
"Halo, Ra. Boleh Om calon mertua kamu masuk?" celetuk papa Yudha yang telah menyembulkan kepalanya di pintu yang terbuka sedikit, Ara menoleh dan menatap arah pintu lalu tersenyum dan mengangguk.
"Kata Reno hari ini kamu mau pulang?" Om Yudha kembali bertanya, "iya, Om. Udah baikan kok," ucap Ara yang langsung di angguki Om Yudha.
"Ayah kamu kok nggak ada?" Om Yudha memindai sekitar dan tak mendapati Ayah Andri berada di sana, "ayah pergi kerja, katanya. Tapi nanti pas Ara pulang mau jemput kok," sahut Ara yang membuat kening Om Yudha mengkerut.
Reno memang belum memberi tahu jika lelaki yang berada di sini adalah ayah kandung Ara, dan Reno lupa memberi tahu jika Ara tahunya jika lelaki itu adalah suami tantenya.
"Bukannya ayah kamu-" ucapan Om Yudha terputus saat Tante Rina maju dan melempar senyum, senyum yang hampir mirip dengan wanita masa lalu yang masih ada di hatinya.
"Oya, anda papanya nak Eno?" kening Om Yudha mengkerut bingung, "Eno panggilan kesayangan kak Reno dari mereka," Ara menjawab pertanyaan yang belum sempat Om Yudha utarakan karena masih terpaku akan senyum itu.
__ADS_1
"Owh," balasnya pada akhirnya, keadaan menjadi sunyi kembali. Om Yudha duduk di dekat nenek Ara, sedang tantenya duduk di dekat brangkar Ara.
Ara merasa bosan karena hanya tiduran, memegang ponsel pun tidak di bolehkan Reno.
"Maaf menunggu terlalu lama," Reno segera membuka pintu dan berlari menuju brangkar di mana ada wanita yang ia cintai.
Ara mengerucut kan bibirnya membuat Reno gemas, ingin sekali ia \*\*\*\*\*\*\* bibir yang sedikit pucat itu. Namun ia urungkan karena banyak orang di sana, "semua sudah saya urus, tinggal menunggu dokter melepas infus ini," Reno menunjuk selang infus yang sudah tidak mengalirkan cairan infus.
Berselang beberapa menit seorang dokter dan dua orang suster mengekori dokter tersebut masuk dan memberikan senyum ramah, sang suster yang satu melepas selang infus yang terpasang di tangan mbak, yang satu mencatat tensi dan hb Ara yang dokter itu katakan.
"Oya, jangan lupa undangan pernikahan kalian saya tunggu," seloroh sang dokter yang membuat netra Ara membulat sempurna, Ara segera menatap tajam wajah lelaki yang berdiri di sampingnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
'Bisa bisanya di menyebarkan berita yang belum terjadi,' Ara mendesis di dalam hati, Reno yang paham akan tatapan yang Ara berikan, hanya meringis dan. berpura pura tidak melihat.
"Iya dokter, beres. Kan dokter yang selama ini merawat keponakan saya bukan," Tante Rina menjawab dan mengamini perkataan sang dokter, "saya juga lho," sang suster yang sudah akrab dengan Ara ikut bersuara.
"Nanti kalau acara nikahannya terjadi kapam dan di mana, maka sebelumnya saya akan menyebar undangan agar kalian bjsa datang dan melingkar acara sakral kami, bukan begitu, Sayang," Ara tersenyum lebar setelah berkata demikian, Reno mengangguk setuju.
Apapun akan ia lakukan jika menyangkut kebahagiaan wanitanya, termasuk membuang buang uang.
"Satu rumah sakit ini kalau perlu cuti sehari untuk menghadiri pernikahan saya dan wanita yang paling saya cintai ini," Reno berujar dengan bahagia, dan dokter serta kedua suster itu juga tersenyum lebar.
"Tidak usah membawa kado ataupun menyumbang," Reno menambahkan, ketiga staff rumah sakit itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Lalu mereka berkemas dan bersiap pulang, Reno memang sengaja tidak menunggu kedatangan Pak Gito, karena ia tidak ingin jika sewaktu waktu Pak Gito kesana menemui Ara atau adiknya malah membuat celaka keduanya.
Nenek dan Tante Rina menumpang pada mobil Om Yudha, sedang Ara naik mobil berdua saja dengan Reno. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil Om Yudha tidak ada percakapan, ingin sekali Om Yudha mengajak berbicara pada ibu wanita yang ia cintai. Hanya ekor matanya yang sesekali melirik wanita yang duduk di bangku belakang dan sedang bermain ponsel.