
Sampai selesai makan pun operasi ayah Rara belum juga selesai, dan di bangku ini Rara duduk di apit antara Reno dan Kak Fandi. Di seberang sana ada Om Ridwan, Ria dan Mas Seno yang berdiri menanti hingga operasi itu selesai.
"Mas Seno," Seno mendongak menatap Rara yang tengah memanggil dirinya, "beneran tadi udah di izinkan?" tanya Rara karena Seno tidak juga kunjung menjawab.
"Dia sudah tahu apa yang harus di lakukan, kamu tenang saja," suara Reno menginterupsi, "kamu libur pun tidak masalah," sambung Reno lalu menoleh pada Rara yang sedang menatap dirinya.
"Tapi saya tidak enak," gumam Rara, Reno menarik kepala Rara dan mengecupnya sebentar. Membuat Rara sontak terkejut kedua bola matanya membulat sempurna.
"Fokus ke ayah kamu," Reno mengacak rambut Rara, membuat Rara salah tingkah, sedang Kak Fandi menatap kesal pada Reno.
"Bung, dia calon istri saya. Jangan main cium saja!" tegur Kak Fandi tidak terima, akan tetapi Reno tidak mengindahkan. Reno malah mengecup pipi Rara, membuatnya menjadi warna pink.
__ADS_1
Sontak Kak Fandi berdiri dan menarik kerah kemeja warna biru muda yang di pakai Reno, "berdiri, dan kita selesaikan ini!" tantang Kak Fandi. Mas Seno mendekat dan melerai sebelum pertikaian terjadi.
"Suruh atasanmu tahu batasan!" ucap Kak Fandi geram, netranya menyoroti tajam sosok Reno. Namun Reno tidak bergeming, seakan memang di sengaja, Reno melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Rara yang ramping.
"Nak, anda ini pengusaha kaya dan terkenal. Tetapi kenapa anda tidak tahu tata krama dan batasan, nak Rara adalah calon istri Fandi, anak saya," Om Ridwan juga angkat bicara, geram akan perbuatan yang Reno lakukan.
"Apa kau keberatan aku seperti ini?" Reno menatap netra Rara yang bening, sambil memegang dagu Rara yang lancip. Sungguh saat menatap mata berwarna amber itu dia seperti terhipnotis, refleks Rara menggeleng.
"Terima kasih," lagi Reno mengecup kening Rara, "Ra!" sentak Kak Fandi tidak terima. Rara yang terkejut refleks menoleh, nafas Kak Fandi memburu. Kak Fandi segera bersimpuh dan meraih jemari Rara.
Rara sungguh heran, kenapa Om Reno memperlakukan dirinya berbeda. Apa ini bagian dari drama yang harus mereka jalani? Rara bingung dengan situasi ini.
__ADS_1
"Kak kembali lah duduk," pinta Rara seraya menarik Kak Fandi agar duduk kembali, Rara ingin protes karena tangan Reno tidak mau menyingkir dari sana.
"Ra, gimana operasi ayahmu?" Fajar tiba-tiba datang dan ikut bersimpuh di depan Rara, padahal Kak Fandi sudah duduk kembali di sampingnya.
"Belum selesai," jawab Rara sambil tersenyum, "ah syukurlah aku belum terlambat di sini dan menemanimu," ucap Fajar terdengar lega.
"Rania masuk pagi?" Rara ingat hari ini jadwal Rania masuk siang, jika Fajar masuk pagi. Nah ini Fajar di sini berarti Rania masuk pagi, dan mereka bertukar shift. Fajar hanya mengangguk sambil sesekali melirik Reno.
"Ara akan libur tiga hari, dia akan menemani ayahnya." Reno mengatakan sesuatu yang membuat semua terkejut, terutama Rara.
"Ara? Siapa Ara? Aku seperti pernah dengar nama itu," Rara mencoba mengingat nama itu.
__ADS_1
"Jangan main putus keadaa, Bang!" kata Fajar tidak terima.
"Lebih baik itu kamu pecat partner Ara, dia sangat menyusahkan," timpal Reno kemudian, Rara tidak melepas pandangan dari Reno, pria tampan yang memiliki rahang tegas itu mengusap pipi Rara dengan punggung tangannya.