Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 60


__ADS_3

Sesampainya di depan gedung apartemennya, Reno memilih memarkirkan motornya di lantai dasar dan naik lift agar bisa menuju lantai di mana kamarnya berada.


Para resepsionis begitu terpesona akan wajah Reno, dan mereka menyapa Reno. Dan seperti biasa, Reno tidak membalas sapaan mereka. Tangan kanannya menenteng belanjaan mereka tadi dan tangan kirinya menggandeng tangan Rara.


"Capek?" Reno bertanya pada Rara, wanita itu menggeleng.


"Maaf membuatmu repot," ucap Reno yang hanya di balas anggukan oleh Rara, sebenarnya malah Rara yang merasa tidak enak pada Reno. Pria itu membelikan banyak camilan untuknya, dan tadi dia mengirim sebagian kepada Ria melalui gosend atau ojek online yang dibayar Reno dengan sedikit uang lebih.


"Mau mandi lagi?" Reno bertanya seraya meletakkan kantong plastik itu, "aku nggak ada baju ganti," jawab Rara yang mengatakan sebenarnya.


Reno keluar dari dapur dan sedikit berlari naik menuju kamar, terdengar derap langkahnya yang terburu-buru. Beberapa menit kemudian Rara melihat Reno sedang menghubungi seseorang, Rara melangkah menaiki tangga.


"Pakai pakaianku dulu saja, nanti kalau sudah datang baru ganti," ujar Reno pada Rara setelah mematikan sambungan telepon tersebut.


"Mau mandi bareng?" goda Reno yang membuat Rara mendelik tajam, pria itu malah tertawa dan berkata, "jika kita mandi bersama, berarti harus ada kata 'sah' dulu," celetuk Reno.


"Kamu sudah siap menjadi nyonya Reno Mahesa?" Reno bertanya seraya mengekori Rara masuk ke kamar.


"Tau ah, Mas!" ketus Rara kesal. Kemudian melangkah menuju almari dan mengambil kaus milik Reno.


Rara masuk ke kamar mandi, dan memutuskan mandi, namun dia keluar lagi dan berdiri di ambang pintu, "m-mas," panggil Rara pada Reno, pria itu menoleh.


"Ya," jawabnya, Rara menggaruk kepalanya, "itu, cara nyalain pancurannya biar jadi anget gimana?" tanya Rara polos, Reno tertawa kemudian melangkah masuk kekamar mandi setelah pintu itu terbuka lebar, dan di dalam sana Reno mengajari Rara menyalakan dan mematikan shower tersebut, cara mengaturnya juga. Rara mengangguk paham, lalu Reno keluar namun sebelum mencapai pintu, Reno menoleh dan menatap Rara.


"Oya, Sayang. Ingat, itu namanya shower," kata Reno seraya menunjuk alat yang di maksud dan berbalik keluar terlihat bahunya terguncang, pasti pria itu tengah menertawakan ketidaktahuan Rara akan nama barang itu.


"Dasar nggak ada akhlak," maki Rara kesal, kemudian menghentak hentakkan kedua kakinya. Akhirnya Rara mandi dan badannya terasa segar, dia memakai pakaian dalam yang tadi dan memakai kaus Reno yang jika dia pakai kedodoran.


Saat Rara keluar dari kamar mandi, dia tidak mendapati keberadaan Reno di kamar itu. Rara mengambil ponselnya di dalam tas yang tertinggal tadi. Rara mendengus kesal, sepertinya Reno sengaja membuatnya agar menginap di sini. Dengan meninggalkan tas slempang berisi dompet dan juga ponsel miliknya contohnya.


Rara menoleh kearah pintu, di sana Reno sudah terlihat segar dan sudah berganti pakaian. Dengan kaos lengan panjang berwarna biru muda dan celana model chinos di bawah lutut. Rambutnya yang basah dan sudah tersisir dan terbelah pinggir membuat kadar ketampanan pria itu bertambah.

__ADS_1


Hati Rara jadi membandingkan antara Fajar, Kak Fandi dan Dion ternyata masih kalah tampan dari pria di hadapannya ini. Apalagi umur mereka bertiga masih terbilang muda, sedang sama Om Dika, om nya Rania. Reno masih unggul,Rara tersentak kala wajahnya tertempa angin beraroma mint.


"Ngelamunin apa, Sayang?" Rara langsung mendorong dada Reno karena setelah bertanya pria itu mengecup pipinya, dan tiba tiba jantungnya berdebar.


"Enggak ngelamunin apa apa," sahut Rara lirih, kemudian menghempaskan bobotnya di kasur empuk itu.


"Kamu mandi di mana?" akhirnya Rara bertanya, "di kamar tamu bawah," jawab Reno.


"Mmm, nanti kita tidur bareng di sini?" Rara langsung mengatupkan kedua bibirnya, Reno mengangguk.


"Tapi kalau kau takut aku apa apain aku bisa kok tidur di sofa, ya walau empuk namun nanti badanku sakit semua. Tapi tak apalah, demi kamu," Reno nyengir dan mengedipkan sebelah matanya.


"Aku saja yang tidur di sofa," Rara berujar, tidak enak juga jika pemilik kamar malah tidur di sofa sedang dia di kasur yang empuk. Reno berdecak tidak suka, lalu melangkah keluar kamar karena bel apartemen berbunyi.


"Kamu nggak usah ikut," kata Reno sambil merentangkan kedua tangannya, kening Rara mengkerut, "kenapa?" tanya Rara polos, tidak mengerti kenapa Reno melarang dirinya turun.


Reno maju lalu menarik tubuh Rara lalu membelai wajah Rara dengan punggung tangannya, "karena aku tidak suka ada yang melihatmu memakai pakaian seperti ini, mengerti?" Reno berbisik yang malah membuat bulu kuduk Rara meremang.


