Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 10


__ADS_3

"Kakeekkkkk!!!" Rea yang baru keluar dari mobil berteriak kegirangan kala melihat kedatangan Ayah Andri yang selalu ia panggil kakek, Ayah Andri yang juga baru keluar dari mobil segera menekuk kakinya dan membuat tubuhnya sejajar dengan cucu perempuannya.


Happp, Rea melompat kepelukan Ayah Andri. Kecupan merata di seluruh wajah mungil itu Rea dapatkan dari sang kakek, "gimana, seru makan makannya?" Ayah Andri kini menggendong Rea dan mengajaknya masuk, "tadi ada orang jahat, Kek," Rea mengadu, kening ayah Andri mengkerut lalu menoleh menatap Ria dan Anton.


Keduanya lalu mengedikkan bahu tanda tidak tahu, Ayah Andri mengangguk lalu mendaratkan kecupan pada pipi Rea.


"Oya, cucu cantik kakek mau hadiah apa karena udah peringkat pertama?" Ayah Andri menawari sang cucu perempuannya, Rea tampak berpikir lalu tersenyum, "Rea mau ke makam mama besok," katanya yang langsung di angguki ketiga orang dewasa tersebut, biasanya mereka datang ke makam Ara seminggu sekali, akan tetapi sudah sebulan ini Rea belum datang berkunjung ke makam sang mama, rasanya rindu sekali.


"Nanti Rea ajak papa, ya," lagi Ayah Andri mengangguk menanggapi permintaan cucu kesayangannya.


***


"Kamu bikin ulah apa lagi tadi di resto, Sera?" Nadin bertanya pada Sera, kini mereka ada di dalam kamar Sera.


"Anak manja itu ngadu ke Mama?" Sera mencebik mendengar pertanyaan sang mama yang seakan menyudutkan dan selalu menyalahkan dirinya, di dalam hatinya, Sera selalu menanamkan jika bukan dirinya yang bersalah, akan tetapi orang orang yang mencoba mengambil apapun yang sudah dia punya.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Tadi papa waktu ke toilet, ada yang memberitahu kalau Diva kamu dorong, untung ada anak pemilik resto itu yang nolongin Diva, kalau enggak mungkin keningnya Diva berdarah," Nadin masih berusaha sabar menghadapi tingkah dan kelakuan putri sulungnya.


"Kenapa sih, mama harus melahirkan anak pembawa sial itu," lirih memang Sera mengucapkan kalimat itu, akan tetapi Nadin masih bisa mendengarnya.


"Astaga, Sera," Nadin mengusap wajah cantiknya, "Diva itu adik kamu, kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" Nadin mencoba menekan suaranya agar tidak berteriak dan amarahnya meledak ledak karena ucapan Sera.


"Sudahlah, Mama keluar saja, pasti anak manja itu nanti mencari," kata Sera yang terdengar seperti mengusir, Nadin mengangguk lalu mengecup kening Sera dan bangkit dari duduknya lalu melangkah meninggalkan kamar putri sulungnya.


***


"Kakak mau kuliah di sini saja, Ren. Kalau kakak ke luar negeri nanti kakak nggak bisa ketemu kamu," Sera memegang tangan Rendra, Nadin sudah memutuskan akan mengirim Sera untuk kuliah ke luar negeri agar bisa menghentikan perasaan yang anak gadisnya miliki untuk lelaki yang bergelar adik baginya, juga menjauhkan jangkauan Sera dari Diva yang semakin hari semakin membuat Nadin frustasi.


"Tapi, mama sudah mendaftarkan kakak di sana lho," Rendra yang kini duduk di hadapan Sera, juga mengenggam jemari wanita yang kini terlihat dewasa tersebut.


"Kakak nggak perduli, kakak cuma mau di sini sama kamu," ucap Sera memelas, rasa cinta yang tumbuh saat tahu Rendra bukan adik kandungnya dan mereka bisa saling memiliki membuat Sera hanya memiliki dan hanya Rendra.

__ADS_1


"Kamu ikut kakak sekolah di sana saja yuk," bagi Sera, di mana ada Rendra di situ juga harus ada dirinya.


"Mungkin kalau Rendra udah gedhe dan udah kuliah bisa ikut kakak, tapi masalahnya, Rendra masih kecil, dan masih butuh mama juga papa," tolak Rendra, entah kenapa semenjak pertemuan ke berapa kali dengan Rea gadis galak dan dingin membuatnya penasaran dan ingin berteman.


"Apa kamu nggak mau ikut kakak karena Diva?" cecar Sera terlihat murka, gadis ini berdiri dan menatap nyalang pada Rendra.


"Bukan begitu, Kak," Rendra segera menggeleng takut kakaknya berpikir yang tidak-tidak.


"Lalu apa, ayo bilang ke mama, kalau kamu mau ikut kakak," Sera terus memohon, Rendra menggaruk rambutnya bingung.


"Kak, di panggil mama," Diva yang berdiri di depan pintu kamar Sera tak berani masuk, kini ia tahu harus menjaga jarak dengan kakak perempuannya.


"Sebentar ya, Div," sahut Rendra lembut, Diva mengangguk lalu berlalu dari sana, "yuk kak, temui mama dulu," ajak Rendra pada Sera, kadang Rendra merasa lelah dengan sikap posesif kakak perempuannya yang kelewat batas, tidak boleh berdekatan dengan wanita mana pun, tidak boleh memiliki teman, harus hanya Sera yang selalu ada untuk dirinya, akan tetapi ia tidak tega mengungkapkan perasaannya.


Sera mengangguk lalu mengapit tangan Rendra menuju kamar sang mama, di sana sudah ada sang papa, Diva dan juga mama Nadin.

__ADS_1


Kemarin angka partnya keliru, harusnya 9 tapi kutulis 8 lagi, tapi tetap urut kok jalan ceritanya.


__ADS_2