
Fandi pun menurut, pemuda itu pun menghempaskan bobotnya di sofa berwarna cokelat muda tersebut.
"Kapan ayah kamu di operasi?" om Ridwan bertanya sambil sedikit mendongak, sedang Rara menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
"Kata dokter dua hari lagi om," jawab Rara, om Ridwan manggut-manggut sambil mengusap kumisnya, "dana nya sudah ada?" Rara menelan ludah akan pertanyaan om Ridwan.
"Su-sudah om," jawab Rara agak gugup, lagi om Ridwan manggut-manggut.
"Kalau ada apa-apa hubungi om atau Fandi," ucap om Ridwan yang kemudian menunjuk Fandi dengan dagunya, Rara hanya mengangguk.
Om Ridwan tahu, Rara tidak akan mungkin mau merepotkan orang lain, anak itu mirip sekali dengan Lilis bundanya Rara, tetapi memiliki sifat keras kepala seperti pak Amar, sahabatnya.
Rara pun menyadari itu, dia selalu segan merepotkan orang, tetapi jika ada orang yang meminta tolong, sebisa mungkin akan dia tolong.
"Kamu sudah sarapan?" om Ridwan kembali mengajukan pertanyaan, Rara tersenyum sembari menggeleng dan memegang perutnya kemudian menunjukkan barisan gigi-gigi putihnya dan ada gingsul di sana.
__ADS_1
Om Ridwan terdengar berdecak, kemudian menoleh kearah Fandi, "Fan," yang di panggil mendongak, lalu melempar senyum pada sang ayah lalu berdiri dan melangkah ketempat sang ayah.
"Ada yang bisa Fandi bantu, Pa?" tanyanya pada sang papa, om Ridwan berdiri lalu menyentuh pundak anak lelakinya.
"Kamu ajak Rara sarapan di luar, kasihan belum sarapan," ucap om Ridwan sambil tersenyum, "kamu juga belum sarapan bukan?" om Ridwan kembali bersuara.
Fandi hanya mengangguk lalu memandang wajah Rara, tampak canggung terlihat dari gestur pemuda itu.
"Memang art om Ridwan belum masak?" tanya Rara polos, istri om Ridwan juga sudah meninggal karena sakit jantung, jadi di rumah besar itu om Ridwan memperkerjakan beberapa art. Dan menurut cerita Pak Amar, ayah Rara, Tante Risma, mama dari Fandi meninggal saat Fandi berusia sepuluh tahun.
Om Ridwan menggeleng, kemudian menjatuhkan bobotnya kembali di kursi berwarna hijau tersebut.
"Nanti bawakan om nasi Padang saja," ucap om Ridwan yang kemudian menoleh kearah Rara, gadis itu mengangguk.
Om Ridwan mengerutkan kening, "kenapa belum pergi juga beli sarapan? Om sudah lapar," ujar om Ridwan terdengar seperti rengekan dan mengusir.
__ADS_1
Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu beralih memandang pemuda tampan di depannya.
"Kak Fandi mau sarapan apa?" Fandi terlihat tersenyum, kemudian melangkah menuju pintu.
"Kita keluar dulu saja, siapa tahu pengen makan yang di lihat," ucap Fandi di iringi senyum manis.
"Ah, iya. Kak Fandi benar," Rara tersenyum kecil, "nanti di sini kita pengen makan ini, trus sampai di tempat lihat makanan lain jadi pengen," Rara kemudian menutup mulut nya dengan perasaan geli.
"Om Ridwan, ayah kami keluar dulu," pamit Rara, kedua pria paruh baya itu mengangguk sambil melempar senyum.
"Om Amar, saya bawa Rara dulu," pamit Fandi sambil tersenyum, sedang om Ridwan dan ayah Amar tergelak,sedang Rara tidak percaya jika Fandi bisa melawak.
Menurut pandangan Rara, Fandi itu orangnya pemalu, tidak banyak bicara entah jika sudah kenal. Karena selama sering bertemu, Fandi lebih banyak diam tanpa suara kecuali jika di tanya.
Rara dan Fandi berjalan beriringan menuju kantin Rumah Sakit yang hanya buka pagi jam enam sampai malam jam delapan.
__ADS_1
*Maaf beberapa hari ga up, si bujang mau PTS, jadi fokus ngajarin dulu. Terima kasih yang masih mau membaca karya receh saya