
"Ada apa, Ma?" Sera bertanya dengan nada malas lalu menarik tangan Rendra agar duduk di sampingnya kemudian melirik Diva yang duduk tak jauh dari mamanya. Nadin melirik sang suami yang terlihat cuek dan tak mau tahu, kemudian Nadin mendengus kesal.
"Kalau hanya untuk membahas kuliah Sera ke luar negeri atau ke luar kota, Sera nggak mau. Sera mau kuliah di sini saja, lagipula di sini banyak universitas yang kualitasnya bagus bagus, iya 'kan, Pa?" Sera menoleh dan meminta dukungan sang papa.
Iwan, ayah dari Sera hanya menaik turunkan kedua alisnya tanpa menjawab, Sera mendesah lelah dengan perilaku keluarga nya. Tidak mamanya, tidak papanya, mereka seakan tidak perduli lagi dengan dirinya semenjak si kecil Diva datang dan lahir ke dunia.
Hanya Rendra dan kakeknya saja yang perduli dan perhatian padanya, dan kini perhatian Rendra juga harus terbagi dengan perempuan yang ia panggil adik.
Rendra menatap iba sang kakak perempuan, ini adalah sebab dirinya perduli pada wanita yang berusia berjarak lebih 5 tahun darinya itu. Rendra tersenyum kala melihat Diva tengah asyik menggambar, tiba-tiba Rendra ingat gadis pemilik manik mata amber tersebut.
"Gadis galak, apa kabarmu," gumamnya lirih lalu menggeleng, kemudian Rendra hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara kakak dan mamanya, ia dan Diva hanya menyimak, sedang Iwan sang ayah tidak mau ikut campur.
***
__ADS_1
"Denok, aku minta uang dong," Pak Gito mengulurkan tangan lalu menengadah, Tante Denok yang sedang memakai masker wajah hanya diam. Ada rasa menyesal telah menikah dengan lelaki macam Pak Gito, tampan dan perkasa iya, tapi tidak mau memberi nafkah lahir, hanya bisa meminta lalu menghabiskan uang itu.
"Bukannya ngasih uang malah diam aja, percuma aku nikah sama kamu. Nyesel aku thu menuruti Dita yang memaksa aku buat nikah sama kamu!" ketus Pak Gito karena jengkel, bayangan tentang masalalu kembali teringat dan membuat ia harus mengumpat dan memaki adiknya tersebut.
Flashback on.
Setelah meminta uang pada Dita dan adiknya itu memberi janji nanti, akhirnya Pak Gito pergi kerumah temannya untuk meminjam uang dan berjanji akan mengembalikan nanti saat adiknya sudah memberinya uang tersebut.
Walau tak rela, tetap saja teman Pak Gito memberinya pinjaman, setelah mendapat uang itu, Pak Gito pergi berjudi, kebiasaan yang susah lelaki itu hilangkan sejak masih muda. Sejak menikah dengan bundanya Ara sebenarnya penyakit judinya itu sudah berkurang, bundanya Ara sering mengancam akan meninggalkan Pak Gito jika masih saja berjudi.
Hari itu sepertinya kesialan datang pada Pak Gito, dia kalah bandar, uangnya habis untuk bertaruh. Dengan wajah marah dan kesal akhirnya Pak Gito pulang dan menagih uang seperti yang adiknya janjikan.
"Minum dulu kopinya, bentar aku ambil uang yang kamu minta dulu. Kebetulan aku udah ada," kata Dita sambil menyodorkan kopi yang sudah hangat, mungkin sudah dari tadi atau memang Dita membuat untuk dirinya sendiri dan kebetulan ia datang jadi kopi itu ia berikan pada Pak Gito.
__ADS_1
Tanpa merasa curiga, Pak Gito menengak kopi itu sedikit demi sedikit hingga habis, Dita keluar membawa beberapa lembar uang kertas berwarna merah lalu menaruh nya di atas meja.
"Nih, uang yang aku janjikan," kata Dita yang tanpa ekpresi, pak Gito tersenyum senang melihat uang itu. Dan tiba-tiba tubuhnya terasa panas, "mas aku mau keluar dulu, kamu baik baik di rumah," Dita bangkit dari duduknya lalu kembali ke kamar dan keluar lagi membawa tas tangannya.
"Hati hati, cepat pulang," Pak Gito menyahut tapi sepertinya Dita tak mendengarkan ucapannya, tiba-tiba tubuh Pak Gito makin terasa panas.
"Dit, Dita," suara perempuan memanggil nama adiknya dari luar, Pak Gito berdiri lalu menyeret langkah menghampiri orang yang mencari adiknya yang baru saja datang.
Gleekkk, Pak Gito menelan ludah perlahan, netranya mendelik menatap penampilan sosok wanita yang berdiri di ambang pintu rumahnya, "eh, mas Gito, Dita nya ada?" tanya wanita itu, lama Pak Gito diam menatap lekat wanita itu.
Wanita yang umurnya lebih tua 5 tahun dari dirinya namun tidak terlihat tua, mungkin karena perawatannya yang mahal. Dengan bibir berwarna merah menyala, dan dress yang membungkus tubuh sintal itu membuat Pak Gito tidak bergerak.
"Mas Gito kenapa?" wanita itu maju dan menyentuh kening Pak Gito, hanya dengan sentuhan di kening, tiba-tiba hasrat lelakinya tumbuh. Pak Gito berjalan cepat kearah pintu lalu menguncinya dan mengantongi kunci itu.
__ADS_1
"Bantu saya," kata Pak Gito, kening wanita itu mengkerut heran, "kata Dita kamu cinta sama saya dan akan melakukan apapun untuk saya," sambung Pak Gito yang langsung di angguki wanita itu.
"Serius?" wanita itu mengangguk mantap sebagai jawaban, Pak Gito kemudian menyeringai puas dengan jawaban wanita yang kata adiknya tergila gila padanya