
"Yah, Rara pulang dulu ya. Ini udah jam 12.15 mepet banget kalau harus nunggu bus atau angkutan," Rara berpamitan pada ayahnya.
Tadi setelah berbincang-bincang dengan Fandi dan adiknya, tidak terasa sudah menunjukkan waktu shalat Dhuhur, dan Fandi izin ke mushola Rumah Sakit ini, sedang Rara dan Riana masuk keruangan ayah mereka.
"Lalu yang nungguin ayah kamu siapa?" om Ridwan bertanya pada Rara, perempuan muda itu menoleh dan melempar senyum.
"Saya yang akan jagain ayah, kan ayah punya dua putri," Riana yang menjawab dengan malas, Rara sambil mendengar hanya menghela nafas. Riana ini jika tidak suka pada seseorang akan sangat dia perlihatkan berbeda dengan dirinya, Rara akan setelah mati menahan perasaan untuk mengatai atau memarahi orang yang tidak dia suka tersebut. Atau lebih tepatnya lebih baik diam.
"Owh," jawab om Ridwan singkat dan manggut-manggut tanda mengerti, "lalu kamu mau naik bus gitu, Ra?" om Ridwan kembali berat dan menatap wajah Rara, perempuan muda itu mengangguk.
"Mau di anter Dion?" tawar om Amat yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari om Ridwan.
__ADS_1
"Biar di antar Fandi aja ya, Ra. Udah mepet kan waktunya, kalau nunggu anak om Amat pasti lama." om Ridwan berujar saat melihat Fandi masuk keruangan tersebut.
Sedang Fandi yang baru datang melonggo, memandang ayahnya dan Rara bergantian, sedang Rara dan Ria saling berpandangan dan mengedikkan bahu.
Tidak mau ambil pusing dan takut telat, Rara meraih tangan sang ayah dan mengecup punggung tangan pak Gito. Kemudian beralih ke om Ridwan dan om Amat, lalu memeluk adiknya seraya berbisik, "kakak sudah bilang ayah supaya ngga ngrepoti kamu," Ria hanya mengangguk dan dengan hati tenang Rara meninggalkan ruangan sang ayah, di belakangnya ada Fandi yang mengekori.
"Aku antar ya, Ra?" tawar Fandi, Rara hanya mengangguk pasrah. Tidak mungkin juga harus menunggu angkutan atau bus lewat, jam segini banyak para sopir yang sedang mangkal di suatu tempat atau sedang makan siang.
Fandi menyerahkan helm yang tadi tergantung di jok belakang, mungkin tadi di pakai om Ridwan, pikir Rara.
Rara menerima helm tersebut dan segera memakainya, Rara mendesah karena model motor yang di pakai motor sport jadi Rara agak kesulitan naik.
__ADS_1
Fandi tersenyum kecil, lalu menyuruh Rara naik ke trotoar agar mudah, Rara menurut saja dan akhirnya berhasil. Rara bingung mau berpegangan apa, dia terkejut kala tangan Fandi menarik dan melingkarkan tangan mungilnya pada perut Fandi.
"Pegangan yang kuat, biar ngga jatuh," Fandi menepuk pelan punggung tangan Rara yang telah melingkar diperutnya.
Jantung Rara berdetak kencang, ini pertama kalinya dia dekat dengan pria selain dengan ayahnya, kemarin saja saat dengan om Reno, mereka tidak sedekat ini, pikir Rara.
"Siap?" Rara mengangguk ragu, Fandi menginjak porsneling dan melajukan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan sedang, dalam perjalanan menuju rumah Rara tidak ada percakapan yang terjadi.
Kini mereka sampai di rumah Rara.
Rara meminta Fandi menunggu di luar karena tidak enak dengan para tetangga, lagi pula di rumah ini mereka hanya berdua. Rara keluar membawakan minuman dingin dan camilan untuk Fandi karena pasti akan lama menunggu dirinya mandi dan dandan, Rara kemudian izin bersih-bersih badan.
__ADS_1
Salam sayang buat kalian semua, semoga sehat selalu