
Rara memutuskan keluar, berbincang dengan Rania dan Ria. Saat Rara bertanya bagaimana mereka bisa kesini bersamaan, mereka menjawab karena mereka di jemput Mas Seno.
"Jar, aku mau tanya," kata Rara yang kemudian pindah tempat duduk menjadi di samping Fajar.
"Yang ngantiin aku siapa? Kata Rania orang dari pusat? Bukan nya waktu itu kamu bilang itu minimarket belum ada cabang?" cecar Rara, dia merasa penasaran.
"Oh itu," Fajar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku bilang pak bos kalau kamu sedang ada urusan mendadak, dan kebetulan mbak Susi Susanti libur. Jadi dia menyuruh anak buahnya yang di kantor mengantikan dirimu," ujar Fajar yang masih membuat Rara ragu, namun saat akan bertanya akhirnya dia urung kan. Jadi Rara hanya mengangguk.
"Ra, kenapa sih kamu dekat dekat dengan om-om itu?" Kak Fandi ikut duduk di sebelah Rara, membuat Rara menoleh dan salah tingkah saat akan menjawab.
"Ehmm, kan sudah ku bilang, Kak. Dia itu pacar ku," dusta Rara, Fajar dan Kak Fandi mencebik.
"Sejak kapan tipemu jadi om Om?" cibir Fajar, Rara tersenyum seraya berkata, "semenjak mengenal dia," sahut Rara dengan tenang. Padahal hatinya seperti balon hijau yang meletus, sangat kacau.
"Sudah sih kalau kak Rara pilih pemilik RC," ujar Ria seperti mengompori, Rania menyenggol tangan adik sahabatnya.
"Eh, Jar, Ran kalian kok di sini semua? Lalu yang masuk pagi siapa?" Rara baru saja ingat, seharusnya salah satu dari mereka masuk pagi.
"Masih pagi ini, Ra," sahut Rania, Rara hanya mengangguk. Sekitar pukul delapan Rania izin pulang, tidak lupa Ria juga ikut. Kak Fandi juga izin karena adanya pesanan. Tinggal Fajar dan Rara di luar ruangan itu.
"Ra, gimana jawaban pertanyaan ku waktu itu?" Fajar duduk bersih di depan Rara, menggenggam jemari Rara yang lentik. Rara menatap wajah Fajar hati nya berdesir, ya Rara akui ada rasa sayang yang dia rasakan pada pemuda di depannya ini. Namun dia tidak mau egois, Rara masih terikat kontrak pada Reno.
"Kamu tahu aku sudah punya pacar," jawab Rara seraya menggigit bibir bawah, merasa bersalah. Fajar menunduk dan mengecup tangan Rara.
"Aku mau jadi yang kedua kok," gumam Fajar lirih, "asal aku bisa sama kamu, aku nggak perduli," timpal Fajar.
"Bisa nunjukin rasa sayang ku ke kamu itu udah buat aku bahagia," ujar Fajar lalu mengecup tangan Rara, Rara mendesah lirih, membuang nafas kasar.
"Aku belum tahu, Jar," sahut Rara bimbang, dia bisa menerima cinta Fajar jika kontrak pacar sewaan dengan Reno selesai, akan tetapi selesai nya kapan Rara tidak tahu. Kepala Rara tiba tiba berdenyut sakit, dengan sedikit meringis Rara menarik tangannya lalu membentur benturkan kepalanya tembok dengan pelan.
"Ra," tangan Fajar menghalangi kepala Rara dan tembok, "sakit," keluh Rara. Dia tidak berpikir berat, kenapa tiba-tiba kepalanya sakit. Rara menyingkirkan tangan Fajar dan kembali membentur-benturkan kepalanya.
"Ada apa?" Reno yang baru saja keluar menghampiri Rara dan Fajar, dengan wajah cemas Reno memegang dan menahan kepala Rara.
