Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 84


__ADS_3

"Kenapa lama sekali?" protes Ara begitu Reno baru masuk kedalam apartemen nya dan tangan pria itu sibuk mengendurkan dasinya, Reno yang tak mengerti mengerutkan kening.


"Kamu kenapa?" Reno menempelkan punggung tangannya di kening Ara, namun segera di tepis olehnya.


"Katamu hanya sebentar tapi kenapa lamaaaa?!" Ara memekik kesal dan berlalu dari hadapan Reno, dengan segera Reno berpikir lalu menepuk kening kala ingat apa yang membuat wanita ini marah padanya.


"Maaf, ayo sekarang kita makan," walau dengan wajah cemberut, Ara tetap menurut saat Reno menarik tangannya ke ruang makan dan membuat wanita itu duduk tenang di situ.


Reno mengambil sayur di atas meja yang terlihat sudah dingin, lalu memanasi sebentar sayur dan lauk yang sudah Ara masak tadi sore, mengambil satu piring dan satu sendok lalu dia letakkan di atas meja dan mengisinya dengan nasi dan sayur serta lauknya, Ara hanya melihat dan tersenyum dengan apa yang pria itu lakukan.


'Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, kamu selalu bersikap manis padaku. Walau menyebalkan, namun aku tidak bisa tidak tersenyum jika kamu berusaha membujukku,' Ara bergumam dalam hati, netranya masih menatap lekat wajah Reno.


"Buka mulutnya," titah Reno yang kini sudah duduk di samping Ara dengan sendok berisi nasi dan sayur beserta lauk nya.


Ara membuka mulut patuh, kemudian mengunyah makanan yang sudah masuk itu. Reno ganti menyuapkan makanan nya kedalam mulutnya setelah melihat Ara mengunyah dengan baik makanan itu. Begitu terus sampai makanan itu tandas dan berpindah kedalam perut mereka. Reno memilih makan sepiring berdua, dengan begitu dia yakin jika wanita nya makan dengan benar.

__ADS_1


"Tambah?" tawar Reno setelah meminum air putih yang sudah Ara minum. Reno menawari karena seperti melihat Ara masih lapar, padahal dirinya juga masih lapar. Ara mengangguk, Reno berdiri mengambil kembali nasi dan yang lainnya.


"Kenyangnya," Ara mengusap perutnya yang kekenyangan, "makan yang banyak ya, biar gendut," Reno ikut mengusap perut Ara.


"Aduh," Reno mengaduh karena punggung tangannya di pukul oleh Ara, "kamu mau aku gemuk?!" tanya Ara dengan netra yang melebar dan tatapan tak percaya, dengan tanpa berdosa, Reno mengangguk.


Lagi Reno mengaduh karena Ara kali ini mencubit perutnya, "sakit, Sayang," Reno mengusap usap perutnya.


"Kamu mau aku gendut?" Ara mengulang pertanyaan yang di mana jawabannya membuat dirinya kesal, "iya aku mau kamu gendut, biar ngga ada yang suka dan mau sama kamu selain aku, ngerti?" kini Reno menjelaskan alasannya, Ara menunduk dan kedua pipinya memanas, mungkin sudah memerah karena malu.


"Yuk pulang, aku antar," Reno berdiri lalu meletakkan piring dan gelas kosong kedalam wastafel yang biasanya dia cuci pagi hari setelah sarapan.


"Dengar," kini Reno bersimpuh di depan Ara yang masih duduk, menggenggam jemari tangannya dan menarik lalu mengecupnya.


"Kamu harus pulang dan istirahat, terus besok aku ngga ada acara dan aku bisa menyuruh Seno menangani kantor. Besok kita bisa jalan jalan atau seharian di sini, terserah kamu. Tapi sekarang kamu pulang ya, jangan buat ayahmu curiga. Aku anter kamu ke resto buat jemput mbak Siti," Reno menarik kepala Ara dan mengecupnya lama.

__ADS_1


"Ya," akhirnya Ara menurut, Reno naik ketas menuju kamarnya, mengambilkan tas kekasihnya yang menunggu di sofa.


"Hish, aku lagi ngga mau pulang, sedang dia memaksaku." gerutu Ara.


"Yuk," Reno mengulurkan tangan hendak membantu Ara berdiri. Dan akhirnya keduanya berjalan bersisihan menuju parkiran, Reno mengendarai mobilnya sedikit cepat. Dan kini Ara sudah tidak begitu takut jika Reno mengendarai seperti ini, hanya saja jika di atas kecepatan ini dia masih ketakutan.


Mobil Reno datang bertepatan dengan di tutupnya resto milik Ara, "eh, Kak," Reno menoleh karena merasa di panggil.


"Aku udah dua hari ngga ke resto satunya, besok kesana sebentar ya?" Reno mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya, pikirannya sedang bercabang, hari ini Reno mendapat laporan dari mbak Siti tentang kejadian tadi pagi. Dan tadi dia menemui kedua sahabat dari ayah sambung Ara, menanyakan kebenaran itu.


"Ya, Gito sudah menjanjikan akan menikahkan Rara dengan Dion," ujar sahabat Pak Gito yang tadi Reno temui, dan saat di tanya berapa nominal uang itu, Reno cukup tercengang.


"Saya akan mengembalikan uang itu, tapi jauhkan anak anda dari Ara," kata Reno dengan nada datar, "cih, saya tidak mau uang itu. Anak saya tetap akan menikah dengan Rara, dia sudah cinta mati pada wanita itu. Kebahagiaan Dion adalah Rara, dan saya akan membuatnya bahagia dengan menikahkan Dion dengan Rara," jawab Pak Amar santai, namun mampu membuat hati Reno dongkol.


Begitu juga Om Ridwan yang sudah Reno temui, dirinya menolak jika Reno hendak mengembalikan uang itu, alasannya pun sama. Ingin membuat Fandi, anaknya bahagia dengan menikahkan Rara dan Fandi.

__ADS_1


"Maaf menunggu lama," kata mbak Siti yang baru datang, Reno hanya mengangguk, sedang Ara mengangguk dan tersenyum.


"Ngga apa apa mbak, malah saya yang ngga enak udah merepotkan mbak Siti," ujar Ara.


__ADS_2