
"Kak Fandi dari kamar bundanya?" tanya Ara begitu Kak Fandi sudah duduk di kursi dekat Ara, lelaki itu mengangguk sambil menatap wajah Ara. Setiap hari rasa sayang itu semakin bertambah besar, semakin bertambah pula rasa cintanya.
"Kamu kapan pulang, biar Kak Fandi antar," lelaki itu menawari, Ara hanya tersenyum dan melirik kearah nenek dan tantenya.
"Tak perlu repot repot, Nak Fandi, Ara setelah keluar dari sini mau tinggal bersama kami kok," tante Rina menyahut, Kak Fandi memutar tubuh menatap penuh tanya akan ucapan yang tante Rina ucapkan.
"Kok tinggal bareng kalian, nggak sama om Amar?" tanya Kak Fandi masih bingung, "Om Amar?" Tante Rina mengulang ucapan Kak Fandi.
"Maksud Kak Fandi ayah, Tan," Ara menerangkan, "kok bisa Gito jadi Amar?" tanya tante Rina masih penasaran, Ara terkekeh lalu menjawab.
"Bukannya nama ayah, Amar Sugito?" Tante Rina mengerutkan kening, netranya berputar putar menatap langit langit pertanda sedang berpikir, "iyakah?" tanyanya masih tak yakin.
"Tau ah, Tan," ujar Ara dengan gemas, "halooo, selamat pagiii," suara seorang lelaki yang baru masuk menyapa, kemudian mengambil tangan nenek dan tantenya Ara lalu menciumnya takzim.
__ADS_1
"Halo, selamat pagi calon kakak ipar?" Ara mencebik dan memutar bola malas mendengar sapaan dan sebutan yang pria itu lontarkan.
"Apa sih?!" ucap Ria ketus plus malu, Ara terkekeh melihat wajah adiknya yang bersemu merah, "kita berangkat sekarang?" Anton bertanya, Ria terlihat ragu jika harus satu tempat bersama pria yang terkenal playboy itu.
"Mau kemana mereka?" Kak Fandi yang penasaran akhirnya bertanya, "kerja," jawab Ara sambil tersenyum, Kak Fandi mengangguk mengerti.
"Oya, Ra. Kak Fandi nggak bisa lama karena harus ke pabrik, nanti kalau mau pulang, bisa nggak nunggu Kak Fandi dulu?" Kak Fandi bertanya dengan pelan, sebenarnya ia berharap bisa mengantar kekasih hatinya pulang kerumah ayahnya, namun tidak apalah jika harus kerumah neneknya.
"Ya sudah, Kak Fandi pamit. Jaga kesehatan," ucap Kak Fandi yang diangguki oleh Ara, mendapat respon positif Kak Fandi merasa bahagia, refleks tangannya mengusap pipi Ara yang membuat Ara berjingkat kaget dan langsung memundurkan kepalanya.
Kak Fandi tak tersinggung, lelaki itu malah tersenyum kemudian menghampiri Tante dan neneknya Ara untuk berpamitan, kedua wanita kesayangan Ara itu mengangguk dan tersenyum.
"Kak Reno kemana ya, kok nggak kelihatan sejak Kak Fandi masuk?" Ara bergumam lirih, netranya menatap pintu berharap lelaki yang kini menempati Semua isi hatinya datang, dan benar saja.
__ADS_1
Reno datang menenteng tas plastik berwarna putih berisi buah buahan, "dari mana, Kak?" Ara bertanya namun terdengar seperti mengitimidasinya.
"Beli buah ini, sekalian cari sarapan tadi," Reno sibuk memindah buah yang ia beli ke atas piring kosong, lalu berjalan menuju nenek dan Tante Rina, menawari mereka buah buahan tersebut.
Ara lupa jika Reno terbiasa makan buah jika habis makan, mungkin sebab itu tadi ia keluar dan membeli buah.
"Tadi Kak Anton udah datang trus udah nganter Ria juga," Ara bersuara, Reno yang tengah fokus memotong apel mendongak dan mengangguk.
"Kami sudah bertemu tadi di depan, aku juga sudah mewanti wanti jika dia macam macam sama adikmu, kamu yang akan turun tangan sendiri," seloroh Reno membuat netra Ara membulat sempurna, "kok bisa gitu?!" suara Ara meninggi secara refleks, namun dengan segera menutup mulut kala melihat wajah kaget sang nenek dan tante Rina.
Reno tidak menjawab namun tangannya maju kedepan mulut Ara dan di sana ada buah apel yang sudah siap di santap, "apa kalian sering begini?" nenek bertanya, Ara dan Reno juga bertanya tanya begini bagaimana maksudnya.
"Ara sering ngebentak kamu, No," seakan tahu apa yang mereka pikirkan, akhirnya nenek menjelaskan. Keduanya mengangguk angguk mengerti maksud sang nenek, Reno meringis dan mengaduh kala nenek Ara menjewer gemas telinganya.
__ADS_1