Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 31


__ADS_3

Riana menurunkan tangannya kemudian menatap kesal pada Rara, kakaknya. Sedang Rara yang tidak merasa bersalah benar-benar tidak mengerti kenapa adiknya.


"Huh," Ria melenggos menatap pemandangan lain, "tidak peka," gumamnya yang terdengar seperti gerutuan bagi Rara.


Rara diam, mencoba mengingat apa yang membuat sang adik marah seperti ini, Rara merogoh tasnya berniat mengambil ponselnya.


Seketika ada uang berwarna merah ikut tertarik, Rara menepuk pelan keningnya. Baru ingat dan baru sadar dirinya sudah menjanjikan akan memberikan uang ongkos dan uang makan.


Rara mengambil dua lembar uang berwarna merah lagi lalu melipatnya, menarik nafas pelan lalu tersenyum, meraih tangan adiknya tetapi segera di tepis adiknya.


"Beneran ngga mau uang ini?" Rara menunduk kedua tangannya saling menggenggam, matanya sedikit melirik adiknya, 'yes' batin Rara bersorak.


Adiknya menoleh dan menggaruk kepalanya, lalu meraih tangan Rara dan menggenggam nya.

__ADS_1


"Kak, Ria minta maaf," pinta Ria terdengar sendu, Rara memutar tubuh membelakangj adiknya, dalam hati dia sebenarnya tidak tega mengerjai adiknya seperti ini. Tapi tadi dia benar-benar lupa, dan adiknya harusnya mengingat janji Rara bukannya marah bukan?


"Kak," tangan Ria melingkar di leher Rara, memberikan kecupan pada pipi kiri kakaknya.


"Harusnya yang marah itu Ria, bukan kakak," gerutu Ria kemudian melepaskan tangannya dari leher Rara. Menyandarkan punggungnya pada tembok, Rara tidak tega segera meraih tubuh adiknya lalu memeluk nya.


"Kamu tahu 'kan kakak memikirkan banyak hal, jadi seandainya kakak menjanjikan sesuatu dan kakak lupa tolong kamu ingatkan, jangan marah oke?" Rara mengulurkan jari kelingking nya, Ria tersenyum dan menyambut jari Rara.


"Maaf, Kak," Ria menjewer telinga pertanda dirinya minta maaf, Rara tersenyum. Ini adalah cara mereka minta maaf karena terinpirasi film India yang mereka tonton.


"Maaf, tadi ayah ngaco ngomong nya," ucap Fandi terdengar tidak enak, Rara diam tetapi ekor matanya melirik adiknya.


"Ngga papa kok, Kak," jawab Rara sambil mengangguk, sedang Ria terlihat masih kesal.

__ADS_1


Fandi melangkah menuju kursi tralis di seberang tempat duduk Ria dan Rara. Menghenyakkan tubuhnya di sana lalu melempar senyum pada Ria dan Rara, yang hanya di balas anggukan oleh Rara, sedang Ria hanya menatap datar.


"Nanti kamu kerja?" Fandi membuka percakapan, mungkin merasa canggung karena suasana sepi.


"Iya, Kak," jawab Rara di iringi senyum manisnya. Fandi manggut-manggut seperti paham dan mengerti, "jam berapa berangkat nya?" tanya Fandi lagi.


Rara mengernyit heran, "jam 12.30 paling Rara izin pulang, mau siap-siap dulu," jawab Rara akhirnya.


"Yang nunggu om Amar siapa?" tanya Fandi lagi, saat Rara akan menjawab pertanyaan Fandi, "om Amar itu siapa, Kak?" tanya Ria heran, Rara hanya tersenyum sambil mengusap poni sang adik.


"Om Amar itu ayah kita," Ria menjengit terkejut, "kok bisa? Nama ayah kan Gito?" Ria protes. Memang selama ini Ria hanya tahu nama ayahnya pak Gito, karena para tetangga memanggil mereka dengan nama itu, Pak Gito.


"Kalau nama Amar itu panggilan teman ayah pas SMP atau SMK kakak lupa," dasar Rara, sedang Fandi di seberang sana tersenyum hangat menatap gadis yang akan di jadikan jodohnya untuk dirinya kelak.

__ADS_1


"Ow," Ria manggut-manggut mengerti, "jadi nama ayah siapa?" Rara hanya menepuk kening akan pertanyaan sang adik. Bisa saja kan adiknya menebak nama ayahnya Amar Sugito atau Sugito Amar.


Salam sayang buat kalian semua, sehat selalu


__ADS_2