Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 75


__ADS_3

"Kakak," Ria mengambur kepelukan Ara, mereka saling memeluk dan tangis Ria semakin kencang. Ara mengusap punggung adiknya dan menyuruhnya agar tenang.


Ya kini mereka sudah berada di apartemen Seno, Reno segera melesat kesini setelah sahabatnya itu mengabari.


"Bagaimana semua terjadi, hmm?" Ara dan yang lain sudah duduk di sofa ruang tamu Seno, Ria duduk sambil memeluk erat kakaknya.


"Kemarin habis teleponan sama kakak, ayah manggil aku, aku datang karena aku kira ayah menyuruh ku masak ternyata...." Ria kembali menangis saat mengingat kejadian mengerikan tersebut.


"Ada dua om om yang menunggu di ruang tamu, dan kata ayah, aku harus ikut mereka dan membuat mereka senang," Ria menceritakan sambil terisak, gigi Reno bergemerutuk menahan emosi.


"Lalu bagaimana kamu bisa lolos?" Reno menatap wajah Ria yang sembab, mungkin sudah terlalu lama menangis.


"Ria di bawa paksa oleh om om itu, dan Ria juga sudah minta tolong ayah. Tapi ayah cuek, dan membantu mereka memasukkan Ria ke mobil," Ria menyeka ingus yang keluar dari hidungnya.

__ADS_1


"Di pertengahan jalan, Ria melihat mereka sedang ribut, entah apa yang sedang mereka ributkan. Itu Ria gunakan buat telepon mas Seno," sambung Ria seraya melirik pria yang tengah duduk tidak jauh darinya.


"Kemudian sepertinya mereka sadar, lalu mereka merampas ponsel Ria, beruntung pas telepon mas Seno, aku udah share lock." Ria semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak.


"Apa mereka sempat menyentuh kamu?" Ara bertanya hati hati, ria mengangguk pelan.


"Mereka merobek baju atasan adik kamu, mungkin mereka sudah menyentuh bagian itu," Seno yang menolong Ria menceritakan kejadian dan keadaan pada saat itu.


Ara masih belum paham apa yang di maksud Seno dengan bagian itu, sedang Reno yang paham hanya mengangguk. Tiba-tiba otak kotor melintas dan membayangkan dia menjadi bayi saat bersama Ara, Reno memukul kepalanya agar konsentrasi.


" Nggak kenapa napa," Reno menjawab sambil menggeleng, Ara mendengus sebal, apa maksudnya tidak apa apa coba. Sedang tadi memukul kepala seperti orang yang sedang berpikir, begitu kira kira isi pikiran Ara.


"Oya apa mereka sudah di laporkan polisi?" Reno mengubah topik pembicaraan, Seno menggeleng.

__ADS_1


"Mereka hilang dari kemarin, padahal aku dan anak anak sudah mengerahkan semua orang untuk mencari mereka," tandas Mas Seno, Ara menggeram marah, "bagaimana tidak bisa menemukan mereka? Mereka besar!" sentak Ara kesal.


"Nanti kami akan coba cari lagi," Reno mengalah, tidak ingin jika Ara nya kembali sakit, "mungkin ga, jika ada campur tangan ayah kamu?" Reno menatap wajah Ara. Wanita itu menoleh lalu menopang dagu terlihat sedang berpikir.


"Ya, kuncinya mungkin ayahnya Rara," Mas Seno yang belum tahu masih memanggil dengan nama Rara, bukan Ara.


"Tapi ayah pasti tidak mau mengaku," lirih Ria, Ara mendesah frustasi kemudian mengacak rambutnya kesal.


"Kalau seperti ini harus bagaimana lagi, Kak?" Ara berpindah kesamping Reno dan menyandarkan kepalanya di sana, rasanya sedikit damai jika berdekatan dengan Reno seperti ini.


"Tenang saja, Ra. Cepat atau lambat mereka pasti ketemu, dan ayah tirimu pasti akan mendekam di balik jeruji besi," desis Reno lirih yang hanya di dengar Ara, wanita itu mengangguk pasrah kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Reno.


"Kalau lelah istirahat saja di kamar," Mas Seno melihat wajah lelah keduanya dan akhirnya menyuruh mereka beristirahat.

__ADS_1


"Hmm," Reno menjawab singkat lalu berdiri dan mengangkat tubuh Ara membuat wanita itu memekik dan menjerit karena kaget.


__ADS_2