
"Kau suka yang aku kirim?" tanya Reno begitu Ara menerima sambungan telepon darinya, Ara menunduk dan tersenyum, walau Reno tidak melihat tapi percayalah, Ara bahagia saat ini.
"Suka," jawab Ara malu malu, tubuhnya bergoyang goyang, tangannya memelintir rambutnya yang sengaja dia urai.
"Syukurlah," terdengar nada lega dari mulut Reno, "oya, segera makan dan istirahat. Kalau mau pulang nunggu aku aja," Ara agak kecewa mendengar ucapan Reno barusan yang berarti dirinya tidak bisa keluar hari ini.
"Oya, Ra. Adikmu mau bertemu, rindu katanya. Tapi lebih rindu aku," tambah Reno yang kemudian tergelak karena merasa konyol akan ucapannya barusan.
"Hish, gombal," gerutu Ara yang semakin membuat Reno terbahak, Ara tidak tahu saja, di tempat Reno sekarang Mas Seno menggeleng heran. Heran dengan keajaiban sahabatnya tersebut.
"Ya sudah aku kerja dulu," pamit Reno yang di iyakan oleh Ara, sambungan telepon terputus dan menyisakan senyum bahagia di ketiga anak manusia tersebut. Reno, Ara dan Mas Seno yang bahagia karena melihat dan juga merasakan sahabatnya bahagia.
Sesimpel itu bahagia, melihat orang terdekat bahagia dan merasa senang, otomatis akan menular juga pada kita. Setelah telepon itu mati, Reno dan Mas Seno melanjutkan rencana selanjutnya.
Sedang Ara menuruti perintah Reno, yaitu segera memakan makanan yang telah Reno pesankan.
Ara tersenyum kala mengingat Reno mengatakan jika Ria merindukan dirinya, ah, dirinya juga ingin bertemu. Walau sering bertukar pesan atau video call, jika tidak bertemu tidak hilang rasa rindu itu.
__ADS_1
Ara melihat jam melalui ponselnya, sudah jam 11.15 siang, perempuan itu ragu ragu ingin menghubungi adiknya terlebih dahulu, takut mengganggu pikirnya. Lagi pula ini masih jam kerja, tinggal beberapa menit lagi akan istirahat. Tapi jika jam istirahat dia menghubungi adiknya, nanti waktu istirahat dan makan siang nya akan berkurang.
Ara memukul pelan kepalanya karena bingung, karena terlalu fokus berpikir tiba tiba sakit kepalanya kambuh, Ara memejamkan kedua matanya dan menahan kepalanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kak, sakit," rintihnya dan tidak mungkin bisa di dengar Reno, "hu hu hu, sakit," Ara berusaha berdiri dan naik ke lantai atas, dirinya ingat. Reno selalu menyetok obat yang dia sebut vitamin tersebut.
Ara berjalan sempoyongan dan rasa sakit di kepalanya semakin bertambah, "kak Renooooo!!!" Ara berteriak memanggil nama Reno sebelum tubuhnya ambruk dan menghantam lantai.
Sebelum memejamkan kedua matanya, Ara melihat seorang wanita paruh baya berlari kearahnya setelah terdengar pintu terbuka, Ara mendengar suara berteriak memanggil namanya, "non Ara!!!" setelah itu semuanya gelap.
Samar samar dari luar ruangan ini terdengar suara pria yang dia kenal, dan seorang wanita yang tadi memanggil dirinya sebelum kehilangan kesadarannya berbincang bincang. Terdengar pintu terbuka, seorang wanita paruh baya yang tadi dia lihat samar samar melempar senyum lalu segera berlari keluar.
"Kau sudah sadar, Sayang?" suara Reno dari ambang pintu yang terbuka pun terdengar, dengan langkah lebar seperti setengah berlari, Reno menghampiri Ara.
"Kenapa bisa kambuh lagi, hmm?" Reno bertanya dengan nada cemas, di berikannya kecupan bertubi tubi pada kening perempuan yang telah membuat cemas saat sang asisten rumah tangga yang sengaja dia kirim mengabari bahwa nona nya pingsan saat dirinya baru membuka pintu.
"Aku hanya rindu Ria," cicitnya takut membuat Reno marah, "kan aku sudah bilang nanti aku akan ajak kalian ketemuan, Sayang," gemas Reno akan perempuan tercintanya ini.
__ADS_1
"Jika seperti ini, saat kalian bertemu, kamu mau bilang apa? Adikmu pasti juga cemas kalau tahu kamu masuk rumah sakit seperti ini, Sayang," Reno menciumi punggung tangan Ara yang bebas.
"Maaf, aku sudah merepotkan kalian," airmata Ara akhirnya turun sudah, Reno terkejut karena melihat Ara menangis.
"Maaf, Sayang. Aku ngga bermaksud marahin kamu, aku hanya cemas." Reno merengkuh tubuh Ara yang bergetar karena menangis, sesekali terdengar isakan kecil dari bibirnya.
"Apa masih sakit?" Ara bingung untuk menjawab, karena pertanyaan itu pasti menjebak.
"Kepala ku sudah agak mendingan," akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulutnya, Reno tersenyum lega.
"Tadi kamu mau kemana?" Reno ingat, tadi menemukan tubuh Ara yang tergeletak di lantai antara ruang tamu dan dapur.
"Tadi aku mau naik ambil vitamin ku, tapi karena ngga kuat, akhirnya jatuh di sana," jawab Ara dengan suara lirih. Reno menarik nafas perlahan, dokter mengatakan penyakit Ara akan lebih parah jika perempuan ini pingsan.
Walau Ara meminum vitamin, itu hanya sarana untuk mengurangi rasa sakit yang bisa menyebabkan pingsan. Reno lalu berpikir, bagaimana jika Ara hamil dan kemudian sering minum obat, apa itu akan aman atau berbahaya kah?
"Kak," Ara menyentak tangan Reno, itu dia lakukan karena melihat Reno sedang melamun dan sudah dia panggil namun tidak menyahut juga.
__ADS_1