
Reno menarik nafas lega, akhirnya keluarga kandung Ara menyetujui mereka untuk cepat menikah, tentu setelah Reno menceritakan semua kejadia kemarin hingga di saat ada yang memberikan Ara obat perangsang pada minuman nya dan terjadilah kejadian yang belum seharusnya terjadi.
Reno juga meminta waktu seminggu untuk melamar Ara karena omanya baru pulang seminggu kemudian di karenakan sang opa sedang mengurus bisnis yang benar benar tk bisa di tunda atau di tinggalkan, mereka pun mengiyakan asal Reno benar benar akan melamar Ara.
Reno juga berencana selama menunggu satu pekan kedepan akan berusaha untuk mencari dan mengurus waktu serta operasi wajah ayah kandung Ara, pria itu mengusap wajah gusar. Begitu banyak yang sudah dia rencanakan berantakan gara gara ulah si Dion itu.
"Sabar, Ren. Tenang," Mas Seno menghibur sahabatnya yang seperti sedang tertekan, Reno mengangguk dan menepuk pelan pundak sahabat baiknya.
"Thanks, Sen. Loe selalu ada dan bisa gue andelin," ucap Reno tulus, Mas Seno mengangguk lalu menjawab, "gue bisa sampai sejauh ini juga karena elu, Ren. Jadi sudah sepantasnya gue balas budi."
"Bukan gue, tapi Tuhan yang sudah merencanakan ini. Dia mempertemukan kita dan menjadikan kita yang awalnya hanya orang asing kini menjadi sahabat, dan kini kita menjadi keluarga," ujar Reno yang membuat Mas Seno terharu.
"Gue seneng dan bahagia punya teman temen kaya kalian, kalian tetap merengkuh gue walau keadaan dan status sosial gue jauh dari kalian," keduanya berpelukan, hingga seorang gadis masuk dan menjerit histeris.
"Kak Renooo!!!" Reno dan Mas Seno yang terkejut langsung melepas pelukan itu dan menoleh kearah sumber suara, "astaga, kalian," pria yang masuk bersama gadis tadi juga terkejut lalu menggeleng tak percaya sembari menepuk nepuk keningnya.
"Ini ngga seperti yang loe pikir, Ton!!" sentak Reno kesal, "emang gue mikir apa?" pria yang ternyata Anton berjalan mendekat lalu menghenyakkan bobotnya di kursi sofa sebelah Mas Seno.
"Ada apa jam segini udah nyampe sini?" kening Reno bertaut karena heran, sedang si Anton tersenyum lebar.
__ADS_1
"Gue ada rekom dokter operasi wajah terbaik, bisa di suruh ke kota ini tapi, ya ada biaya akomodasi yang tak sedikit," Anton menjawab, gadis yang datang bersama Anton hanya diam menyimak.
"Rumah juga ada, walau kecil tapi aman dan nyaman kok," Reno mengangguk mantap mendengar penjelasan Anton, "loe emank keren," entah itu pujian atau sindiran hanya Reno dan Anton beserta Tuhan yang tahu maksudnya.
Anton hanya memutar bola malas, kemudian kepala berputar kala ingat tadi masuk ke ruangan ini bersama gadis yang mengaku asisten pribadi Mas Seno.
"Hei, duduk sini," Anton menepuk sofa sebelahnya yang kosong, gadis itu menggeleng.
"Kalau dia marah, biar aku yang hadapi," kata Anton sambil menunjuk Reno dengan dagunya, sekali lagi gadis itu menggeleng.
"Oya, kamu boleh balik ke meja kamu," titah Mas Seno lembut, gadis itu mengangguk patuh, saat hampir sampai di depan pintu gadis itu memutar tubuh dan menatap Reno yang tengah menunduk menatap ponselnya dan mengetik nomer yang Anton berikan.
"Kak, keadaan kak Rara gimana, sehat. Ehmm, aku rindu dia, boleh ngga kalau kapan kapan kami bertemu?" tanya gadis yang tak lain adalah Ria, adik Ara.
"Terima kasih, calon kakak ipar!" seru Ria yang langsung berlari keluar karena rasa bahagia akan bertemu dengan kakaknya. Sedari kecil tinggal bersama dan beberapa minggu hanya berkirim pesan dan melakukan video call ternyata tidak mengobati rasa rindu di hatinya.
Anton yang mendengar Ria mengatakan 'calon kakak ipar' tercengang, mencoba meresapi apa maksud gadis itu ucapkan.
"Tunggu, jadi gadis yang jadi asisten pribadi loe itu adiknya si 'Kecil'?" tanya Anton ingin memastikan, 'Si Kecil' adalah julukan yang Anton berikan pada Ara.
__ADS_1
Kedua pria itu mengangguk sambil menyeringai, "kenapa? Takut sama kakaknya, atau terkena karma?" sindir Reno sambil tersenyum sinis.
Reno ingat, Anton selalu saja mengejek dirinya yang terlalu mencintai anak kecil, padahal umur mereka hanya terpaut beberapa tahun, tak sampai berpuluh puluh tahun bukan?
Anton cengegesan, kemudian meringis memperlihatkan barisan gigi giginya yang berwarna putih karena dirinya bukan pecandu rokok.
Seketika Anton ingat kemarin saat pertama kali dirinya kesini, Mas Seno mengatakan harus berhadapan dengan kakak gadis itu atau calon kakak ipar gadis itu, yang berarti harus berhadapan dengan Reno dan kekasihnya.
Anton juga tahu, walau kekasih Reno pendiam dan selalu merengut kesal tiap ia memanggil dengan panggilan 'anak kecil' atau 'si kecil' jika perempuan itu mau pasti menyuruh Reno memukulnya, akan tetapi perempuan itu hanya cemberut.
Ah, Anton punya ide agar pendekatannya dengan calon adik ipar Reno berjalan mulus, "oya, tadi nomer yang aku beri ngga gratis lho," Anton tersenyum miring, Reno yang mengerti jalan pikiran sahabatnya membalas senyum miring itu dengan seringai tipis.
"Ayolah, bantu gue deketin calon adik ipar loe itu," akhirnya Anton menyerah, percuma melawan pria sadis tapi berhati malaikat tersebut.
"Biar semua selesai dulu, baru loe bisa pdkt ama Ria," mas Seno menasehati, Anton menunduk pasrah.
"Oya, tadi sebelum gue kesini, gue lihat ayah cewek loe ke kampung yang tak jauh dari sini, dia naik motor cewek loe," Anton bercerita kala mengingat tadi bertemu Pak Gito tak jauh dari perusahaan Reno, kening Reno menghenyit heran.
"Mau apa dan mau kemana dia?" gumam Reno, "mana gue tahu!" ketus Anton yang langsung menjawab karena kesal.
__ADS_1
"Gue ngga tanya loe, gue tanya ama diri gue sendiri!" Reno balas ketus saat berkata, memang sebenarnya tadi pertanyaan itu dia lontarkan pada dirinya sendiri, akan tetapi dengan pede nya Anton menjawab seakan akan dirinya di tanya.
"Ow, gue kira loe ngomong sama gue," Anton terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, sedang Mas Seno menepuk kening melihat dan mendengar kelakuan serta ucapan absourd kedua sahabatnya itu.