Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 53


__ADS_3

"Jangan pernah menyakiti orang yang saya sayang, atau hidupmu akan hancur!" desis Reno menatap murka Dion.


Bukannya takut, Dino tertawa terbahak dan menatap remeh akan ancaman Reno, "kau itu sudah tua, bisa apa kau?" ucap Dion terdengar meremehkan. Reno menyeringai mendengar cemoohan pemuda di depannya.


"Mas, sudah ayo kita pergi dari sini," Rara membujuk Reno agar tidak terjadi pertikaian, "jika kau melangkah dari sini, berarti kau banci," lagi ucapan Dion membuat orang yang mendengarnya naik darah. Rara melepas tautan jemari itu dan melangkah maju, lalu mendorong tubuh Dion.


"Kenapa kau suka sekali membuat keributan, hah? Bangga di juluki 'Si Pembuat Onar'?" ucap Rara sarkas sambil menuding dada Dion.


"Ra, aku hanya nggak suka kamu jalan sama cowok lain," suara Dion sangat lembut, tangannya hendak meraih jemari Rara namun dengan cepat dia tepis.


"Dia bukan orang lain tapi dia pacar ku!" Rara berteriak marah, tangannya menunjuk Reno dan dirinya.


"Tapi kamu calon istriku, Ra!!" Dion balas berteriak, Rara tersentak kala Reno menarik tangannya dan menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuhnya yang kekar.


"Bukan begitu cara berbicara dengan wanita, Bung!" tegur Reno.


"Bukan urusan loe, loe hanya orang luar yang masuk dan merecoki hubungan kami. Apa kau tahu kami sudah di jodohkan, dan berarti sebentar lagi Rara akan menjadi milik gue," desis Dion yang kemudian diiringi gelak tawa.


"Sudah ayo kita pergi saja dari sini," Rara berbisik setelah Reno mencondongkan tubuhnya karena Rara menarik narik kemejanya. Reno mengangguk.

__ADS_1


"Ra, ayo aku anter ke kamar ayah kamu. Di sana ayahku juga sudah ada," Dion mengulurkan tangan berharap Rara akan ikut dengan dirinya, namun Rara hanya menggeleng dan mengalungkan tangannya pada lengan Reno dan menariknya pergi dari sana.


"Ra!!" Dion berteriak memanggil Rara namun tidak di perdulikan Rara, kesal rasanya ada orang sok jago di hadapannya.


"Terima kasih mbak pacar," ucap Reno sambil mengecup kepala Rara, "buat?" Rara mendongak dan menatap mata Reno yang kini berubah menjadi teduh, berbeda tadi saat menatap Dion. Dan kini Rara harus terbiasa akan kelakuan Reno yang suka mencium kepalanya seenaknya, asal bukan bibirnya. Cukup tadi karena terpaksa dan tidak di sengaja.


Mengingat itu wajah Rara berubah menjadi merah, membayangkan bibir tebal Reno bersentuhan langsung dengan bibirnya. Apa ini rasanya berpacaran, bergandengan, berciuman, dan ah mereka belum berpelukan. Pelukan itu terjadi karena Reno ingin menenangkan dirinya bukan karena rasa yang lain, tapi Rara merasa nyaman.


Di dalam minimarket tersebut Rara memilih beberapa camilan, sedang Reno hanya mengekor.


"Ra," panggil Reno pada Rara yang masih berjalan memilih pilih apa yang ingin dia beli.


"Bagus, karena saya tahu kamu itu pelupa, jadi harus di ingatkan," celetuk Reno yang membuat Rara mendelik lalu mencubit perut Reno, "sok tahu!" jawabnya ketus.


"Bukan sok tahu, tapi kenyataan, apalagi yang menurut kamu nggak penting," balas Reno yang kemudian berjalan mendahului melewati Rara dan melangkah menuju lemari es krim.


"Dari mana dia tahu aku pelupa?" gumam Rara lirih, netranya menyoroti sosok Reno. Masih berusaha berpikir apa dia mengenal atau tidak. Namun hasilnya dia tidak mengingat sosok Reno tersebut.


"Mau yang mana?" Reno memegang lalu menunjukkan beberapa model es krim rasa strawberry kesukaan Rara, lagi di mengernyit heran, dari mana pria ini tahu semua tentang dirinya?

__ADS_1


"Apa kau selalu menguntit diriku?" Rara bertanya dengan berbisik, netranya sesekali memandang sekitar.


"Oya nanti aku tinggal bentar nggak papa?" lagi bukannya menjawab Reno malah balik bertanya. Kini mereka berada di depan kasir, dan Reno menyerahkan dua lembar kertas berwarna merah, lalu menerima kantong plastik berisi jajanan Rara.a


"Mau kemana?" Rara tanpa sadar menggigit es krim yang di sodorkan Reno di depan mulutnya, "mau shalat Jumat 'lah," sahut Reno yang menggigit es krim itu lalu menyodorkan kembali pada Rara. Perempuan itu hanya mengangguk. Kini mereka sudah berada di luar minimarket tersebut.


"Aku pikir kamu non muslim," Rara berucap, sedang Reno malah menarik Rara kedalam dekapannya. Benar-benar Rara harus terbiasa dengan kelakuan pria satu ini.


"Aku memang muslim, tapi masih bolong bolong ibadahnya. Dan aku berharap kelak kita beribadah bersama sama dan saling mengingatkan," Rara mendongak menatap Reno, "maksudnya gimana?" tanyanya bingung.


Cup, Reno malah mengecup kening Rara. Kemudian mengajaknya kembali ke Rumah Sakit. Sesampainya di depan ruang rawat ayah Rara, di sana Reno dan Rara melihat para pria berdiri. Kak Fandi, Fajar, Dion dan Mas Seno.


"Ngapain mereka di sana?" Reno terkekeh mendengar pertanyaan Rara, "nungguin kamu lah, kecuali Seno," jawab Reno yang di angguki Rara.


"Ternyata kalian pergi berdua?" Kak Fandi merangsek maju, menatap sengit pada Reno.


"Masuk sana, bilang adikmu makanan adanya ini. Kalau mau nanti habis Jumatan aku beliin," titah Reno dengan berbisik, Rara mengangguk dan tidak lupa Reno mengecup kepala Rara.


"Heii!!!" sentak Kak Fandi, Fajar dan Dion bersamaan, lalu mereka bertiga menunduk saat Rara melotot pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2