Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 18


__ADS_3

"Kau menyukai gadis tadi?" Tuan Fernandes menghempaskan bobotnya di sofa samping Raditya duduk, "sepertinya iya, Pa," bukan Raditya yang menjawab tapi Nyonya Fernandes, mama dari Raditya, kini mereka tinggal bertiga di kantor tempat Nyonya Fernandes biasa bekerja sepeninggal Reno dan Rea tadi setelah membahas kerjasama yang akan mereka lakukan.


"Mama sama papa sok tahu," cibir Raditya acuh, walau dalam hati memang ia sedikit tertarik pada kecuekan dan keangkuhan gadis yang berstatus adik kelasnya.


"Mama papa saja suka lho sama Rea, ya kan, Pa?" Nyonya Fernandes menoleh kearah suaminya dan mengedipkan sebelah matanya, "Rea," cicit Raditya memanggil namanya gadis itu, membuat seutas senyum di bibirnya.


"Dia adik kelas kamu 'kan?" Raditya mengangguk mendengar pertanyaan papanya, "dia tidak mempunyai banyak teman di kelas, juga di sekolah karena sepertinya dia menjaga jarak. Tapi ada anak laki-laki yang selalu mengejarnya, Daffa namanya," ya Raditya sering melihat Daffa mendatangi kelas gadis yang dia kenal dengan nama Andrea.


"Saudara nya mungkin," Nyonya Fernandes berpendapat, "Rea anak tunggal kok, Ma," Tuan Fernandes berujar, Raditya menoleh dan menatap sang ayah, "pantas dia manja banget sama papanya," menurut Raditya wajar jika seorang anak tunggal apa lagi seorang anak dari kalangan keluarga berada akan sangat sombong dan manja, tapi dia sangat di buat heran dengan tingkah gadis itu.


Andera atau Rea yang ia kenal malah terkenal cuek, dan hanya manja pada orang terdekatnya, berbeda dengan teman teman perempuannya. Mereka kaya dan manja, juga suka menindas yang terlihat lemah.


"Ya sudah yuk pulang, mama sudah capek," ucap Nyonya Fernandes yang kemudian bangkit dan berdiri lalu menyambar tas mahalnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya, kemudian mereka bertiga melangkah keluar dan pulang setelah berpamitan pada karyawan di restaurant milik Nyonya Fernandes.


***


"Kamu kenapa ketus gitu sama anak cowok tadi?" kini anak dan ayah itu berada di dalam kamar sang anak, Rea yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah mendongak lalu menggeleng.


"Dia jahat sama kamu?" lagi Rea menggeleng membuat Reno benar benar penasaran, "dia jahil dan usil, Pa," hanya itu yang keluar dari bibir Rea yang semakin membuat Reno heran.


"Ya sudah, selesai mengerjakan tugas segera tidur," Reno berpesan lalu menunduk dan mengecup kening putrinya, Rea hanya mengangguk menanggapi ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau mirip dengan papa, yang jika fokus pada satu pekerjaan dia tidak akan memperhatikan yang lain," gumam Reno sambil menatap Rea.


***


Sudah hampir sebulan Rea menjadi pelajar di sekolah ini, dan hari harinya ia lalui dengan kegiatan yang itu-itu saja.


"Rea, kamu mau ikut lomba cerdas cermat nggak?" Ibu Wali kelasnya bertanya, "kapan, Bu?" Rea bertanya dengan antusias, "sepekan lagi," jawab Ibu Sri, Wali kelasnya. Dan saat ini Rea berada di kantor, dan saat ini waktu istirahat baru saja mulai dan penjaga sekolah memanggil dirinya untuk ke kantor karena di panggil Wali kelasnya.


Awalnya Rea bingung karena merasa tidak memiliki masalah dan tidak menyalahkan atur an sebagai murid, tapi kenapa dia di panggil. Dan alasan Ibu Sri memanggil serta meminta Rea untuk ikut lomba cerdas cermat itu karena ia melihat prestasi dan kemampuan gadis itu. Ibu Sri bisa menilai jika sekolahnya akan menang jika gadis yang tidak banyak bicara ini di ikut sertakan.


"Boleh, Bu. Tapi nanti saya coba izin papa dulu, takut nggak di bolehin," katanya yang di akhiri dengan senyum, Ibu Sri mengangguk setuju.


"Ya sudah, kamu kembali ke kelas sana," kata Ibu Sri yang kemudian mengusap lembut kepala Rea, lagi gadis itu tersenyum, baru kalu ini memang Bu Sri sebagai Wali kelasnya melihat secara langsung Rea tersenyum, biasanya hanya diam dan diam yang gadis itu lakukan.