"Kepala sakit," jawab Fajar yang terdengar cemas, tanpa babibu Reno mengendong Rara dengan gaya bridge style, sedikit berlari menuju keruang periksa.
__ADS_1
"Periksa dia!" perintah Reno dengan nada dingin setelah merebahkan tubuh mungil Rara.
Para suster membantu dokter memeriksa, dokter mengatakan harus mengambil sampel darah Rara dan melakukan ct scan, Reno mengangguk mengizinkan. Rasa cemas melihat wajah kesakitan Rara lebih mendominasi itu terlihat dari wajahnya.
"Mas, aku nggak papa. Aku sering begini kok," Rara menggenggam tangan besar Reno, "tahan sebentar, di suntik nggak sakit kok," bukannya menjawab Reno malah semakin membuat Rara takut.
"D-di-di suntik?" Reno mengangguk, wajah Rara pias. Entah kenapa dari dulu dia takut akan jarum suntik, tunggu, Reno tahu dia takut akan jarum suntik? Rara menggeleng menolak, tangan kanannya menarik narik lengan Reno.
"Sudah," kata suster yang telah mengambil darahnya, "su-sudah?" Rara menatap suster yang sedang memindahkan darah di suntikan pada botol kecil, suster itu mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian Rara di bawa ke tempat ronsen, awalnya Rara menolak dengan alasan dia tidak kenapa-napa dan rasa sakit di kepalanya ini sering terjadi jika sedang berpikir berat. Akhirnya Rara luluh saat dokter mengatakan hanya mengecek. Rara tidak mendengar penjelasan dokter, karena dokter tersebut hanya berbicara pada Reno.
"Kamu di sini dulu, aku mau menebus obatmu," titah Reno pada Rara dan menyuruhnya duduk di depan ruang rawat ayah Rara, Rara hanya mengangguk. Rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang.
Rara menyandarkan kepalanya pada tembok, Fajar yang baru datang mendekat.
"Apa kata dokter?" Rara hanya menggeleng karena dia benar-benar tidak tahu, "masih sakit kepalanya?" Fajar memijat pelan pelipis Rara membuat wanita itu terpejam.
"Obatnya di minum dulu," Reno datang menyodorkan obat yang telah di tebusnya dan di tangan kirinya ada teh hangat dalam gelas cup. Fajar melepas pijatan tersebut.
"Maaf untuk apa?" Reno menggeleng, "terima kasih telah hidup dengan baik, kau terlalu mandiri dari dulu," ucap Reno yang terdengar ambigu bagi Rara dan Fajar.
"Ayahmu mencari," Mas Seno keluar dan berbicara pada Rara. Rara mengangguk dan berdiri lalu melangkah masuk, "ayah cari Rara?" tanya Rara begitu dia berada di samping ayahnya.
Ayah Rara mengangguk lalu menepuk brangkar yang dia tiduri, Rara menurut.
"Bagaimana kalau kamu berhenti bekerja, dan kamu menikah dengan nak Fandi, atau pacarmu itu. Ayah kasihan melihat kamu sering kelelahan," Rara mendengus kesal akan permintaan ayahnya.
"Rara masih kuat bekerja, Yah," tolak Rara halus, "lagipula Rara juga ingin membuka rumah makan kecil-kecilan," timpal Rara kemudian.
"Bagaimana kalau saya yang kasih modal dan kamu yang menjalankan?" Reno masuk dan berpendapat, "nanti hasilnya bisa di bagi dua," sambung Reno. Ayah Rara mengangguk sambil menatap Rara, seakan meminta anaknya menyetujui saran Reno.
"Akan saya pertimbangkan," balas Rara, sebenarnya tidak buruk juga jika Reno memberikan dia modal dan dia mengelola, hitung-hitung mengembangkan bakat memasaknya, sekaligus memujudkan impiannya memiliki rumah makan sendiri.
"Jangan lama-lama," ucap Reno yang sudah berdiri di samping Rara, wanita itu mengangguk. Mas Seno masuk di ikuti Fajar di belakangnya.
