
Reno keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk dari pinggang kebawah, Rara hanya menunduk tidak berani melihat itu.
"Ra," panggil Reno, "i-iya?" tanya Rara gugup dan masih belum berani melihat Reno. Tangannya masih sibuk menyisir rambutnya yang sudah sedikit kering.
"Apa kau bisa memilih pakaian untukku?" tanya Reno yang saat Rara melirik dan ternyata Reno sedang berdiri di depan almari pakaian nya. "Terserah mau yang mana, asal warnanya sesuai dengan yang kau pakai," Rara mengangguk lalu melangkah menuju almari pakaian Reno.
"Pakaian nya begini banyak, mana yang harus ku pilih," gumam Rara malah terpekur di depan tumpukan baju milik Reno itu. Perlahan tangannya bergerak memilih mana yang menurutnya bagus. Kebanyakan warna adalah biru muda.
Kaos berlengan panjang berwarna putih, dan celana jeans menjadi pilihan Rara, kemudian dia angsurkan pakaian tersebut pada Reno
"Kalau kau mau di dapur ada cokelat, kau bisa membuatnya," Rara menoleh lalu mengangguk dan menjawab, "iya," kemudian melangkah keluar kamar menuju dapur. Netra Rara menelisik sekitar, memandang dan menghafalkan letak-letak kamar dan ruangan. Berjaga-jaga jika dia di sini dan tersesat.
Rara terpesona pada tata penyusunan perabotan dan semua yang ada di dapur Reno. Rara membuka setiap toples dan akhirnya menemukan cokelat bubuk, dengan segera Rara mengambil cangkir mengisinya dengan cokelat bubuk itu dan sedikit gula, lalu menuangkan air panas yang sebelumnya telah dia rebus terlebih dahulu.
Aroma cokelat yang wangi menguar di saat Rara mengaduknya, "kenapa tidak kau beri air dingin sedikit? Kalau begitu kamu harus menunggu agak lama agar cokelat nya dingin dulu baru bisa di minum," ujar Reno yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rara, beruntung Rara meletakkan cangkir itu jadi tidak jatuh dan pecah karena terkejut.
"Apa kau suka bikin orang jantungan?" ketus Rara kesal, pasti selalu saja Reno muncul tiba-tiba, bukannya marah Reno malah terkekeh, menarik kepala Rara dan mengecup sebentar.
"Minum cokelatmu dulu, habis ini kerumah Oma, ya?" Reno melenggang meninggalkan Rara yang masih sibuk meniup dan sesekali menyeruput minuman cokelatnya.
Beberapa menit cokelat milik Rara tinggal setengah, dan pikirannya sedikit rileks. Rara kembali terkejut kala kepala belakang nya di kecup Reno, dan dengan santai Reno meraih cangkir itu dan menandaskan minuman cokelat nya.
"Nanti bawa semua cokelat bubuknya, biar bisa di bikin di rumah," ucap Reno saat Rara ingin protes, Rara mendengus sebal lalu berdiri.
"Tidak usah di cuci," tegur Reno saat melihat Rara membawa cangkirnya ke wastafel, "kenapa?" Rara menoleh.
"Ada asisten rumah tangga, dan itu tugasnya," sahut Reno, "jika kau nekat mencucinya aku akan menciummu seperti tadi!" Rara yang mendengar ancaman itu segera meletakkan cangkir itu dan memutar tubuhnya, Reno tersenyum penuh kemenangan.
"K-ki-kita berangkat sekarang?" Rara gugup bukan main membayangkan Reno akan kembali mencium dan menjamah bibirnya, Reno mengangguk lalu mengulurkan tangan lalu di sambut Rara.
"Duduk," titah Reno, Rara hanya menurut. Reno melangkah ke depan pintu mengambil kardus sepatu, lalu memasangkan di kaki Rara.
"Suka?" pandangan Reno beralih ke wajah Rara dan sepatu itu, Rara mengangguk cepat.
"Ayo," Rara berdiri setelah di tolong Reno, dan Reno memakai sepatu kets berwarna putih yang berada di dekat pintu masuk. Rara mulai paham kebiasaan Reno, pria itu selalu melepas dan meletakkan sepatu atau pun sandalnya yang habis dia pakai di rak sepatu di samping pintu.
