
Terdengar sentakan nafas, pertanda orang itu kesal. Rara melirik Fajar yang tengah menatap dirinys penuh rasa kesal, "kalau teman kakak ngga mau, Ria bisa naik ojek online kok. Atau naik taksi online." Ria berujar, mungkin merasa tidak enak akan wajah Fajar yang terlihat tidak bersahabat.
"Tolong anter adik aku ya," Rara berbisik meminta tolong pada Fajar, tak urung Fajar mengangguk mengiyakan permintaan Rara, membuat perempuan itu melebarkan kedua sudut bibirnya dan menampilkan barisan giginya yang putih.
"Terima kasih," ucap Rara tulus, Fajar hanya mengangguk. Ponsel Rara bergetar, tadi saat masuk ke Rumah Sakit sengaja dia mode getar agar nanti nya tidak menganggu.
(Assalamualaikum, Ra. Sudah sampai di Rumah Sakit?) pesan yang masuk di aplikasi hijau milik Rara.
(Sudah, Kak.) pesan terkirim dan langsung centang biru, dan terdapat tulisan mengetik.
(Maaf tadi mau jemput ngga jadi, bunda minta tolong anterin kak Fandi ke rumah tante, pulangnya juga bebarengan jam kamu pulang) balasan dari kak Fandi. Rara tahu, pria itu pasti merasa tidak enak, padahal sebenarnya dia lupa jika tadi kak Fandi mengatakan akan menjemput dirinya.
__ADS_1
(Nggak apa-apa, Kak. Santai aja,) balasan dari Rara, perempuan itu menoleh kala poninya di usap pelan oleh Fajar.
"Dari siapa? Serius banget?" terdengar nada tidak suka di ucapan itu, Rara beralih menatap ayahnya yang juga tengah menatap dirinya.
(Tapi kak Fandi serius nggak enak sama kamu, seolah-olah kak Fandi cowok yang nggak bisa menepati janji.) tulis pesan yang masuk, Rara menyimpan kembali ponselnya setelah keluar dari chat di aplikasi hijau itu, tanpa membalas pesan kak Fandi yang barusan masuk. Lalu memasukkan kedalam tas slempang kesayangannya.
"Kak, ini nasi Padang nya buat kak Rara apa buat Ria?" Ria membereskan bekas makannya, lalu membuang ke tong sampah.
"Buat kamu saja," jawab Rara, perutnya masih kenyang setelah makan seporsi capcay kuah bersama Fajar tadi. Ria tersenyum bahagia, lumayan bisa buat nanti malam jika lapar tiba-tiba mendera, dan Rara tahu itu.
"Om, saya pulang dulu. Semoga lekas sembuh dan cepat pulih," Fajar mengambil tangan ayah Rara, mencium takzim lalu berpamitan. Ayah Rara hanya mengangguk karena terlihat sudah mengantuk.
__ADS_1
"Titip adik aku ya," Rara mengantar keduanya sampai di luar ruang rawat sang ayah, Fajar mengangguk.
"Kalau ada apa-apa, kabari aku ya," pipi Rara memerah seketika, tangan Fajar menyapa pipinya yang putih bersih itu. Fajar yang terkekeh melihat ekpresi wajah Rara. Mereka pun bergegas meninggalkan Rara.
Rara segera mengganti pakaian kerja yang dia kenakan dengan pakaian biasa, dia selalu membawa baju ganti jika membawakan ayahnya serta. Rara memutuskan mandi walau air dingin tapi tidak apa, dari pada merasakan tubuhnya lengket. Rara selalu mengunci pintu ruang rawat sang ayah, takut sesuatu terjadi saat dia tidak bersama ayahnya.
Tidak terasa waktu sudah pagi, sang ayah memanggil Rara yang hari ini terlihat sangat pulas dan nyenyak. Rara terkejut karena ada yang menepuk pundaknya pelan, Rara mengucek matanya pelan, mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih berada di alam mimpi.
"Sus," Rara menyapa sang suster yang bertugas mengantar jatah makan pagi, "itu mbak, ayahnya dari tadi manggil-manggil tapi mbak Rara terlalu pules. Capek banget ya?" Rara tersenyum malu dan canggung, tak urung mengangguk juga.
"Terima kasih ya, Sus," ucap Rara begitu si suster hendak keluar, "oya mbak, makanan ayahnya di habisin. Bukannya besok operasi dan harus puasa lho," suster itu mengingat kan Rara.
__ADS_1
Terkadang Rara merasa beruntung dengan keadaan sekitarnya yang peka akan kebutuhannya, tetapi terkadang ada rasa kesal jika ada yang terlalu peka akan perasaan dan keadaan dirinya.
Huaaa, aku terharu, masih ada yang baca karya ecek-ecek kaya gini, huhuhu. Pokoknya kalian yang masih setia membaca karya ga ecek-ecek ini saya ucapin banyak-banyak terima kasih, sayang kalian. Sehat selalu