__ADS_1
"Nanti titip ayah, gue mau ketemu oma," kata Reno pada Mas Seno, dan dia mengangguk.
Waktu terasa begitu cepat, tidak terasa sudah siang hari dan Fajar sudah berpamitan pergi bekerja. Mas Seno datang membawa wanita paruh baya, dan saat mengenalkan mereka berkata dia akan membantu mas Seno menjaga ayah Rara.
Dan Reno berpamitan mengajak Rara bertemu Oma nya, akan tetapi sebelum kesana, Reno ke apartemen dahulu. Rara menatap mobil yang di kemudikan Reno.
"Mobilnya ganti?" Reno menoleh, "bukannya kamu takut kecepatan?" Rara mengangguk mengerti, ternyata Reno mengingat nya. Seperti biasa, Reno akan memarkirkan mobilnya di lantai di mana terdapat kamar di apartemen itu.
Saat melewati pos satpam lantai itu, Reno diam tanpa membalas sapaan yang security itu lontarkan, tangannya sibuk mengandeng tangan Rara. Wajah dingin dan angkuh terpasang di sana, terkadang Rara penasaran. Bagaimana aslinya pria ini?
Reno mengajak Rara masuk kedalam kamarnya, lalu menyerahkan paperbag yang langsung di terima Rara.
"Mandi dan gantilah," kata Reno dengan lembut, Rara tersenyum lalu melangkah menuju kamar mandi. Dibukanya paperbag itu, ada gaun dengan hiasan sederhana namun terlihat mewah, ada pakaian dalamnya juga.
Wajah Rara tiba-tiba memerah, bisa-bisa nya Reno menyiapkan semua dan detail seperti ini, apalagi ukuran penutup bagian atasnya. Rara segera mandi dan berganti pakaian, senyumnya mengembang kala memakai pakaian itu.
Gaun itu panjangnya di bawah lutut, dan tidak memperlihatkan belahan dadanya. Tidak seperti gaun pertama yang dia kenakan. Rara terbiasa keramas jika sore hari, jadi dia membiarkan rambutnya yang basah terurai.
"Sudah?" tanya Reno begitu melihat Rara keluar dari kamar mandi, Rara mengangguk dan mencari sesuatu.
"Cari apa?" Reno menarik tangan Rara dan membuat Rara duduk di pangkuannya.
"Punya pengering rambut?" Reno mengangguk, lalu menunjuk laci yang terdapat kaca di sana. Rara hendak berdiri namun segera terjatuh ke dalam pelukan Reno karena Reno menariknya.
Bibir mereka tidak sengaja bertemu, pandangan mereka pun terpaku. Rara tersentak kala lidah Reno menjelajahi kerongkongannya, lalu membelit lidahnya. Saat Rara hendak menarik kepalanya bukannya menjauh malah semakin tertekan karena Reno menahan tengkuk Rara dan tangan kanannya menahan pinggulnya.
Akhirnya Rara pasrah, menikmati penyatuan bibir yang baru pertama kali dia lakukan, Reno tersenyum kala penyatuan bibir itu terlepas sambil mengusap bibir Rara yang basah dengan ibu jarinya.
"Keringkan rambutmu, aku mandi dulu," bisik Reno, Rara yang tersadar segera bangkit dari tubuh Reno dan berjalan kearah meja rias milik Reno. Di sana terdapat berbagai macam merk parfum mahal dan gel rambut.
Rara membuka setiap laci mencari pengering rambut milik Reno, setelah ketemu dia mencolokkan di stopkontak. Tangan kirinya mengambil sisir lalu menyisiri rambutnya yang panjang. Saat menatap wajahnya di pantulan kaca, wajah Rara merona.
Tangan kanannya menyentuh bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Reno, "apa yang harus aku katakan saat orang bertanya kenapa dengan bibirku," gumam Rara
Hayo, Reno mulai nakal nih.
__ADS_1