"Kamu Ara?" tanya wanita itu sambil menunjuk Rara, sedang Rara terdiam dan hanya memandang wanita berumuran sama dengan Reno mungkin lebih muda dua atau tiga tahun mengenakan dress di atas lutut, rambutnya yang pirang dan panjang tergerai dengan indah.


"Jangan ganggu dia, Ros!" seru Reno yang kemudian masuk dan menerobos wanita yang berdiri di depan pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Gue nggak ganggu cewek loe, gue cuma tanya, No," sahut wanita yang di panggil Ros tersebut, Reno menyerahkan paperbag yang dia bawa kepada Rara.


Rara segera membuka setelah menerimanya, "ini untukku?" tanyanya dengan mata berbinar, Reno mengangguk.


"Terima kasih," ucap Rara yang tanpa sadar mengecup sudut bibir Reno, "aku pakai ya?" Reno mengangguk sambil mengacak rambut Rara. Sebelum Rara masuk kekamar mandi, dari ekor matanya dia menangkap penglihatan kalau wanita itu sedang berjalan kearah Reno. Rara segera masuk ke kamar mandi, dia menempelkan telinganya di pintu itu berharap bisa mendengar percakapan mereka. Dan berhasil.


"No," panggil wanita itu terdengar genit, "jangan panggil gue No, panggil gue seperti yang lain!" terdengar ketus sekali saat Reno berbicara dengan wanita itu.


"Kenapa kau memilih anak kecil itu, aku sudah mengejarmu cukup lama," wanita itu terdengar merajuk, terdengar Reno berdecak.

__ADS_1


"Karena dia lebih pantas, mengerti! Sekarang keluar dari kamarku!" perintah Reno terdengar tegas. Saar sudah tidak mendengar suara orang berbicara lagi, Rara segera berganti pakaian.


"Sudah?" Reno bertanya ketika Rara keluar kamar mandi, pria itu tengah duduk di pinggir ranjang. Rara mengangguk dan netranya berkeliling, "dia sudah turun," kata Reno seakan mengerti apa yang Rara cari.


Reno menarik Rara kedalam pangkuannya, mengalungkan kedua tangannya di pinggang Rara yang ramping.


"Suka?" Rara mengangguk dan tersenyum pada Reno, "dari mana kau tahu aku suka gambar Hello Kity?" tanya Rara malu malu. Reno tertawa lalu mengecup pipi Rara, "apa yang tidak ku tahu dari pacarku?" katanya dengan ambigu, Rara hanya mencebik.


Malam ini mereka habiskan dengan nonton drakor, ketika Rara bertanya pada Reno kenapa suka drakor, jawabnya karena filmnya romantis. Dan menyukai cara pria itu mencintai pasangannya, selalu setia jika sudah menautkan hatinya pada satu wanita.


Setelah puas melihat drakor mereka tertidur dengan menjadikan lengan Reno sebagai bantal, pagi harinya Rara bangun dan memasakkan Reno masakan. Mereka makan bersama, dan pergi kerumah sakit karena Seno mengabarkan ayah Rara sudah boleh pulang.


Dan Rara menepati janjinya dengan setiap sabtu malam menginap di apartemen Reno, tentu saja setelah pulang kerja. Dan oma serta opa Reno sering meminta Rara datang berkunjung, dengan senang hati Rara kesana.


Hubungan antara Rara dan Reno semakin dekat, Reno yang sering tidak mendapatkan kabar dari Rara menjadi uring uringan dan menghukum Rara dengan membuatkan pria itu masakan kesukaannya. Rara tidak ingin bermain hati, berhubungan dengan Reno beberapa bulan ini membuat dirinya agak jauh dari Fajar, dan membuat pria itu protes.


Apalagi Kak Fandi dan Dion semakin gencar mendekati dirinya, dan juga ayah serta Ria. Berharap salah satu dari mereka di terima menjadi menantu dan kakak ipar di keluarga Rara. Dan ayah Rara kembali menyerahkan urusan itu pada Rara.


Rara memutuskan keluar dari minimarket dan memilih membuka rumah makan kecil-kecilan dengan modal yang Reno berikan sebagai gaji menjadi pacar sewaannya, walau hanya di depan rumah tapi tidak apa. Dan dalam dua bulan, Rara bisa mengontrak tempat dan memperbanyak menunya.


Reno menyarankan agar Rara membuka cabang, walau kecil tidak apa. Rara mengatakan terkendala modal, dengan senang hati Reno memodali tempat dan peralatan. Dan di cabang ini serta pusat rumah makan milik Rara sudah memiliki karyawan dan karyawati enam orang, masing masing tiga orang.


Saat Fajar bertemu Rara, dia mengatakan samgat menyayangkan jika Rara keluar dari minimarket tersebut, dan Rara mengatakan tidak selamanya dia akan ikut orang. Dia harus bergerak dan maju.


# flashback off


Rara tersentak kala temannya menyikut bahunya, di mall ini ada sebuah even, dan rumah makan Rara mengikuti acara itu karena ada yang merekomendasikannya, siapa lagi jika bukan Reno.


Dan pria itu pasti sengaja datang untuk menggangunya, ingin sekali dia memutuskan perjanjian pacar kontrak tersebut. Akan tetapi dia tidak bisa, karena dalam perjanjian hanya Reno boleh memutuskan hubungan itu.


"Ada apa?" tanya Karin temannya, Karin adalah teman SMP Rara membantu dalam even ini. Rara menggeleng

__ADS_1


Maaf flashbacknya kepanjangan,


__ADS_2