Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 98


__ADS_3

Ara berjalan menuruni anak tangga dengan susah payah, kakinya sesekali berhenti kala kedua pahanya bergesekan dan menimbulkan rasa sakit di tubuh intinya.


"Berapa kali kami melakukan itu, sampai sampai tubuhku rasanya lelah sekali, dan milikku rasanya panas juga sakit," keluh Ara pelan, di bawah sana, Reno mengulas senyum saat melihat Ara sudah selesai memakai pakaian.


Hanya kaos agak longgar dan rok di bawah lutut dengan warna yang Ara sukai, perlahan Reno berjalan mendekat. Mengulurkan tangan bermaksud membantu kekasihnya agar bisa segera turun dan sarapan.


"Masih sakit?" tanya Reno sambil meringis membayangkan pertama kali dia memasuki Ara dan melihat wajahnya kesakitan namun lama lama menikmati.


"Kamu pikir!" Ara menjawab dengan ketus, sebal dan malu rasanya menjadi satu saat mengingat malam panas mereka. Walau di antara sadar dan tidak sadar mereka, lebih tepatnya dirinya tidak sadar karena pengaruh obat.


"Maaf," terlihat wajah penyesalan di raut wajah tampan milik Reno, Ara hanya mengangguk. Keduanya berjalan menuju meja makan, dan Ara perlahan menghempaskan bobotnya di kursi tersebut. Biasanya jika marah dia akan dengan cepat duduk dan berdiri sesuka hati, tapi kali ini harus perlahan sambil menahan sakit. Entah berapa hari baru bisa sembuh, pikir Ara.


Reno mengambilkan nasi goreng dan telur mata sapi di piring yang berada di depan Ara, kemudian menuang air putih di gelas di samping piring tersebut.


Di depan mereka ada jus jeruk dan buah buahan, kebiasaan Reno jika sarapan terkadang meminum jus atau memakan salah satu buah tersebut.


"Seminggu lagi oma pulang, aku akan minta dia buat bujuk mama agar cepat melamar kamu," Reno berucap di sela menyuapkan sarapan paginya, Ara mendongak karena kaget.


"Secepat itu?" tanyanya tak percaya, Reno mengangguk mantap.


"Mau nunggu kamu hamil besar baru aku lamar?" tanya Reno gemas, Ara kembali menunduk dan memutar mutar sendoknya di atas piring yang nasinya sudah tinggal setengah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku ngga hamil?" Ara bertanya tanpa menatap Reno, pria itu mendesah kesal.


"Apa aku harus membuatmu hamil dulu baru kamu mau nikah, kalau iya ayo," kesal rasanya Reno, bukankah mereka sudah sepakat akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, tapi kini setelah dia merengut mahkotanya, perempuan itu malah mengulur waktu.


"Nggak mau!!" Ara menjerit histeris, membayangkan melakukan hubungan suami istri kembali dalam keadaan seperti ini bukan keinginan darinya, semua ini salah Dion yang sudah mencekoki ia dengan obat itu.


Walau Ara berpikir kelak jika dia sudah menikah dengan Reno pasti juga akan melakukan hubungan suami istri tersebut, akan tetapi setelah merasakan betapa sakitnya malam pertama membuat Ara menunda rencana pernikahan itu.


"Lalu?" Reno tersenyum miring menatap Ara yang tengah kebingungan memikirkan jawaban atas pertanyaan darinya.


"Kan aku baru merintis usaha, jadi sesuai kesepakatan kita. Kita akan menikah jika aku sudah berhasil," lirih Ara, Reno mendengus kesal mendengar jawaban Ara.


"Istirahatlah, aku ke kantor dulu," pamit Reno yang segera beranjak dari duduknya dan mengecup kening Ara lalu berlari menaiki tangga.


Beberapa menit setelah Reno berganti memakai kemeja berwarna putih dan memakai jas berwarna biru tua dan celana jeans berwarna hitam serta sepatu pantofel berwarna hitam yang mengkilat.


Saat membuka handel pintu, Reno terlonjak kaget karena Ara juga sedang memegang handel pintu tersebut.


"Astaga, Sayang. Bikin kaget kamu itu," kata Reno yang langsung menarik Ara kedalam dekapannya, "aku setuju menikah dengan kamu segera," ucap Ara yang masih berada di dekapan Reno.


Reno merenggangkan pelukan itu dan menatap serius wajah Ara, mencari kebohongan di mata sang kekasih.

__ADS_1


"Serius?" tanya Reno akhirnya, "iyaa!" kesal Ara menjawab dan semakin mengeratkan pelukan mereka, Reno tersenyum bahagia lalu mengecup pucuk kepala Ara berulang ulang pertanda dia senang.


Tadi saat Reno berpamitan akan pergi ke kantor, Ara melihat raut wajah kecewa pada pria nya tersebut. Ara dalam dilema, sebenarnya menikah sekarang atau besok besok sama saja bukan, lagi pula kelak dia hanya akan menikah dengan Reno.


Dan dengan menikah dengan Reno, dia bisa lepas dari ayah sambungnya tersebut. Ah, berpikir demikian Ara jadi kepikiran orang orang yang hampir melecehkan adiknya. Biarlah itu nanti dia bahas dengan Reno setelah sepulang pria dari kantor.


Dan ada rasa bersalah pada mbak Siti jika mengingat kejadian semalam, jika dia tak segera menikah. Pasti Dion akan semakin nekat dan Mbak Siti yang akan kena imbasnya, akhirnya Ara memutuskan akan menerima lamaran dari Reno, tentu setelah Reno bertemu dengan oma nya dan berbicara dengan orang tua nya.


"Terima kasih, Sayang," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Reno mewakili perasaannya, di dalam dekapan Reno, Ara mengangguk dan membalas, "sama sama."


Adegan haru biru selesai, Reno berpamitan akan ke kantor dan menyarankan agar wanita itu tidak ke resto dahulu, biar di tangani para orang kepercayaannya, Ara menurut.


***


Di dalam ruangan kantor Reno, Mas Seno yang tengah duduk di sofa hanya menatap sahabatnya yang terlihat sedang melamun itu.


"Ara bagaimana?" Reno mendesah dan mengusap kasar wajahnya, kemudian Reno menceritakan semua kejadian semalam dan akhirnya dia bertekad akan melamar perempuan itu tapi menunggu sang oma dulu agar bisa mendesak sang mama untuk menyetujui keinginan nya tersebut.


"Coba loe hubungi bokap kandung Ara dahulu, setahu gue, karena ayah kandung Ara masih hidup jadi yang bisa menjadi walinya hanya ayah kandungnya. Ayah sambungnya berhak jika sang Ayah kandung sudah tiada.


Dan sekalian loe mengajukan lamaran langsung ke bokap Ara," usul Mas Seno yang di angguki dan di benarkan Reno. Akhirnya Reno mengambil ponsel Ara yang dia bawa dan melakukan video call.

__ADS_1


"Assalamualaikum," suara dan wajah wanita paruh baya terdengar dan terlihat dari ponsel itu, Reno mengulas senyum.


"Waalaikum salam, Nek. Gimana kabarnya, sehat dan baik semua 'kan sekeluarga?" tanya Reno panjang lebar.


__ADS_2