Rea sengaja lewat di depan mereka, walau bermaksud menolong tapi dirinya juga tidak mau terlihat sok menangan, tanpa dirinya tahu ada seseorang yang mengawasi dirinya. Dan benar saja, saat Rea lewat, kakak kelasnya itu sedang mendorong tubuh gadis yang mereka buli hingga menabrak dirinya.


"Kamu ngga apa apa?" Rea menolong gadis itu bangun, gadis itu mengangguk. Dan Rea meneliti penampilan gadis itu yang yang terlihat acak-acakan.


Rea kembali terjelembab karena tubuhnya di dorong, "anak baru ngga usah ikut campur," kata kakak kelas Rea sambil menunjuk wajah Rea, hanya meringis sesaat karena merasakan tubuhnya terhantam lantai yang dingin, kemudian Rea mendongak dan menatap dingin pada kakak kelasnya.


"Aaaaa,"

__ADS_1


"Riskaa!!!" teman-teman gadis itu berteriak histeris kala melihat tubuh temannya jatuh karena di dorong oleh Rea, ya, Rea langsung bangkit dan mendorong tubuh kakak kelasnya yang bernama Riska, kakak kelasnya yang tadi sudah mendorong dirinya dan gadis kelas lain ini.


"Berani-beraninya loe!" Riska berteriak kesal, teman Riska maju dan hendak menampar Rea karena sudah berani mendorong tubuh teman mereka, sedang Raditya yang memperhatikan mereka sudah mulai khawatir jika terjadi pertempuran yang tak seimbang.


Tapi di luar kendali, teman Riska itu juga menjerit sambil memegang tulang keringnya karena Rea menendangnya, teman Riska yang satu segera maju dan mengulurkan tangan hendak menjambak rambut panjang Rea, namun teman Riska yang kedua tadi ikut jatuh menimpa teman Riska yang ketiga, karena ingin melindungi diri, Rea mendorong teman Riska yang tadi ia tendang tulang keringnya, Raditya tersenyum melihat Rea yang kemudian berdiri angkuh, khas gadis itu.


"Jika kalian tidak terima, cari aku di kelas 7A, namaku Andrea. Ingat ANDREA," ucap Rea menekan namanya diakhir kalimat yang kemudian menarik tangan gadis yang tadi di buli kakak kelas mereka. Raditya memilih mengikuti kemana Rea melangkah.


"Masih ada seragam lagi?" gadis itu menggeleng mendengar pertanyaan Rea, "sebentar, jangan pergi," gadis itu hanya mengangguk. Raditya kebingungan mencari Rea, dan akhirnya ia tersenyum saat melihat gadis jutek itu keluar dari ruang TU, di tangannya membawa plastik putih yang Raditya yakin itu seragam. Kaki Raditya kembali terayun mengikuti Rea yang ternyata masuk kedalam toilet cewek, Raditya sengaja menunggu Rea keluar bersama gadis yang ia tolong.


Hingga bel tanda masuk berbunyi, Rea akhirnya keluar bersama gadis yang tadi Riska buli. Saat Raditya hendak melangkah, ia melihat Riska yang berjalan menuju toilet tersebut, tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rea, Raditya segera berlari dan menarik tangan Rea, "ikut denganku," katanya yang membuat Rea bingung tapi tetap mengikuti kemana Raditya melangkah, pun gadis yang sudah berganti pakaian.


"Kembalilah ke kelas," Raditya mengacak rambut Rea yang langsung di tepis dan mendapat delikan tajam dari Rea, lalu mendorong tubuh mungil itu agar segera masuk ke kelasnya.


"Tunggu," Rea menahan tubuhnya, "lalu dia?" Rea menunjuk gadis yang ia tolong, " biar ia masuk sendiri, " jawab Raditya cuek.


"Hish," Rea berputar lalu menarik tangan gadis yang ia tolong dan mengantarnya ke depan kelas, Rea hanya tidak ingin kakak kelasnya yang tadi kembali membuli gadis ini.


"Sudah, sekarang loe masuk kelas sana," Raditya yang mengikuti Rea, bersuara dan segera menarik tangan Rea.


"Terima kasih kau menolongku, aku akan menjadi sahabat mu, dan akan selalu ada untuk dirimu," gumam gadis itu yang kemudian masuk kedalam kelasnya.

__ADS_1


"Kak Riska, aku akan mengadukanmu pada mama karena kau menyakiti aku lagi," tangan gadis itu mengepal kemudian menghenyakkan bobotnya di kursi.


__ADS_2