ra, kakak mohon. Mau ya menikah dengan Kak Fandi, Kak Fandi sayang banget sama kamu," tutur Kak Fandi masih menggenggam lembut tangan Ara.

__ADS_1


"Rara hanya akam menikah denganku!!" seru orang yang baru saja datang, dengan langkah lebar pria itu menepis tangan Kak Fandi yang membuat Ara meringis karena refleks tangannya menjuntai dan mengenai kursi.


__ADS_2