Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 22


__ADS_3

"Siapa namamu?" Reno bertanya pada anak lelaki yang kini duduk satu meja dengan dirinya dan Rea, anak lelaki itu tersenyum ramah dan semakin mengingat kan Reno pada istrinya yang telah tiada.


"Rendra, Om," jawab Rendra masih dengan senyum yang membuat tatapan Reno tak bisa berpaling, "Mahendra adalah nama saya, tapi mereka lebih suka memanggil saya Rendra, kata kakek itu nama istimewa," Rendra menambahkan, lagi dan lagi Reno tercengang.


'Apa mungkin dia? Tapi senyum dan mata itu milik Ara,' Reno bergumam dalam hati, matanya belum lepas dari wajah Rendra, memang tidak ada wajah Ara atau dirinya yang menurun pada diri Rendra.


Tapi senyum dan mata itu... Reno mengusap wajah kasar, "papa kenapa?" Rea yang heran melihat tingkah lain dari papanya akhirnya bertanya, Reno hanya menggeleng.


Rendra pun diam diam menatap lekat wajah Reno, hatinya merasa nyaman dan dekat dengan lelaki yang bergelar ayah dari teman satu sekolahnya.


"Berapa umurmu?" Reno bertanya pada Rendra, entah kenapa perasaannya mengatakan jika anak laki-laki yang duduk bersama dirinya yang kini juga tengah menikmati makanan kesukaan dan favoritnya menambah keyakinan itu.


"12 tahun, Om. Emm, tepatnya bulan besok," Rendra menjawab sembari tersenyum, 'bulan besok? Bukankah bulan besok Rea juga berulang tahun, jangan jangan....' Reno mulai menduga duga.

__ADS_1


"Wah sama dong, kalau aku tanggalnya 20," timpal Rea, "kalau aku tanggal 19," Rendra langsung menjawab. Hati Reno kecewa mendengar tanggal lahir Rendra, tapi Reno sangat yakin jika anak laki-laki ini adalah putranya yang sudah lama hilang.


"Bagaimana kalau kita rayakan bersama-sama di tanggal 20 saja," Rea menatap Rendra penuh dengan harap, anak laki-laki itu terlihat berpikir lalu mengangguk setuju.


"Nanti aku bilang mama," usul Rendra yang juga di angguki Rea, sungguh melihat sepasang anak ini membuat hatinya bahagia. Seperti sedang berkumpul dengan keluarga kandung, itu yang mereka bertiga rasakan.


"Papa ke toilet dulu," Reno mengacak pucuk kepala putrinya lalu tangannya beralih ke kepala Rendra, "titip Rea sebentar," katanya sembari mengusap kepala Rendra yang langsung di jawab dengan senyum oleh anak laki-laki itu.


"Papa kamu ternyata baik ya, Ra," setelah Reno pergi ke toilet, Rendra mengutarakan apa yang menganjal di hatinya.


"Di sini rupanya kamu," Rendra dan Rea menoleh mendengar suara yang Rendra kenal, "kak," Rendra menyapa Sera yang baru datang. Sera melirik tidak suka pada Rea, kemudian duduk di sebelah Rendra tanpa izin dan permisi, Rea yang melihat itu, hanya mendengus dingin lalu melengos.


"Kakak dari kampus?" Rendra mengalihkan perhatian Sera karena ia melihat kakaknya menatap tak suka pada temannya, Sera hanya mengangguk masih sambil menatap sengit pada Rea. Sedang Rea sengaja memancing agar Sera lebih kesal padanya, "oya, aku baru tahu tadi kalau kamu juga ikut lomba cerdas cermat itu, karena Bu Sri tidak mengatakan siapa saja temanku."

__ADS_1


"Hahaha, aku juga ngga tahu," Rendra tertawa karena merasa lucu dengan ucapan Rea, "maaf papa lama," Reno mengecup kepala Rea dan langsung duduk, menatap Sera sebentar lalu bersikap acuh dan tak perduli.


"Ren, pulang yuk, sudah selesai 'kan lombanya?" Sera merasa tatapan ayah dari gadis yang ia benci sangat tajam dan sepertinya lelaki itu tidak menyukainya, jadi lebih baik ia mengajak Rendra pulang.


"Sudah mau pulang?" Rea bertanya dengan nada kecewa, Rendra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya Rendra lebih nyaman berkumpul bertiga seperti ini, dan ini baru pertama kali dia rasakan. Berbeda saat ia berkumpul dengan mama dan papa, adik serta kakaknya, rasanya walau satu meja atau satu ruangan tapi terasa hambar, seperti tidak ada nyawanya.


"Ini sudah sore, sudah waktunya pulang," Sera benar benar tidak memberi Rea ruang agar lebih dekat dengan Rendra, Sera sungguh sungguh tidak rela jika ada perempuan lain yang akan merebut Rendra.


"Sudah, Sayang, biar teman kamu pulang. Besok masih bisa ketemu lagi di sekolah bukan?" Reno membujuk putrinya, Rea akhirnya mengangguk dan membiarkan Rendra pulang. Sera tersenyum penuh kemenangan saat gadis di depannya menyerah dan Sera berjalan dengan angkuh meninggalkan Rea yang menyeringai.


"Pulang yuk, mau kerumah bunda dulu atau ke rumah Tante dulu?" tawar Reno, memang beberapa hari kemarin, Rea tidak berkunjung kerumah Nyonya Wijaya karena harus belajar untuk lomba cerdas cermat.


Dan ketiga wanita dewasa itu selalu menelepon dan meminta Rea segera kesana karena merasa rindu, mendengar ayahnya menawari mau mampir kemana, iris berwarna amber itu berbinar.

__ADS_1


"Ke rumah bunda dulu aja, Pa. Besok baru ke tempat Tante Siti, Rea sudah kangen pengen ngelus adik bayi," kata gadis itu penuh dengan semangat, Reno mengangguk lalu berjalan menuju meja kasir dan membayar makanan yang mereka pesan tadi, lalu berjalan ke parkiran dan meninggalkan sekolah di mana tadi lomba itu di adakan.


__ADS_2