Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 33


__ADS_3

"Kak Rangga, tolong, hiks," Lila berpura pura menangis dan meminta tolong, bukannya iba Rangga malah tersenyum mengejek, sedang para preman yang kalah telak tadi sudah berdiri di belakang ketua preman yang sedang menyandera Lila, lebih tepatnya berpura pura menyandera.


"Kak, kau kenal cewek itu?" kini posisinya Rea berada di depan dan di tengah tengah antara Raditya dan Rangga, jemari Raditya dan Rea saling bertaut, sedang kepalanya menoleh dan mendongak menatap Rangga yang juga tengah memandang dirinya.


"Yakin, tapi sepertinya kenal kamu kok, tadi dia manggil namamu lho," kata Rea terdengar mengejek, Rangga gemas dengan gadis yang berani mengejek nya secara terang-terangan.


Rangga memajukan kepalanya dan sedikit menunduk kemudian mengecup kepala Rea bagian belakang, sesaat kemudian meringis karena Rea menyikut perutnya.


"Kakkkkk, tolongggg!" Lila berteriak, hatinya kesal karena lelaki yang dia sukai malah bermesraan dengan perempuan lain dan mengabaikan dirinya.


"Biarin aja," kata Rangga cuek, yang malah menyandarkan kepalanya di bahu Rea, netranya menatap penuh kemenangan pada Raditya.


"Ish," Rea mendorong kepala Rangga, kemudian melepas tautan tangannya dengan tangan Raditya.

__ADS_1


"Mau kemana?" Raditya yang kaget karena tangannya terlepas, "nolongin dia," sahut Rea yang membuat Raditya mencebik.


"Hati-hati," pesannya, Rea mengangguk lalu melangkah maju, "dia mau kemana?" Rangga bertanya heran.


Raditya yang merasa di tanya menoleh, "nolong cewek loe," kemudian tatapannya kembali pada Rea, "loe laki bukan sih, kenapa malah biarin Rea kesana!! Dan lagi, cewek itu bukan cewek gue!!" ujar Rangga ketus dan kakinya melangkah berjalan menyusul Rea, namun terhenti karena Raditya menarik bahunya.


"Biarin aja, tar kalau di larang Rea marah. Liatin aja dulu, kalau butuh bantuan baru maju," seloroh Raditya yang tahu betul watak gadis itu.


Rea sudah berdiri di hadapan Lila dan ketua preman yang kini sedang memandang dirinya, "siapa yang nyuruh kalian nyerang dia?" Rea menahan rasa perih di lengannya akibat terkena pisau tadi, dan kini meletakan kedua tangannya di pinggang seperti menantang para preman itu.


"Loe tahu, papa gue namanya Reno Mahesa, papaku orang berkuasa di kota ini, dan dia," Rea menunjuk dirinya sendiri lalu beralih menunjuk Raditya, "dia juga orang berkuasa di kota ini, dia juga bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk menelepon polisi dan menangkap kalian," ucap Rea dengan santai tapi terdengar seperti ancaman.


"Jika kalian berani menyakiti aku, maka, papaku tidak akan mengampuni kalian," Rea tertawa kecil di akhir kalimat, ketua preman itu langsung pias. Sebenarnya tujuannya hanya mengertak Rangga, tapi karena gadis dan anak lelaki itu ikut campur, maka mau tak mau dia jug harus menyerang mereka berdua.

__ADS_1


"Aduh," Lila berteriak karena di dorong oleh ketua preman itu tersenyum menimpa tubuh Rea, dan mereka langsung lari tunggang langgang, takut ancaman yang gadis itu katakan akan terjadi.


Semua orang dan pembisnis sing mengenal siapa sosok RENO MAHESA, lelaki dingin dan tak kenal ampun dan akan mengamuk jika ada yang melukai orang kesayangannya.


"Kamu ngga apa-apa?" Rangga yang sudah berdiri dekat dengan Rea dan Lila bertanya dengan nada khawatir, Lila tersenyum lalu mengangguk.


"Aku ngga apa-apa kok, Kak," katanya yang kemudian tangannya terulur hendak meraih tangan Rangga. Namun, segera di tepis kasar oleh si pemilik tangan, dan itu membuat Lila cemberut.


"Bandel," Raditya yang sudah menyusul dan berdiri di samping kiri Rea mengacak rambut panjang itu, Rea menoleh dan mendelik membuat Raditya tertawa dan menarik tubuh Rea kedalam dekapannya.


"Ke kampus?" tawarnya, Rea mengangguk.


Netra hijau zamrud milik Raditya menatap sekilas pada Lila lalu melengos.

__ADS_1


"Tunggu, aku bagaimana?" tanya Lila karena di tinggalkan seorang diri, Rangga dan Raditya tertawa tanpa menjawab.


__ADS_2