Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 115


__ADS_3

"Jangan marahi Ara, Nek. Walau dia galak, aku sayang dan cinta sama dia," ucap Reno memelas saat nenek Ara mendelik menatap wajah cucunya, sedang perempuan yang Reno lindungi malah nyengir tanpa rasa bersalah.


"Hmm," hanya gumaman yang keluar dari mulut sang nenek, kemudian nenek kembali duduk di dekat Tante Rina, netra tuanya mengerling dan berkedip sebelah pada Ara saat Reno tak melihat mereka.


Tante Rina mencebik, ternyata ini siasat mereka yang membuat agar Reno tunduk. Walau senang ada pria yang begitu tulus mencintai keponakan tercintanya, Tante Rina tetap khawatir kalau ada apa apa dengan Ara.


"Ra," pintu terbuka menampakkan sosok pria yang menurut Ara orang munafik, siapa lagi jika bukan Pak Gito.


"Nak Fandi telepon ayah, katanya hari ini kamu sudah bisa pulang, apa benar?" Pak Gito mendekat dan bertanya, pandangan matanya hanya melihat keberadaan Ara.

__ADS_1


"Iya, hari ini dia sudah boleh pulang. Tapi nanti Ara tinggal sama kami," Tante Rina yang menjawab, "kok bisa, kan harusnya dia pulang kerumah ku?" tanya kaget Pak Gito yang tak sadar meninggikan suara, Reno melirik tak suka pada Pak Gito.


"Kan dia anak kak Rani, sekaligus keponakan aku. Dan kami sudah berpisah sekian puluh tahun, dan karena kami sudah bertemu, maka kami ingin Ara tinggal bersama kami. Iyakan, Ra, Bu?" Tante Rina menatap ibu dan keponakan nya bergantian, kedua wanita berbeda usia itu mengangguk.


"Tapi dia anakku, Rin," protes Pak Gito yang tak terima jika Ara memilih tinggal bersama keluarga kandungnya, jika seperti itu terjadi, maka harapannya untuk menikahkan Ara dengan Fandi atau Dion akan terancam batal dan uang yang sudah ia pakai pasti akan mereka minta, dan dari mana ia bisa mengembalikan uang itu, gumam Pak Gito dalam hati.


"Iya dia anakmu, tapi bukan anak kandung, Massss," tante Rina berujar dengan nada gemas, nenek Ara mengusap lembut punggung putrinya, mencoba menghalau rasa kesal yang putrinya rasakan.


"Dia kan kerja, Yah," Ara berusaha menahan amarahnya, walau bukan satu ayah dengan Ria, namun Ara tak terima jika ada yang menjelek jelekkan adik satu ibunya tersebut.

__ADS_1


"Halah kerja apa, kan bisa setelah kerja lalu pulang. Ini punya rumah tapi malah nginep di rumah lelaki," imbuh Pak Gito terdengar mencibir, "tenang saja, Pak. Pria itu baik kok, nggak mungkin menjual adik Ara," Reno yang ikut kesal ikut bersuara, Pak Gito mencebik kesal mendengar perkataan Reno yang terdengar seperti menyindir dirinya.


"Siapa juga yang mau menjual anak saya," sahutnya Pak Gito tak mau kalah, "hahahahaha," Reno tergelak sampai bahunya terguncang, Ara mencubit punggung tangan Reno menyuruhnya untuk berhenti tertawa.


"Memang saya menyebut nama anda, memang saya menuduh anda menjual putri anda, tidak bukan?" tanya Reno sarkastik, Pak Gito diam seperti kehilangan kata kata, benar tadi lelaki itu tidak menyebutkan jika dirinya telah menjual anaknya, tapi mendengar tidak akan menjualnya membuat Pak Gito tersinggung dan refleks membalas berkata demikian.


"Sekarang di mana anak itu?" Pak Gito bertanya keberadaan Ria sebagai pengalih rasa kesalnya pada Reno, "kan sudah Ara bilang, adiknya kerja," geram Reno, "memang saya bertanya padamu?" Pak Gito bertanya sembari mencebik kan bibirnya.


Reno tersenyum miring dan menggeleng gelengkan kepalanya heran saat mendengar jawaban Pak Gito, "untung loe ayah adik calon Istri gue, kalau nggak habis loe," gumam Reno lirih yang hanya bisa di dengar Ara dan Tuhan saja.

__ADS_1


"Kamu telepon adik kamu suruh pulang ya, kasihan ayah nggak ada temannya di rumah," Pak Gito merayu Ara, Pak Gito belum tahu jika Ara sudah mengetahui kebusukannya.


"Jauh yah, kalau dari rumah ke tempat kerja Ria yang baru," Ara menolak halus perintah Pak Gito, yang sukses membuat Reno tersenyum bahagia, sedang Pak Gito tersenyum masam.


__ADS_2