Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 81


__ADS_3

"Pagi," Ara dan mbak Siti menoleh mencari sumber suara, "pagi juga, Mas Fajar," sapa balik mbak Siti.


"Pagi, Jar?" Ara juga membalas sapaan dari pria yang tengah berdiri di depan meja kasir, mbak Siti juga duduk di sebelahnya.


"Kok kamu kenal sama Fajar, Mbak?" kening Ara bertaut menjadi satu, mbak Siti tersenyum sambil memandang wajah pria tampan yang kini berdiri di hadapannya dan pria itu sedang menatap lekat wajah Ara, padahal Ara sedang menatap mbak Siti meminta penjelasan.


"Dia 'kan adik sepupu Tuan Reno," jawab mbak Siti yang langsung membuat Ara mendelik dan beralih menatap Fajar.


Ingatannya kembali kala dulu dia di rumah sakit ketika menunggu sang ayah, dan saat Fajar berhadapan dengan Reno, pria ini memanggil dengan panggilan 'Abang', dan saat itu dia tidak menyadari itu semua. Dan anak kecil yang sering dia lihat saat bermain di rumah Oma Reno, wajahnya hampir mirip dengan Fajar.


Dan bodohnya Ara tidak berpikir kesana, dia hanya berpikir kebetulan. Dan ternyata mereka adalah kakak adik kandung. Ara memijit pelan ujung hidungnya, kepalanya menggeleng pelan. Ternyata dunia itu sempit.


"Usaha kamu kian maju ya, Ra," netra Fajar menelisik pemandangan resto pusat milik Ara, "iya, ini juga berkat bantuan kakak keponakan kamu," Ara tersenyum kala mengingat perjuangan pria itu membujuk dan memberinya uang pinjaman.


"Dia memang dari dulu hebat, dia juga setia," kata Fajar sambil tersenyum kecut, "oya, kamu sudah pernah kerumah Oma?" Ara mengangguk menanggapi pertanyaan Fajar, hatinya kini gelisah dan ada rasa tidak nyaman jika Reno memergoki dirinya tengah berbicara dengan seorang pria lalu kekasihnya itu marah. Entah kenapa sekarang Ara tidak nyaman berdekatan dengan Fajar.

__ADS_1


Mbak Siti yang melihat perubahan wajah Ara segera menginterupsi, "oya, Mas mau pesan apa, biar saya catat," Fajar menoleh lalu mengangguk, lalu melangkah menuju kursi yang tak jauh dari meja kasir. Mbak Siti pun mengikuti langkah sepupu Reno, dalam hati mbak Siti menebak jika Fajar juga menyukai Ara, betapa beruntungnya Ara karena begitu banyak yang menyayangi dirinya, begitu monolog hati mbak Siti.


"Ini buku menunya," mbak Siti meletakkan buku menu di meja di depan Fajar duduk, Fajar mengangguk dan memulai membuka buku menu tersebut.


Fajar tahu, Rara sangat suka memasak dan apapun yang wanita itu masak pasti rasanya enak. Tak heran jika kakak sepupunya memberi modal dan dengan cepat usaha resto ini berkembang.


"Nasi goreng spesial dan minumnya es lemon tea saja," Fajar kemudian menutup buku menu setelah mengatakan pesanannya dan mbak Siti pun mencatatnya.


"Tunggu sebentar ya, Mas," pamit mbak Siti, Fajar mengangguk dan netranya kembali menatap wajah Ara yang sedang menatap ponsel, 'ah, pasti sedang berkirim pesan dengan bang Reno' batin Fajar berbicara.


"Padahal aku lebih dulu bertemu, mengenal dan mengutarakan isi hatiku, Ra. Tapi kenapa kau malah memilih cinta abangku?" lirih Fajar sendu. Setahu Fajar, Ara atau Rara baru bertemu dengan Reno, abangnya sepupunya beberapa bulan kemarin. Kenyataannya, mereka sudah bertemu belasan tahun lalu. Fajar mendesah pelan, dulu saat mengutarakan perasaannya pada Ara atau Rara, wanita itu meminta waktu, dan ini jawaban atas pernyataan cintanya dulu.


"Ini mas pesanan nya, Mas," seorang wanita memakai seragam bertulisan 'RA' dan memakai celana panjang berbahan jeans dan memakai sepatu cats meletakkan sepiring nasi goreng yang di beri toping telur mata sapi, dan di dalam nasi goreng tersebut ada telur yang di orak arik dan ada sosis sebagai pelengkapnya dan segelas teh yang di beri irisan jeruk.


Fajar tersenyum melihat minuman tersebut, kemudian tangannya mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Walau bukan kau yang masak, pasti bumbu yang mereka gunakan adalah racikanmu," gumam Fajar yang kembali menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya hingga tandas dan meminum es lemon tea juga hingga tandas.


Tangan Fajar terulur mengambil tissu lalu mengelap mulutnya yang basah terkena minyak dan minuman nya. Setelah membayar, Fajar berpamitan untuk kembali ke minimarket.


"Salam buat semua ya, Jar," ucap Ara ramah, Fajar mengangguk dan melempar senyum.


"Akan aku sampaikan," balas Fajar yang kemudian melangkah pergi setelah berpamitan dan Ara serta mbak Siti mengangguk.


"Mbak Ara kenal mas Fajar di mana?" mbak Siti yang sudah duduk kembali di samping Ara, wanita itu menoleh kearah mbak Siti.


"Dia teman kerjaku di minimarket, mbak Siti lihat minimarket sebelah kiri sebelum berangkat tadi?" tanya Ara sambil memiringkan kepalanya, mbak Siti mengangguk kala mengingat letak minimarket yang Ara maksud.


"Nah, di situ dulu aku bekerja," kening mbak Siti mengkerut, "minimarket KITA itu?" Ara mengangguk menanggapi pertanyaan mbak Siti.


"Haduh mbak, itu mah, memang milik Mas Fajar," celetuk mbak Siti yang membuat Ara sontak terkejut dan membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2