__ADS_1
Rara dan Reno melangkah menuju parkiran, satpam penjaga lantai itu kembali menyapa Rara dan Reno, namun Reno kembali tidak memperdulikan, hanya Rara yang melempar senyum balasan pada satpam tersebut.
Suasana masih sore, akan tetapi jalanan sudah padat merayap. Rara menoleh lalu bertanya, "aku begini saja nggak papa?" dalam arti tidak memakai hiasan mencolok, hanya memakai pelembab wajah dan memakai bedak tipis tipis. Bibirnya dia olesi lipbalm, dan mungkin sudah hilang saat dia minum cokelat tadi.
Ternyata peralatan make up si mbak mbak yang merias Rara dulu di tinggal, jadi Rara menggunakannya. Lagi pula kata si mbaknya itu baru sekali di pakainya.
"Memang kamu mau pakai apa?" Reno menoleh sebentar, lalu fokus ke depan lagi.
"Kalau jalannya seperti siput begini, bakalan malam sampainya," gerutu Reno yang terdengar oleh Rara.
"Ra," Reno memanggil Rara tanpa menoleh, Rara hanya melirik sebentar. "Tolong ambilin barangku di laci itu dong," pinta Reno, dan Rara mengangguk.
Tangannya membuka laci mobil dan mendapati kotak perhiasan, tangan Rara mengeluarkan kotak itu dan mencari barang yang di cari Reno.
"Nggak ada apapun di sini, yakin naruh barangnya di sini," tanya Rara meyakinkan, sudah mencari tapi tidak juga menemukannya.
"Ada, coba kau buka kotak itu," kata Reno sambil menunjuk kotak perhiasan yang telah pindah kepangkuan Rara karena dia sedang mencari barang yang Reno butuhkan. Rara menurut, saat membukanya Rara terkejut bukan main.
Ada kalung berbandul hati, bermotif sederhana namun Rara yakin itu mahal harganya. Ada sepasang anting juga, agak panjang modelnya tapi jika di pakai cocok dengan gaun yang dia kenakan.
Reno menghentikan laju mobilnya saat di lampu merah, mengambil kalung itu dan menyuruh Rara mendekat, Rara menurut.
Reno mengambil anting itu dan kembali memasangkan di cuping Rara, "maaf kalau sakit," bisik Reno yang mampu membuat bulu kuduk Rara merinding.
"Sudah," kata Reno tidak lupa menghadiahi kecupan pada pipi Rara, kemudian Reno menjalankan kembali mobilnya karena lampu sudah berubah warna hijau.
Dalam perjalanan itu hanya ada kesunyian, hanya kadang terdengar umpat kecil yang keluar dari bibir Reno karena macet dan terkadang ada motor yang mendahului hingga membuat Reno menginjak rem mendadak.
Mobil Reno berhenti di depan rumah berpagar besi, tidak terlalu tinggi. Rara baru sadar ini di daerah perumahan elit dan dekat dengan rumah Reno, namun hanya rumah ini yang terlihat sederhana. Rara tahu karena saat pulang mereka melewati daerah ini.
Penjaga pintu datang dengan tergopoh-gopoh dan segera membuka pagar itu, mobil Reno segera masuk dan di parkirkan tidak jauh dari pintu masuk. Rumah ini bisa di bilang jauh dari mewah, namun banyak tanaman dan bunga di sebelah kanan rumah ini membuat nyaman dan sejuk kala siang hari.
"Tuan," sapa seorang asisten rumah tangga saat pintu terbuka, Reno hanya diam tidak membalas sapaan art tersebut. Dengan langkah angkuh, Reno berjalan dengan menautkan jemarinya dengan jemari Rara.
Sang art tersebut menuntun Reno menuju ruang tamu, di sana ada wanita paruh baya yang mengenakan gamis berwarna cokelat muda dan hijab segitiga berwarna putih sedang bercengkrama dengan anak kecil sekitar berumur dua atau tiga tahun.
__ADS_1
"Oma," panggil Reno pada wanita paruh baya itu, wanita yang di panggil oma menoleh lalu tersenyum. Lalu berdiri dan menggandeng anak kecil itu. Dengan segera Rara meraih tangan Oma dan menciumnya takzim.
"Kenapa dia di sini?" tanya Reno ketus, Rara menautkan kedua keningnya heran. Sama anak kecil dia tidak bisa sopan, bagaimana jika kelak dia punya anak. Apa jangan-jangan itu alasan sampai sekarang Reno melajang dan tidak mau memiliki pacar, batin Rara berbicara.
