
"Bagaimana bisa, ini sudah berpuluh puluh tahun putra ku hilang dan kalian belum bisa menemukan dia, dasar ngga berguna. Bodoh?!" Reno memaki dan mengumpat para bawahannya, semenjak Pak Gito mengatakan jika anak lelakinya masih ada di kota ini, Reno langsung bertindak untuk mencarinya.
Namun, tidak juga ketemu. Hanya Pak Gito kunci saksi di mana keberadaan putranya yang sudah berpuluhan tahun hilang, dan kini kunci itu telah meninggalkan tanda tanya yang Reno tidak bisa jawab, Pak Gito menyebut nama Dita, mantan suami Dita.
Dan saat Reno teeus mendesak siapa orang itu, Pak Gito kritis dan akhirnya meninggal dunia. Hingga saat ini Reno mencari sosok wanita yang bernama Dita, entah bagaimana wajah dan wujudnya, Reno sungguh sungguh tidak tahu.
Mengingat itu, Reno menggeram marah dan frustasi, menjambak rambutnya yang sudah di tumbuhi rambut berwarna putih.
"Om Reno kenapa?" Reno menoleh dan mendapati sosok anak kecil tengah berjalan sambil menggandeng tangan ayahnya, Reno tersenyum hangat padanya anak kecil itu.
__ADS_1
"Om Reno ngga kenapa napa, Rendy," katanya sembari mengusap lembut pucuk kepala pria kecil itu.
"Sudah ketemu?" Reno menggeleng, "gue frustasi, Sen. Kenapa orang tua itu harus mati sebelum putra gue ketemu," Reno menghempaskan bobotnya keatas sofa dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, Mas Seno yang baru datang bersama putranya ikut duduk di sana.
Rendy Setyoaji, nama panjang dari anak Mas Seno dan Mbak Siti, yang usianya tak jauh berbeda dengan Ari, anak Ria dan Anton. Rendy juga sangat dekat dengan Reno, bahkan menganggap lelaki yang berstatus atasan juga sahabat ayahnya adalah ayah kedua baginya.
"Kakak cantik kenapa ngga ikut ke sini, Om?" Rendy yang tadinya berada dipangkuan ayahnya kini turun dan beralih kesamping Reno, 'KAKAK CANTIK' adalah panggilan Rendy untuk Rea.
"Rendy ngga suka kalau 'kakak cantik' pergi terus sama kak 'bule' itu," Reno dan Mas Seno saling menatap dan bingung dengan maksud ucapan Rendy, "kenapa Rendy ngga suka?" tanya mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kakak bule itu selalu dekat dekat sama kakak cantik, kakak bule ngga ngebolehin Rendy dekat dengan kakak cantik," ujarnya terdengar kesal dan tidak suka dengan kedekatan Rea dengan Raditya.
"Sen, jangan bilang putra loe...." Reno menoleh dan menunjuk Rendy, Mas Seno yang paham maksud Reno menggeleng.
"Mereka hanya kakak adik, Ren. Lagi pula Rea tua beberapa puluh tahun dari Rendy, kecuali di balik. Kaya loe ama mamanya Rea," Mas Seno langsung memukul kepalanya karena keceplosan mengatakan tentang Ara, Mas Seno tahu, sahabatnya ini pasti belum bisa move on.
Bukti nya sudah berpuluh-puluh tahun hidup tak ada satu pun wanita yang melekat di hatinya kecuali, ibu dari Rea. Gadis kecil yang kini tumbuh dewasa dan memiliki watak campur an dari Reno dan Ara.
Reno tertawa, "kadang gue masih ngga percaya jika ayah Andri dan nenek telah menyusul Ara, dan kini putri gue udah dewasa, sebentar lagi pasti dia menikah lalu dia tinggal bersama suaminya dan ninggalin gue," ucap Reno terdengar sendu, punggung tangannya refleks menghapus airmata yang turun dari mata amber itu, Mas Seno terkekeh melihat sahabatnya yang bisa menangis.
__ADS_1
Ya, Mas Seno tahu, hanya ibu dan anak itu yang bisa membuat seorang Reno Mahesa cengeng dan lebay seperti ini.