"No, dia itu juga cucu oma!" ketus Oma sambil menatap tidak suka pada Reno, tatapan Oma Reno beralih pada Rara.
"Ini...." Reno mengangguk sebelum Oma nya melanjutkan ucapannya, "Ara," Oma Reno segera memeluk Rara dengan sayang, hati Rara menghangat. Seumur hidup dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang nenek, ayah dan bundanya hanya hidup berdua hanya itu yang Rara tahu. Punya atau tidak nenek dan kakek Rara tidak tahu.
Dan lagi, pikiran Rara terarah pada panggilan Oma Reno padanya, Ara. Sama seperti Reno memanggil dirinya.
"Salim sama kakak cantik dulu," titah Oma Reno pada anak kecil itu, Rara refleks berjongkok dan mensejajarkan tinggi badannya dengan anak itu. Menyambut tangan mungil itu lalu mencium gemas seluruh wajah anak kecil itu. Sesaat Rara tertegun, wajah anak itu mirip dengan Fajar. Akan tetapi anak kecil itu memiliki manik mata hitam, sedang milik Fajar berwarna cokelat gelap.
"Dia Adit, adik sepupu Reno," Oma menjelaskan, Rara mendongak lalu tersenyum akan ucapan yang Oma Reno lontarkan.
"Sepertinya sepupumu itu terlalu sibuk menekuni usahanya," ujar Oma Reno sambil menatap Reno yang tengah duduk dan menopang kaki kirinya.
Seorang art muda datang membawakan tiga cangkir teh dan meletakkan di meja, "silahkan tuan," katanya dengan di iringi senyum.
"Buatkan cokelat hangat!" kata Reno pada art itu tanpa memandangnya sama sekali. Art itu mengangguk dan berlalu dari sana.
"Biarkan saja, dia masih muda jadi harus rajin bekerja. Apalagi dia pria, jadi kelak dia harus tanggung jawab untuk membiayai istri dan keluarganya," sahut Reno ketus. Oma Reno hanya menggeleng.
"Apa caranya dia berbicara padamu seperti itu?" tanya Oma Reno pada Rara, "jangan kaget, dia memang ketus dan cuek tapi dia baik kaya omanya," celetuk oma Reno lalu tertawa.
"Bukannya Reno seperti ini juga turunan, Oma?" ketus Reno, dalam hati Rara membenarkan. Tadi saja saat mereka berbicara seperti tidak ada ramah-ramahnya.
"Assalamualaikum," terdengar salam dari arah pintu, "Waalaikum salam," jawab Reno dan Oma nya, Rara tertegun mendengar Reno menjawab salam tersebut.
Muncul pria paruh baya dengan memakai baju koko dan memakai sarung, di kepalanya bertengger peci hitam. Reno berdiri lalu memeluk pria itu, kemudian melambai memanggil Rara.
"Dia opaku," Rara mengambil tangan opa Reno lalu menciumnya takzim. Rara akui, walau sudah memiliki cucu seumuran Reno, akan tetapi wajahnya masih tampan dan segar. Rara menyimpulkan keawetan wajah Reno dan ayahnya Reno turun dari kakeknya ini.
"Sudah lama?" tanya opa Reno yang di balas anggukan oleh Reno. Kemudian mereka duduk di ruang tamu dan berbicara panjang lebar, Rara merasa nyaman dengan kedekatan dan keakraban keluarga ini. Mereka melaksanakan shalat Isya bersama, Rara yang masih buta akan hal seperti itu hanya mengikuti.
Art sekitar berusia 50tahun datang dan memberitahukan bahwa makan malam sudah siap, mereka pun menuju ruang makan. Dan di meja makan itu terhidang berbagai menu yang mengguggah selera makan Rara.
__ADS_1
"Makan seperti biasa, tidak usah malu," kata Reno yang malah membuat Rara malu.
Rara mengambil sedikit makanan namun Reno malah menambahinya, "aku tidak suka kamu diet-dietan, kalau jadi gendut biar saja. Biar tidak ada yang suka sama kamu, cukup aku yang mencintaimu," tangan kiri Rara meremas garpu gemas. Bisa-bisanya Reno menggombal di depan Oma dan Opanya.